Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2021

Fenomena Blue Moon : Proses Terjadinya – Waktu – Fenomena

blue moonSekalipun namanya demikian (Bulan Biru), tetapi hal tersebut tidak ada keterkaitannya dengan warna dari keadaan bulan tersebut. Walaupun secara literal, bisa saja terjadi saat bulan tampakberwarna biru, tergantung dari situasi atmosfer pada ketika itu. Misalnya terjadi letusan vulkanis yang meninggalkan partikel di atmosfer yang mengakibatkannya berwarna kebiruan.


Nama tersebut bahu-membahu merujuk terhadap bulan purnama perhiasan, dimana dalam setahun yang umumnya hanya mengalami 12 kali bulan purnama. Istilah “blue moon” ini diterapkan kepada bulan purnama ketiga pada suatu trend yang sewajarnya memiliki empat bulan purnama. Hal ini terjadi sekali dalam dua atau tiga tahun dalam daerah beriklim sub-tropis.


Satu rata-rata siklus bulan yaitu 29,53 hari. Ada sekitar 365,24 hari dalam setahun. Maka dari itu ada 12,37 siklus bulan (hasil dari pembagian 365,24 dengan 29,53) yang timbul dalam setahun. Sama mirip tahun kabisat dimana 365,24 menciptakan satu tahun kabisat (tahun berhari 366), kelebihan dari 12,37 siklus bulan itu menciptakan satu bulan purnama ekstra dalam dua atau tiga tahun. Bulan purnama ekstra itu muncul pada salah satu dari keempat demam isu. Itu sebabnya dalam isu terkini tersebut ada empat bulan purnama daripada tiga, dan disebut “blue moon”.


Namun berhubung pernah terjadi kesalahan-pahaman yang terjadi alasannya postingan yang ditulis oleh James Hugh Pruett dalam Sky and Telescope (Maret 1946), makna “Blue Moon” mempunyai arti adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan. Artikel tersebut berjudul “Once in a Blue Moon” (suatu dikala di bulan biru). Penulisnya salah mengartikan Almanak Para Petani Maine tahun 1937.


“Tujuh kali dalam 19 tahun semasa hidup kita, ada 13 bulan purnama dalam setahun. Ini mengakibatkan 11 bulan dengan satu bulan purnama, dan ada satu bulan yang mempunyai dua purnama. Maka saya artikan bulan kedua tersebut sebagai Blue Moon.”. Definisi dalam artikel ini kemudian disebar-luaskan lewat program radio “Star Date” pada 31 Januari 1980 dan suatu pertanyaan dalan permainan “Trivial Pursuit” tahun 1986.


Pernah terjadi pada tahun 2010 di zona waktu timur UTC+07, pada bulan Januari dan Maret masing-masing mempunyai dua bulan purnama. Purnama kedua dalam bulan itu lalu disebut dengan “Blue Moon”. Karena jangka waktu siklus bulan yaitu 30-31 hari, maka bisa dipastikan bulan Februari tidak akan pernah mempunyai Blue Moon.



Lalu, makna mana yang benar perihal Blue Moon? Apakah kita akan tetap menggunakan definisi yang orisinil atau yang telah disalah-pahami tersebut? Berhubung bahasa senantiasa berkembang seiring pertumbuhan zaman, makna manapun tidak ada yang salah.


Seorang astronom Texas, Donald W. Olson menulis di tahun 2006 pada majalah Sky & Telescope; “Dua dekade sudah berlalu semenjak istilah yang disalah-artikan tersebut digunakan. Namun, mirip Jin yang sudah kadung dipanggil keluar dari botolnya, dia tidak bisa dipaksakan untuk masuk kembali (nasi sudah menjadi bubur). Tapi itu bukanlah hal buruk yang perlu dipermasalahkan.”


Contoh Fenomena Blue Moon


Memang ada ketika dimana bulan benar-benar jadi berwarna biru. Syarat untuk menyebabkan bulan terlihat biru yakni menyanggupi udara dengan banyak partikel yang sedikit lebih lebar dibandingkan dengan gelombang cahaya merah (0.7 micron)–tidak lebih besar atau lebih kecil dari itu. Memang sebuah insiden langka, namun gunung berapi kadang mengeluarkan awan semacam itu, sebagaimana kebakaran hutan.


Berikut yakni acuan kejadian faktual dimana bulan sangat tampakberwarna biru.



  1. Tahun 1950 dan 1951, sudah terjadi kebakaran hutan di Swedia dan Kanada. Partikel asap dan bubuk yang naik ke atmosfir memanipulasi warna bulan sehingga terlihat berwarna biru.

  2. 1883, saat gunung Krakatau mengalami erupsi besar yang abunya tersebar ke seluruh dunia. Pada kurun itu bula terlihat berwarna biru selama dua tahun.

  3. 1983 di Meksiko, terjadi erupsi gunung El Chichon, ini juga menimbulkan bulan tampakberwarna biru.

  4. Letusan gunung St Helens di tahun 1980

  5. Letusan gunung Pinatubo tahun 1991.

  6. Pada tanggal 23 September 1950, terjadi kebakaran di rawa Amerika utara dimana asapnya sudah mengepul selama bertahun-tahun di Alberta, Kanada. Akibat dari kebakaran itu, tidak hanya bulan saja yang tampakberwarna biru, tetapi matahari pun jadi tampakberwarna keunguan.


Penggunaan Kata “Blue Moon” dalam Kehidupan Sehari-Hari


Mengesampingkan fenomena alam yang melekat dalam Blue Moon, sebetulnya orang sering memakai nama ini selaku perumpamaan yang memiliki makna menunjukkan sesuatu yang tidak ada.


Menggunakan kata “blue moon” mirip menyampaikan sesuatu yang tidak akan terjadi. Misalnya, seseorang mengatakan “aku akan tiba ke rumahmu dikala bulan  berwarna biru”, itu sama saja artinya dengan “saya tidak akan pernah pergi ke rumahmu”. Hal ini disebabkan alasannya siapapun tahu bahwa bulan berwarna pucat, atau kekuningan. Warna merah masih mungkin tampaktetapi, biru itu tidak pernah menjadi warna bulan.


Namun lama kelamaan terbukti juga bahwa bulan ternyata mampu berganti warna menjadi biru (terutama sehabis terjadi erupsi gunung berapi), lama kelamaan makna yang melekat padanya berkembang menjadi “jarang” atau “langka”.


Selain itu, “Blue Moon” pada zaman dahulu juga punya makna “pengkhianat”. Kata “Blue” sesungguhnya mengambil alih kata yang telah usang tidak digunakan lagi, ialah “belewe” yang artinya “pengkhianat”. Makara sebetulnya nama bulan ke 13 ini yakni “betrayer moon” (bulan pengkhianat). Pemberian nama ini ada sangkut pautnya dengan budaya masyarakat setempat yang melaksanakan puasa (umat kristiani) berganda gara-gara kedatangan Blue Moon tersebut.


Fenomena Supermoon


supermoon31 Januari 2018, sesuatu yang sangat langka dan Istimewa telah terjadi. Pada saat itu, di tengah malam, sekitar pukul setengah dua, insan dapat melihat Blue Moon, Blood moon, dan gerhana bulan pada dikala yang bersama-sama.


Apa yang sedang terjadi?


Pada saat itu terjadi, bulan sudah meraih fase purnama untuk kedua kalinya di bulan yang serupa; Januari. Ini menyebabkan hari itu selaku hari dimana Blue Moon muncul. Pada ketika itu orbit bulan sudah berada di titik terdekatnya dengan Bumi. Menjadikannya “Supermoon”, dimana purnama terlihat lebih benerang 14% dibandingkan dengan yang umumnya. lalu, bulan sepenuhnya menyusup ke dalam bayangan Bumi pada dikala ini, menimbulkan gerhana bulan total. NASA menyebutnya “ffenomena Super Blood Blue Moon.”


Bagi para pengamat di Amerika Utara, inilah pertama kalinya ketiga fenomena tersebut terjadi sejak tahun 1866. Peristiwa ini begitu langka sehingga tidak siapa pun di seluruh penggalan Bumi mampu menyaksikannya.



Sumber ty.com

Jumat, 01 Januari 2021

Gerhana Bulan Total Blood Moon: Pengertian – Proses Terjadi – Acuan Fenomena

“Blood moon” diketahui juga sebagai gerhana bulan total, ialah fenomena yang sangat mempesona dan mampu dilihat secara kasat mata. Keindahan fenomenda total “blood moon” telah memancing khayalan orang sejak jaman dulu. Selain indah, fenomena gerhana bulan total “blood moon” juga dianggap angker serta mistis. Hampir setiap kebudayaan memiliki versinya masing-masing ihwal peristiwa gerhana bulan “blood moon”. Di China misalnya, gerhana bulan berarti ada seekor naga yang hendak mengkonsumsi matahari. Menurut mitos penduduk Jawa, gerhana terjadi alasannya adalah raksasa berjulukan Batara Kala yang berupaya melahap bulan. Dan masih banyak lagi mitos dan dogma kuno yang lain dari berbagai penjuru dunia, yang berusaha menerangkan dan menceritakan salah satu fenomena alam yang paling kasat mata ini.


Namun seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kini kita mampu menerangkan dengan tepat pengertian, proses terjadi, serta contoh fenomena gerhana bulan “blood moon”


Pengertian Gerhana Bulan “Blood Moon”


Mengapa disebut “blood moon?” Hal ini terjadi alasannya warna kemerahan yang muncul menutupi bulan. Sebenarnya disebut “bulan darah” juga bukan nama yang akurat, karena warna yang dihasilkan lebih ke arah jingga kemerahan, bukan merah pekat seperti darah, hehehe. Lalu mengapa bisa berganti warna menjadi jingga kemerahan? Sebagai catatan, gerhana bulan parsial masih menawarkan warna debu-abu perak khas penampakan bulan.


Jawabannya yakni karena sinar matahari. Jika kita perhatikan, sinar matahari saat sunset atau sunrise (matahari terbit dan terbenam) akan berwarna jingga kemerahan, tetapi ketika hari kian siang maka matahari bercahaya putih jelas. Fenomena perubahan warna sinar matahari ini mengikuti sebuah prinsip Rayleigh atau Rayleigh scattering yang mungkin mampu kita diskusikan di lain potensi .


Proses Terjadinya Gerhana Bulan “Blood Moon”


Gerhana bulan “blood moon” atau gerhana bulan total terjadi karena Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada posisi sejajar atau mendekati kesejajaran. Terbalik dengan gerhana matahari, gerhana bulan terjadi alasannya adalah bayangan Bumi yang menutup bulan. Jika diterangkan maka prosesnya mirip ini :



  • Bumi berada di antara Matahari dan Bulan dalam kondisi belum sejajar

  • Sedikit demi sedikit Bulan bergerak menuju kesejajaran dengan Bumi dan Matahari

  • Bayangan Bumi mulai menutupi Bulan, masih terlihat warna bubuk-bubuk perak khas warna Bulan

  • Bulan kian sejajar dengan Bumi dan Matahari. Pada puncaknya, bayangan kemerahan mulai menutupi Bulan

  • Matahari, Bumi, dan Bulan kini sejajar. Bayangan kemerahan sekarang menutupi seluruh permukaan Bulan

  • Sedikit demi sedikit bayangan kemerahan mulai pudar, Bulan mulai menampakan warna aslinya

  • Pada akhir fase gerhana blood moon” Bulan telah menanggalkan bayangan merah dan memberikan warna aslinya, abu-abu perak.


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ec/Geometry_of_a_Lunar_Eclipse.svg/512px-Geometry_of_a_Lunar_Eclipse.svg.png


Gerhana bulan sendiri ada berbagai macam, yakni :



  • Gerhana bulan penumbral: dikala Bulan memasuki daerah penumbra, yakni saat bayangan Bumi mulai menutupi Bulan dari cahaya Matahari.

  • Gerhana bulan total: ketika Bulan memasuki daerah umbra, adalah dikala bayangan Bumi sepenuhnya menutupi bulan.

  • Gerhana bulan parsial: saat Bulan hanya sedikit saja memasuki daerah umbra.

  • Gerhana bulan sentral: Bulan berada sempurna di sentra umbra, gerhana ini sungguh jarang terjadi.


Gerhana bulan total blood moon yang terjadi tanggal 28 Juli 2018, dinihari nanti ialah gerhana bulan sentral. Kaprikornus Bulan berada tepat di tengah bayangan Bumi. Peristiwa ini sungguh jarang terjadi dan mungkin gres terulang kira-kira 1 masa lagi.


Contoh Fenomena Gerhana Bulan “Blood Moon”


Gerhana bulan yakni fenomena yang terjadi setiap tahun. Gerhana bulan tahun lalu terjadi pada tanggal 7 Agustus 2017 dan ialah gerhana bulan sebagian (parsial). Gerhana bulan total akan terjadi lagi tahun 2019 tanggal 21 Januari, tetapi tidak memiliki rentang waktu selama “blood moon” tanggal 28 Juli 2018 nanti.


Sedangkan di permulaan tahun 2018, tepatnya pada tanggal 30 Januari 2018 ada sebuah fenomena yang disebut fenomena super blue blood moon, yaitu saat blood moon terjadi pada titik terdekat Bumi dengan Bulan, menjadikan ukuran Bulan terlihat cukup besar dibandingkan biasanya.  “Blood moon” yang terjadi tanggal 28 Juli nanti berada pada titik terjauh dari Bumi.


“Blood Moon” di tahun 2018 tepatnya akan terjadi mulai tanggal 28 Juli 2018. Gerhana total “blood moon” dapat disaksikan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia gerhana bulan total blood moon mulai tampakjam 00.13 WIB dini hari sampai puncaknya jam 03.29 WIB. Fase yang panjang ini menciptakan gerhana bulan “blood moon” di tahun 2018 ialah gerhana bulan total paling lama yang tercatat di abad ini, alasannya adalah bulan berada di titik terjauh dari Bumi. Sedangkan Amerika Utara, dan sebagian besar Kanada sayangnya  tidak dapat melihat gerhana ini alasannya adalah telah keburu rampung sebelum sempat terlihat.


Demikian yang bisa kami share seputar gerhana bulan total blood moon agar berguna bagi kita semua untuk lebih memahami alam dan fenomena yang terjadi didalamnya. Sampai jumpa di artikel menawan lainnya.



Sumber ty.com

Jumat, 25 Desember 2020

Hujan Meteor Lyrid : Proses Terjadi – Waktu Terjadi – Fenomenanya

Hujan Meteor Lyrid, atau disebut juga dengan April Lyrid ialah hujan meteor yang terjadi pada bulan April. Puncaknya yaitu April tanggal 22-23. Manusia sudah mengamati hujan meteor ini sejak tahun 687 SM, yang juga ialah catatan tertua perihal hujan meteor yang pernah ada.


Apabila kita mempesona jejak dari titik arah hujan meteor Lyrid berasal, tampaknya mereka berpendar dari konstelasi Lyra sang Harpa, akrab dengan bintang Vega yang benderang. Namun ini cuma praduga semata, karena meteor-meteor ini terbakar di atmosfer Bumi dalam kecepatan 100 km/jam. Sementara itu bintang Vega terletak trilyunan kali lebih jauh dalam 25 kecepatan cahaya. Walaupun belum pasti, namun nama dari hujan meteor ini memang berasal dari konstelasi Lyra. Perlu diingat bahwa sekalipun arah datangnya dari konstelasi Lyra, bukan berarti Lyrid berasal dari sana.



Pada tanggal 5 April 1861, seorang pengamat amatir berjulukan A.E. Thatcher memperoleh komet yang sedang melintasi metode tata surya. Rupanya partikel bubuk hingga potongan batu yang terlepas dari komet C/1861 G1 Thatcher menjadi asal usul bagi hujan meteor Lyrid. Komet terkikis sehubungan dengan panas matahari dan menjadikan partikel seperti es dan bagian abu lainnya untuk terlepas dari inti komet. Hal ini menghasilkan penggalan-cuilan reruntuhan di angkasa. Reruntuhan tersebut menabrak Bumi dan menghasilkan panorama indah di langit malam berbentukhujan meteor.


Orbit Thatcher berpapasan dengan orbit Bumi setiap 415 tahun sekali. Rentang waktu orbit dari komet ini relatif cepat karena biasanya periode putaran komet adalah antara 200-10.000 tahun sekali. Jadi, komet tersebut diprediksikan gres akan tampakkembali pada tahun 2276.


Hujan Meteor ini akan memperlihatkan sekitar 15-20 meteor dalam satu jam. Walau adakala ada tahun dimana hujan meteor Lyrid mempertontonkan hingga seratus meteor dalam satu jamnya (Outburst/meledak), tetapi hal ini jarang terjadi dan sulit untuk diprediksikan. Ada yang mengatakan bahwa ledakan Lyrid itu terjadi setiap 30 tahun sekali. Namun pakar NASA bernama Bill Cooke tidak sepakat dengan itu. Beliau beropini bahwa belum ada data yang mendukung dengan niscaya kapan ledakan Lyrid itu terjadi, alasannya data yang ada pun tidak menentu. Bisa terjadi sebelum atau sesudah 30 tahun.


Hujan meteor Lyrid tiba dengan segera, walau tidak secepat hujan meteor Leonid (November). Menurut Cooke, Leonids menabrak Bumi secara langsung, sedangkan Lyrid hanya menyerempet sisi kiri dari planet.


Berikut ini yakni koordinat dari Lyra :



  • Asensio Rekta: 19 h

  • Deklinasi: +40

  • Dapat dilihat antara 90° LU dan 40° LS.


Lyrid diketahui akan kecepatan lintasannya, walau tidak secepat dan sebanyak hujan meteor Perseids di bulan Agustus. Ekornya berkilau terang, mampu dilihat selama beberapa detik. Meteor-meteor yang berjatuhan dari Lyrid bergerak dalam kecepatan 49km/detik.


Peristiwa Fenomena Hujan Meteor Lyrid




  1. Pada tahun 1982, seorang pengamat dari Amerika menyaksikan ledakan hujan meteor yang berisikan sekitar 100 Lyrid per jam. Sekitar 100 meteor Lyrid juga terlihat pada tahun 1922 di Yunani , dan 1945 di Jepang.

  2. Masyarakat Tiongkok kuno mencatat bahwa mereka telah melihat hujan meteor Lyrid yang jatuh bagaikan hujan di tahun 687 SM. Pada masa itu Tiongkok sedang berada dalam abad Periode Musim Gugur dan Musim Semi (771-476 SM), dan Konghuchu hidup pada masa itu.

  3. Pada tahun 1136, penduduk Korea mencatat adanya hujan meteor dengan kata-kata “banyak bintang yang beterbangan dari arah timur bahari.”

  4. Di tahun 1803, warga Richmond di negara bab Amerika Serikat Virginia, bergegas keluar dari rumah mereka pada tengah malam (pukul 1-3 dini hari, waktu setempat) sehabis terjadi alarm kebakaran. Kemudian mereka melaporkan bahwa mereka melihat ada meteor serupa roket melintas di langit. “Seakan-akan bintang-bintang tersebut berjatuhan dari segala sudut nirwana, jumlahnya berbagai mirip hujan kembang api.”

  5. Tahun 1803, Lyrid menjadikan tornado meteor yang besar, sehingga tampaklah lebih dari 700 meteor perjam yang terlihat pada puncaknya.

  6. Foto di atasdiambil di Portesham, Dorset, Inggris pada tanggal 23 April 2017, berlokasi di Monumen Hardy. Saat itu terjadi panorama hebat di langit yang disebabkan oleh hujan meteor Lyrid dimana ada 30-40 meteor tampakdalam satu jam. Anda dapat melihat ada segaris Lyrid, sedikit di atas galaksi Bima Sakti.


Eta Lyrid


Hujan meteor Eta Lyrid muncul antara 3-12 Mei, puncaknya pada tanggal 9. Hujan meteor ini tergolong ke dalam hujan meteor tahunan, sama seperti Quadrantid yang terjadi di abad tahun baru. Sumber dari hujan meteor ini yaitu Komet C/1983 H1 (IRAS-Araki-Alcock). Bintang terdekat dari titik pendar hujan meteor ini yaitu Bintang Aladfar di titik koordinat Asensio Rekta (289.9) dan deklinasi (43.4).


ZHR, atau banyaknya jumlah meteor yang tampakselama satu jam ada di kisaran 3. Namun jumlah ini dapat meningkat bila ada komet atau benda yang bekerjasama dengan itu datang mendekat. Kecepatan dari partikel meteor Eta Lyrid adalah sekitar 44 km/detik. Kekuatan cahaya dari meteor ini cukup besar lengan berkuasa karena jumlahnya cuma sedikit.


Eta Lyrid cukup jarang diamati, tetapi tidak kalah mempesona alasannya adalah kemungkinan beliau mempunyai kaitan dengan suatu komet yang terlihat pada tahun 1983. Penemuan ini pada dasarnya diprediksikan 9 Mei 1983. Saat itu Jack Drummond dari Penelitian Stewart memberi peringatan tentang kemungkinan terjadinya acara meteor dari komet IRAS-Araki-Alcock. Drummond memprediksikan adanya hujan meteor yang dapat timbul pada tanggal 10 Mei. Namun perayaan ini tidak terbukti. Para peneliti di Otawa tidak menangkap adanya acara yang dimaksudkan.


Walau beberapa peneliti meteor sudah menerima peringatan dari kemungkinan hujan meteor itu dari IAU Circular 3801, para pengamat di Jepang sudah menyadari kemungkinan hujan meteor ini beberapa waktu sebelumnya. Mereka bisa lebih berkemas-kemas dan penelitian mereka membuahkan hasil kemudian dilaporkan pada bulan Juni 1984.


Penelitian lalu dilanjutkan, hingga akhirnya tidak ada meteor yang tampaklagi dari pendaran ini sehabis tanggal 12 Mei dan seterusnya. Mereka kemudian mengganti observasi mereka menjadi ZHRs dan menerima hasil berupa tiga penampakan meteor. Yang cukup menarik yaitu pada tahun 2000 para peneliti memperoleh sekitar 2-6 penampakan meteor dari Eta Lyrid


Lyrid Juni


Fenomena Lyrid Juni ini pertama kali dicatat oleh seorang berjulukan Stan Dvorak yang berdomisili di California, Amerika Serikat. Saat itu beliau sedang memanjat gunung di Pegunungan San Bernardino tahun 1966.


Setahun kemudian, Lyrid Juni tidak dapat diobservasi sehubungan dengan terangnya cahaya bulan malam itu. Namun tahun berikutnya di 1968, seorang dari daerah yang sama, California bernama Richard Nolthenius melaporkan bahwa dia telah melihat Lyrid Juni. Selama satu jam pada tanggal 15, dia mengkalkulasikan ada 8 meteor yang tampakdi langit. Kemudian di jam yang sama di tanggal 17, terlihat ada 7 bintang jatuh. Sejak itu (tepatnya mulai tahun 1969), observasi kepada Lyrid Juni ini dikerjakan setahun sekali.


Hujan meteor ini didominasi oleh ekor berwarna warna biru kehijauan dan putih. Hujan meteor yang terlihat pada dikala  itu berasio sekitar 8-10 meteor perjam dari tanggal 10 sampai 21 Juni. Namun baru-baru ini dimengerti bahwa sumber dari hujan meteor ini bukanlah Komet Thatcer, melainkan C/1915 C1 Mellish.



Sumber ty.com

Kamis, 24 Desember 2020

Proses Terjadinya Bintang Jatuh Dan Fenomenanya

falling-starBintang jatuh yakni fenomena alam yang senantiasa menarik perhatian. Saat ada benda langit yang terbakar di atmosfer dan memasuki bumi, maka orang pribadi menyebutnya selaku bintang jatuh. Fenomena alam di langit ini mampu tampakcukup jelas pada siang dan malam hari, sebab terangnya cahaya yang dihasilkan bintang jatuh. Karena cukup banyak dokumentasi foto atau video bintang jatuh.


Mengapa disebut selaku bintang jatuh, walaupun bantu-membantu bintang jatuh sama sekali bukan bintang? Bisa dibayangkan, jikalau bintang yang sebetulnya jatuh memukul Bumi! Mari kita bahas lebih jauh lagi ihwal bintang jatuh dan bagaimana proses terjadinya.


Pengertian Bintang Jatuh


Bintang jatuh bahwasanya ialah benda langit yang memasuki atmosfer bumi. Benda langit atau partikel angkasa apapun yang masuk, mulai dari sebesar butir pasir atau bola golf mampu saja menjadi bintang jatuh. Namun kerap kali material tersebut telah terbakar habis sebelum dapat menjangkau permukaan bumi.


Bila benda langit tersebut berukuran cukup besar, maka ia dapat mempertahankan bentuknya sampai memasuki lapisan troposfer dan terlihat oleh mata. Bila berskala lebih besar lagi, maka mampu saja jatuh ke permukaan Bumi dan meninggalkan jejak berbentukkawah, walaupun sungguh jarang terjadi. Umumnya bintang jatuh telah hancur sebelum mencapai tanah.


Proses Terjadinya Bintang Jatuh


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, benda langit dengan ukuran cukup besar memiliki peluang untuk menjadi sebuah bintang jatuh. Kadang Bumi melalui awan abu atau juga berpapasan dengan penggalan asteroid, cukup bersahabat sampai tertarik oleh gravitasi Bumi. Atau juga kadang ada bagian asteroid yang kebetulan orbitnya melewati Bumi. Untuk proses lebih lengkapnya mampu diterangkan sebagai berikut :



  • Bumi melalui kumpulan awan abu atau pecahan asteroid/ada asteroid yang orbitnya berpapasan dengan Bumi

  • Benda langit tersebut cukup dekat dengan tarikan gravitasi Bumi, hingga mulai masuk ke atmosfer

  • Benda langit memasuki atmosfer Bumi, kian terpengaruh gravitasi Bumi, dan mulai bergesekan dengan lapisan atmosfer

  • Saat memasuki mesosfer, ukiran kian besar lengan berkuasa seiring dengan kecepatan yang bertambah, suhu benda langit tersebut meningkat tajam

  • Semakin dekat dengan permukaan Bumi, benda langit tersebut mulai terbakar dan sedikit demi sedikit menguap dan pecah

  • Akhirnya benda langit terbakar habis, atau jika berskala cukup besar mampu hingga di permukaan Bumi


Perbedaan Bintang Jatuh dengan Meteor?


Nah, ini beliau… bintang jatuh kita ketahui sama sekali bukan bintang, melainkan benda langit. Bintang jatuh memiliki nama yang lebih ilmiah, ialah meteor. Jadi bintang jatuh bekerjsama yakni suatu meteor. Bintang jatuh mungkin mendapat nama demikian karena berasal dari langit, dan saat malam hari terlihat seperti suatu bintang. Makara, suatu bintang adalah meteor yang sedang terbakar di atmosfer Bumi.


Pernahkah Sebuah Bintang Jatuh Sampai ke Bumi?


Maksudnya yakni pernahkah sebuah bintang jatuh, meraih permukaan Bumi? Ada lumayan banyak peristiwa yang tercatat dimana suatu bintang jatuh, atau meteor berskala cukup besar sehingga meraih permukaan Bumi, meninggalkan bekas atau menjadi sebuah meteorit.


Kejadian meteor atau bintang jatuh yang paling terkenal yakni di hutan Tunguska, di Siberia tahun 1908. Sebuah meteor yang besar jatuh di hutan Tunguska, menimbulkan ledakan yang amat andal sehingga meratakan seluruh pepohonan dalam radius 2.000 kilometer persegi, dan bunyi ledakannya terdengar hingga seluruh Eropa. Meteor tersebut tidak menjadi meteorit, alasannya meledak begitu menghantam tanah. Kejadian ini dikenal selaku Tunguska Event atau Peristiwa Tunguska. Ada teori yang menyebutkan bahwa potongan dari meteor Tunguska membentuk suatu danau yang berjulukan Danau Cheko, walaupun masih dalam penelitian.


Kejadian Tunguska adalah meteor paling besar yang tercatat didalam sejarah. Kejadian mirip ini terhitung amat jarang terjadi. Hujan meteor mampu dibilang sebagai kejadian bintang jatuh yang terjadi secara berkelanjutan. Sudah pernah dibahas mengenai beberapa hujan meteor seperti Geminid, Orionid, atau Perseid yang masih berlangsung sampai kini. Dan juga beberapa jenis hujan meteor lainnya.


Demikian klarifikasi tentang proses terjadinya bintang jatuh. Semoga berguna.



Sumber ty.com

Rabu, 23 Desember 2020

Fenomena Aurora Di Indonesia, Mampu TampakAtau Tidak?

auroraAurora adalah fenomena alam di langit berbentukkilatan cahaya di langit akhir dari reaksi antara medan magnet Bumi dengan radiasi dari luar angkasa. Kilatan cahaya yang indah mampu dilihat dari jauh, seperti pentascahaya di langit. Dokumentasi serta foto aurora sudah ada sejak berabad-abad, karena keindahan serta kemegahan yang ditampilkan suatu aurora.


Aurora dapat tampakdengan terperinci di beberapa negara cuilan Planet Bumi bagian Utara dan Selatan. Namun dapatkah kita melihat fenomena aurora di Indonesia? Sayangnya tidak. Mari kita lihat beberapa penjelasannya di bawah ini, mengapa aurora tidak mampu kita lihat di Indonesia.


Mengapa Aurora Tidak Terlihat di Indonesia dan Khatulistiwa?


Proses terjadinya aurora sebab interaksi medan magnet Bumi dengan kegiatan matahari di luar angkasa. Nah, medan magnet Bumi terkuat terletak di kedua ujung kutubnya (kutub Utara dan Selatan). Semakin kuat medan magnet Bumi, maka auroranya akan tampaksemakin besar dan terperinci. Sebaliknya, makin menjauh dari kutub, maka medan magnet Bumi kian lemah.


Itulah sebabnya mengapa aurora tidak mungkin tampakdi kawasan ekuator atau khatulistiwa, alasannya adalah medan magnetnya tidak cukup banyak untuk mengakibatkan terjadinya aurora. Indonesia berada di khatulistiwa atau equator, terletak jauh dari kutub Utara maupun Selatan, daerah dimana medan magnet Bumi tercatat paling berpengaruh.  Jika kita ingin menyaksikan fenomena aurora, maka kita harus berada di negara yang dekat dengan kutub Utara dan Selatan. Beberapa negara daerah kita bisa melihat aurora borealis paling jelas yaitu Arktik, Norwegia, Swedia, Amerika dan Kanada bab Utara. Sedangkan aurora australis bisa terlihat terang di Southern Sandwich Island, New Zealand, Argentina dan Antartika.


Badai Matahari


Proses terjadinya angin kencang matahari yang amat berpengaruh hingga aurora bisa terlihat dari berbagai serpihan dunia manapun. Namun angin ribut matahari sekuat itu juga dapat menghancurkan aneka macam perlengkapan elektro dan akan sungguh mempengaruhi kehidupan insan. Mengingat sebagian besar perlengkapan yang kita gunakan kini mempunyai sirkuit elektro, maka topan matahari super kuat akan merusak semua komputer, menghancurkan pembangkit listrik dan aneka macam persoalan yang lain.


Ada sebuah fenomena solar flare/solar storm atau topan matahari paling besar yang pernah tercatat, adalah pada tanggal 1 sampai 2 September 1859. Peristiwa tersebut disebut dengan Solar Storm Of 1859. Peristiwa tersebut menimbulkan terjadinya aurora yang sangat besar sampai bisa terlihat di Karibia, Jepang, China, serta beberapa negara lain mirip Cuba dan Hawaii.


Namun peristiwa tersebut juga merusak tata cara komunikasi telegraf, yang kala itu ialah salah satu media komunikasi utama. Percikan listrik terlihat dari menara kabel telegraf. Operator telegraf masih mampu saling berkomunikasi satu sama lain, meskipun telah mencabut sumber daya listrik, alasannya adalah kekuatan dari topan matahari yang teramat besar tersebut. Tidak cuma itu, para operator telegraf tersebut juga kadang tersengat listrik dari peralatan telegraf! Bisa dibayangkan pengaruh yang terjadi jikalau Solar Storm Of 1859 terjadi saat ini.


Pada tahun 2012 sempat tercatat topan matahari dengan intensitas yang sama seperti tahun 1859, namun untungnya tidak hingga mengenai orbit Bumi. Sebelumnya pada tahun 1989, sebuah topan matahari yang cukup kuat menghancurkan tata cara transmisi listrik di Quebec, Kanada.


Kesimpulan


Negara yang berada di kawasan khatulistiwa serta yang jauh dari kedua kutub tidak akan bisa melihat indahnya aurora. Medan magnet yang ada di kawasan khatulistiwa tidak cukup kuat untuk sampai menyebabkan aurora. Jika sebuah saat nanti kita menyaksikan ke langit malam hari dan ada aurora di sana, maka tandanya ada angin puting-beliung matahari besar sedang terjadi. Tapi semoga tidak hingga menghancurkan peralatan elektronik kita.


Demikian yang mampu kami bagikan seputar fenomena aurora di Indonesia, biar dapat memperbesar pengetahuan serta pengertian kita akan alam semesta yang begitu luas dan misterius ini. Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya.



Sumber ty.com

Selasa, 22 Desember 2020

Proses Terjadinya Hujan Meteor Taurid Dan Waktunya

taurid showerHujan meteor yang diberi nama “Taurid” ini bekerjasama dengan komet berjulukan Encke, dia singgah ke langit Bumi setahun sekali. Sesungguhnya ada dua jenis Taurid; yaitu utara dan selatan. Keduanya berasal dari sumber yang berlawanan. Yang selatan berasal dari Komet Encke, sementara yang utara berasal dari asteroid 2004 TG10. Mereka dinamai menurut titik sumber pendaran yang berasal dari konstelasi Taurus. Karena kehadiran mereka di final Oktober dan awal November, mereka juga acap kali disebut bola api Halloween.


Komet Encke sendiri ialah komet yang durasi orbitnya cukup singkat, ia tampaksatu kali dalam 3,3 tahun. Pertama kali tampakoleh Pierre Mechain pada tahun 1786 dan orang pertama yang memperoleh durasi orbitnya itu yaitu Johann Franz Encke di sekeliling tahun 1800.


Menariknya, Encke dan Taurid diyakini merupakan sisa-sisa peninggalan dari komet yang jauh lebih besar lagi. Komet tersebut telah terkikis semenjak 20.000-30.000 tahun yang kemudian. Partikel-partikel kecilnya terlepas di ruang angkasa dan bersinanggungan dengan Bumi ataupun planet yang lain (Whipple (1940), dan Klacka (1999)). Secara keseluruhan, bahan ini ialah materi terbesar di dalam tata surya.


Proses terjadinya hujan meteor Taurid berlangsung cukup usang jika ketimbang hujan meteor yang lain. Rentang waktunya bisa berlangsung selama beberapa minggu. Hal ini disebabkan oleh alasannya adalah hujan meteor ini cenderung menyebar di ruang angkasa. Bila dilihat lebih akrab, hujan meteor Taurid bahwasanya berisikan materi yang lebih berat mirip watu kerikil, dibandingkan dengan debu seperti hujan meteor lainnya. Tidak menutup kemungkinan ada ukuran Taurid yang lebih besar ketimbang watu watu. Bila ukurannya lebih besar ketimbang batu, maka meteor yang terlihat dari Bumi akan tampakmenyala seterang bulan, bahkan sampai meninggalkan asap.


Kepingan meteor Taurid memang cukup besar daripada serpihan meteor yang lain. Kadang ada potongan yang cukup besar untuk jatuh hingga ke atas tanah, lolos dari kikisan atmosfir. Meteorit ini belum pernah ditemukan hingga sekarang, tetapi berdasarkan Astronom Cooke, inovasi tersebut akan menjadi sesuatu yang sungguh bernilai. Walau tidak diketahui pasti berapa persisnya ukuran meteorit Taurid, tetapi Cooke menakar bahwa beratnya mungkin beberapa ons.


Waktu Terjadinya Hujan Meteor Taurid


Taurid pada umumnya timbul lima kali dalam waktu satu jam, bergerak perlahan melintasi langit dengan kecepatan sekitar 28km/detik, atau 100.800 km/j. Taurid selatan atau STA, terlihat sejak tanggal 10 September hingga 20 November. Sedangkan Taurid utara atau NTA akan terlihat pada tanggal 20 Oktober hingga 10 Desember.


Selain itu ada lagi yang disebut dengan Beta Taurid dan Zeta Perseid. Keduanya berpapasan dengan Bumi pada bulan Juni-Juli. Namun mereka melintas pada siang hari, maka dari itu tidak dapat diperhatikan secara pribadi mirip halnya Taurid utara dan selatan.


Arus Taurid memiliki kegiatan siklus yang memuncak kira-kira sekitar 2.500-3000 tahun sekali. Ketika sentra dari arus meteor tersebut melintas semakin erat dengan Bumi, menyebabkan hujan meteor yang semakin deras. Berdasarkan perhitungan para astronom, puncak selanjutnya akan terjadi sekitar tahun 3000 masehi.


Menurut Astronom Cooke, sulit untuk memilih hari terbaik untuk melihat hujan meteor Taurid. Hal ini disebabkan oleh durasi yang panjang, berjalan selama beberapa minggu. Dan dalam rentang waktu yang usang itu, jumlah meteor yang terlihat di langit relatif sama banyaknya. Walau demikian, ia beropini bahwa waktu terbaik untuk melihatnya yaitu pada pagi-pagi sekali, sebelum subuh.


Para pengamat astronomi juga kerap kali memperoleh ada bintang jatuh yang tidak terperinci asal usulnya, tidak berhubungan dengan Taurid. Mereka berpendar dari daerah lain selain dari konstelasi Taurus, menuju ke arah yang tidak mampu diprediksikan.


Untungnya, Taurid mampu dilihat dari sudut manapun dari atas Bumi, kecuali wilayah kutub selatan. Mereka berpendar dari konstelasi Taurus sang kerbau. Untuk menemukan konstelasi Taurus itu, carilah konstelasi Orion, lalu menyisir ke timur maritim untuk mendapatkan bintang merah, bintang Aldebaran, yang juga adalah mata dari Taurus.


Penampakan Taurid sangat indah ketika disaksikan dari atas Bumi. Segaris bola api besar berwarna hijau neon melintasi langit subuh hari. Tertarik untuk menonton hujan meteor Taurid? Pada tanggal 5 November 2018 nanti, diprediksikan Taurid akan meraih puncak peredarannya.


Asteroid di Dalam Arus Taurid


Sesuatu menjadi perhatian para astronom baru-gres ini. Mereka menyadari bahwa selain kerikil besar yang terbang di luar angkasa, ada juga asteroid 2015 T24 dan 2005 UR, yang mengembangkan orbit dengan arus Taurid. Asteroid 2015 TX24 ditemukan pada tanggal 8 Oktober 2015. 20 hari kemudian terjadi kenaikan dalam arus hujan meteor Taurid di tahun 2015.


Asteroid ini ukuran diameternya beraneka ragam sekitar 200-300 meter. Hal ini memang sedikit meresahkan, karena Taurid melintasi Bumi satu tahun sekali. Bisa saja terjadi ada objek yang cukup besar terbawa di dalam arus Taurid dan menabrak Bumi. Bila ini terjadi, kerusakan yang berpengaruh pada Bumi mampu berakibat fatal. Namun sampai ketika ini, belum ada asteroid yang dinyatakan berbahaya atau mengancam akan bertubrukan dengan Bumi.


Pengaruh Jupiter Terhadap Taurid


Komet Encke melintasi tata surya dengan matahari sebagai sentra orbitnya. Reruntuhan dari Encke tersebut juga turut melintasi tata surya dan sebuah saat berdekatan dengan Jupiter. Elemen gravitasi Jupiter yang besar itu menyenggol remah-remah komet Encke tersebut sehingga mereka terpantulkan menuju ke Bumi. Menurut Cooke dari space.com pada tahun 2017, para ilmuwan memprediksi pantulan Jupiter itu akan sampai di Bumi pada tahun 2019.


Fenomena yang Berhubungan dengan Taurid



  • Seorang Astronom bernama Duncan Steel dan Bill Napier mengira bahwa Beta Taurid ialah penyebab dari kejadian Tunguska yang terjadi pada tanggal 30 Juni 1908. Sungai Tunguska terletak di Russia, bersahabat dengan Siberia, pada pagi itu terjadi ledakan misterius yang kekuatannya diprediksi 1000 kali lebih kuat ketimbang bom atom Hiroshima-Nagasaki. Diduga bahwa ada meteor yang meledak di atmosfir (5-10km dari atas permukaan tanah).

  • Telah diprediksikan pada tahun 1993 bahwa akan terjadi kegiatan Taurid di tahun 2005. Pada hari Halloween di tahun tersebut, banyak orang yang melihat bola api meteor yang terlihat di langit. Peristiwa itu kemudian disebut “bola api Halloween”.

  • Pada abad Taurid selatan tahun 2013, tampakada bola api di California selatan, Arizona, Nevada, dan Utah.


Demikian klarifikasi mengenai proses terjadinya hujan meteor Taurid dan beberapa fenomenanya. Semoga berfaedah.



Sumber ty.com

Minggu, 20 Desember 2020

Proses Terjadinya Kilat Beserta Jenis Dan Gambarnya

Kilat yakni nyala yang terlihat saat terjadi pelepasan elektrostatik secara tiba-tiba yang terjadi di awan, biasanya timbul pada saat terjadinya angin puting-beliung. Pelepasan listrik ini terjadi akhir arus negatif bergerak menuju arus konkret. Pergerakan ini mampu terjadi dari awan ke awan, atau dari awan ke tanah. Satu sambaran petir mampu menampung sampai 300 juta volt dalam 100.000 ampere.


Walaupun nampaknya sama-sama bersifat cahaya, tetapi kecepatan kilat jauh lebih lambat ketimbang kecepatan cahaya. Kecepatan kilat cuma 150.000 km/detik, sementara kecepatan cahaya yakni 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h). Lalu bagaimana proses terjadinya kilat?


Saat suhu tanah cukup panas, beliau akan memanaskan udara di atasnya. Udara panas ini kemudian naik, menjadi uap air dan membentuk awan. Ketika udara panas terus bertambah, awan akan menjadi makin besar. Di bagian atas awan, temperaturnya berada di bawah titik beku, menjadikan air yang menguap ini membeku menjadi es. Pada saat inilah awan berubah menjadi awan bermuatan listrik. Banyak partikel es yang saling bertumbukan satu sama lain saat mereka saling bergerak. Tabrakan-tabrakan ini menghidupkan tegangan listrik.


Pada karenanya awan tersebut akan dipenuhi dengan tegangan listrik. Tegangan faktual yang lebih ringan itu terbentuk di bagian atas awan, sementara tegangan negatif yang lebih berat turun ke bab bawah awan. Ketika arus nyata dan negatif tumbuh cukup besar, percikan besar (petir) muncul di antara dua tegangan di dalam awan ini.


Saat terjadi angin puting-beliung, benturan antara partikel hujan, es, dan salju yang terjadi di dalam awan mengembangkan ketidak-seimbangan di antara awan dan tanah. Seringkali arus negatif menurunkan jangkauan dari awan-awan berbadai itu. Sementara, benda-benda di atas tanah seperti menara, pepohonan, dan tanah kemudian menjadi arus kasatmata dan membuat petir alhasil menghantar ke sana.


Suhu petir lebih berada di 27.000 derajat celsius, itu mempunyai arti lebih panas ketimbang suhu permukaan matahari yang cuma sekitar 5.500 derajat celsius. Kilatan yang menyambar mampu memanaskan udara di sekitarnya lima kali lipat lebih panas ketimbang panas matahari. Panas ini menyebabkan udara di sekitarnya itu mengalami pemuaian dan vibrasi secara tiba-tiba dalam jumlah banyak, dan karenanya menjadikan bunyi gemuruh.


Ke mana petir akan menyambar? Listrik mencari konduktor terdekat untuk melepaskan hantarannya. Seringkali yakni awan yang lain atau sisi lain dari awan asalnya. Namun paling berbahaya adalah petir yang menyambar dari awan menuju permukaan tanah, karena sambaran ini dapat melukai kita.



Ketika badai bergerak di atas tanah, ada muatan negatif yang kuat di awan itu menarik muatan positif di atas tanah. Muatan positif ini bergerak ke benda-benda yang lebih tinggi seperti pohon, tiang listrik, atau atap gedung dan bangunan tinggi yang lain. Tempat tinggi memang paling sering menjadi sambaran petir, alasannya ialah objek paling terjangkau dari awan. Namun tidak selalu petir menyambar kawasan paling tinggi tersebut.


Petir bermuatan nyata kerap kali dianggap lebih berbahaya karena daerahnya lebih berpengaruh, dan durasi kilatannya relatif lebih usang, dan kekuatan sambarannya bisa lebih berpengaruh dibandingkan dengan yang bermuatan negatif. Ditambah lagi petir bermuatan konkret bisa terjadi di penghujung awan, dan menyambar lebih dari puluhan kilometer jauhnya. Sambaran mirip ini yang umumnya tidak disadari oleh manusia.


Planet bumi menerima banyak keuntungan dari fenomena petir ini. Petir menolong bumi mempertahankan keseimbangan elektrik. Permukaan bumi dan atmosfernya dengan mudah mengkonduksi muatan listrik, dimana Bumi menerima konduksi negatif dan lapisan atmosfer menerima konduksi aktual. Selalu ada arus elektron yang seimbang mengalir ke atas dari seluruh permukaan bumi.


Badai bermuatan petir menolong untuk mengalirkan muatan negatif itu kembali ke bumi (biasanya petir bermuatan negatif). Tanpa petir, keseimbangan antara bumi dan atmosfer akan menghilang dalam waktu singkat. Petir juga membantu menciptakan senyawa kimia yang menyusun lapisan ozon.


Kilat yaitu hantaran cahaya yang terlihat saat perpindahan arus listrik terjadi, yang kebanyakan bersumber dari awan. Karena konduktor dan media hantaran yang bermacam-macam ini, dan juga proses terbentuknya petir tidak senantiasa sebab satu faktor saja, maka bentuk penampakan kilat juga beragam.


Inilah berbagai macam tipe-tipe kilat:



  1. Staccato. Jenis staccato yakni tipe kilat yang durasinya pendek dengan garis-garis yang hampir selalu tampak seperti satu tarikan saja dan sangat terang. Pada satu tarikan tersebut terdapat beberapa cabang-cabang. 

  2. Awan ke Bumi – Negatif. Petir jenis ini merupakan petir yang paling lazim.

  3. Awan ke Bumi – Positif. Petir ini mampu diketahui dari bentuk kilatannya yang tunggal dan umumnya tidak memiliki banyak cabang. Jenis petir bermuatan konkret ini lebih berbahaya dibandingkan dengan petir bermuatan negatif. Karena kekuatannya jauh lebih besar ketimbang petir bermuatan negatif, yakni sekitar 1 miliar volt (petir bermuatan negatif hanya 300 juta volt), sepuluh kali lipat ampere lebih banyak dibandingkan dengan petir bermuatan ion negatif. Meskipun temperaturnya sama panas, tetapi bertahan lebih lama daripada yang negatif. 


  4. Bumi ke Awan. Petir ini dapat dikenali dari kilatannya yang berasal dari tanah menuju awan. Kebalikan dari petir awan ke bumi, cabangnya menyebar di bab atas. Biasanya sambaran ini terjadi setelah petir menyambar bumi dan tertangkap oleh benda penghantar listrik mirip menara, yang lalu mengembalikan sambaran itu ke langit.

  5. Awan ke awan, dalam awan yang sama. Kilatannya menyambar mirip merambat di dalam daerah awan yang serupa, lazimnya membentuk seperti jaring keuntungan-keuntungan di antara awan tersebut. 

  6. Anvil crawler. Petir ini mampu dimengerti dengan rambatannya yang lambat dan jangkauannya yang luas, menjelajahi langit.


  7. Sambaran dari awan ke udara. Seperti namanya, kilatannya berawal dari awan dan menyambar ke udara kosong. 

  8. Petir ini (sebelah kiri) memiliki kilatan yang berupa seperti butiran-butiran manik. Jenis petir ini tergolong cukup jarang terjadi.  

  9. Ada juga petir yang nampaknya berganda. Namun fenomena ini terjadi alasannya efek kamera saja. Jadi, ketika pengambil gambar memotret gambar ini, kameranya bergerak sehingga tampaknya petir ini terduplikasi. 


Demikian penjelasan tentang proses terjadinya kilat dan jenisnya. Semoga berfaedah dan berhati-hatilah selalu jika mendengar suara petir maupun menyaksikan kilat.



Sumber ty.com

Sabtu, 19 Desember 2020

Pola-Contoh Fatamorgana Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kata “fatamorgana” berasal dari legenda Raja Arthur, yaitu dari nama adik dari Raja Arthur yang bernama Morgan le Fay. Morgan le Fay ini sendiri yaitu seorang penyihir yang mampu mengubah wujudnya menjadi berbagai macam bentuk. Pada zaman dulu orang-orang, utamanya para pelaut mengira bahwa beragam tipu akal kancil seperti delusi yakni permainan sihir dari Morgan le Fay. Istilah ini pertama kali digunakan di Inggris pada tahun 1818, ketika itu dipakai untuk menjelaskan fenomena yang terlihat di lautan di Sisilia, Italia.


Pada prinsipnya, fatamorgana ialah fenomena akibat pembiasan cahaya. Proses terjadinya fatamorgana yaitu saat cahaya melalui lapisan udara yang berbeda suhu, biasanya pada permukaan tanah dimana terdapat lapisan udara yang panas sementara di lapisan atasnya suhu udara cukup sejuk. Dalam kondisi tersebut cahaya yang melalui lapisan udara berbeda suhu itu kemudian terpantulkan oleh hawa udara panas sehingga warna cahaya yang datang ke tanah dengan cepat naik lagi ke lapisan udara di atasnya. Saat itulah terjadi fenomena delusi optikal alamiah tersebut.


Fatamorgana secara drastis mengubah bentuk orisinil dari objek sampai benar-benar berlainan dari bentuk aslinya. Fenomena ini mampu dilihat dari banyak sekali macam kawasan dan keadaan; di daratan atau di bahari, baik di tempat ekstrim mirip padang pasir atau kutub.


Fenomena ini paling sering terlihat di kawasan kutub, utamanya pada deretan es besar yang memiliki suhu temperatur rendah. Namun fatamorgana bisa diamati nyaris di seluruh daerah. Di kawasan kutub, fenomena fatamorgana ini dapat diperhatikan di hari yang relatif masbodoh. Di padang pasir, di atas permukaan laut atau danau, fatamorgana mampu diamati di hari yang relatif panas. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami beragam acuan pembiasan cahaya, diantaranya:



  • Bayangan Kapal


Di pelabuhan sering tampakbayangan kapal yang terdistorsi, atau terjadi pembiasan cahaya yang menimbulkan kapal terlihat sedang terbang. Konon asal seruan Flying Dutchman juga berasal dari fenomena ini, saat itu para pelaut di era pertengahan menyaksikan ada kapal tak berpenghuni yang terbang di kejauhan, di atas permukaan air laut. Karena panik, mereka mengarang kisah perihal kapal misterius tak berpenghuni yang dikutuk untuk mengarungi lautan selama-lamanya.


Yang terjadi ialah demikian; pada dasarnya setiap objek memantulkan cahaya, dalam warna-warna yang berbeda. Ketika terjadi perbedaan lapisan udara antara yang hangat dengan yang masbodoh menimbulkan pembiasan cahaya. Akibatnya cahaya tersebut terpantulkan sehingga seakan-akan tampak terbang.





  • Bayangan di siang dan sore hari


Contoh fatamorgana dalam kehidupan sehari-hari berikutnya adalah bayangan pada siang hari dan cuaca sedang terik, jalanan terasa sungguh panas. Terbentuklah lapisan udara panas yang tipis sedikit di atas tanah. Lapisan udara panas tersebut lalu memantulkan cahaya berbentukwarna langit sehingga tampaknya ada genangan air di kejauhan.


Pada gambar ini tampakmatahari terbenam dan pantulan cahayanya terlihat pada garis fatamorgana.


  • Fatamorgana di Kepulauan Svalbard, Norwegia



Mari mengambil acuan dari fatamorgana yang pernah terjadi di daerah kepulauan Svalbard, Norwegia. Fenomena tersebut dipantau dari ketinggian 4 meter di atas permukaan air laut. Angin berembus dengan hening dan suhu udara 6 derajat celsius. Es yang membeku menyejukkan udara di sekitarnya, membentuk lapisan temperatur yang berlawanan di udara sehingga lapisan udara yang lebih dingin berada di bawah lapisan udara yang lebih hangat.


Ketika keadaan tersebut terjadi, cahaya yang bergerak ke atas dari objek di kejauhan itu terbiaskan ke bawah oleh lapisan udara yang terbentuk oleh suhu yang berbeda tadi. Di mata kita, objek yang terefleksikan ini terlihat terbang di udara.


Foto di atas diambil pada tanggal 17 Agustus 2009. Tampak ada pantulan bayangan objek yang melayang di atas tebing-tebing es. Peristiwa ini terjadi alasannya adalah perbedaan lapisan udara bersuhu sejuk (di bawah) dengan lapisan udara yang lebih hangat (di atasnya), maka bayangan objek itu terpantul kembali ke bawah.



  • Fatamorgana Kota Terbalik


Kadang era fatamorgana itu menampilkan bayangan objek dengan bentuk yang terbalik mirip yang tampak pada foto di bawah ini. Gambar ini diambil di Michigan dan menampakkan bayangan gedung-gedung pencakar langit dalam keadaan terbalik.


Ingat kehebohan yang terjadi balasan penampakan kota melayang di China beberapa waktu kemudian? Pada dikala itu seseorang merekam video perihal penampakan kota terbang di atas awan. Beberapa spekulasi muncul dikala orang berusaha menerangkan apa yang sedang terjadi. Mulai dari penampakan dunia paralel, kota di atas awan, serangan alien, tetapi para ilmuwan berpendapat bahwa fenomena itu terjadi sebab fatamorgana.



Untuk mengetahui karakteristik cahaya dan kejadian pembiasannya itu, ada baiknya kita mengamati insiden pembiasan cahaya yang terjadi di kehidupan sehari-hari.


Ketika memasukkan benda, mirip sendok contohnya ke dalam gelas, kita sering menyaksikan bahwa bagian yang masuk ke dalam air itu terlihat lebih besar dan bentuknya jadi tidak lurus. Peristiwa ini terjadi alasannya cahaya melewati dua medium yang berlainan index biasnya sehingga terjadi perbedaan kecepatan.


Di udara, cahaya bergerak dalam kecepatan 300.000 km/detik, dikala melalui medium yang berlainan seperti kaca, kecepatan cahaya akan melambat jadi 200.000 km/detik. Maka dari itulah terjadi pembiasan cahaya sehingga menghasilkan delusi optikal.


Hal ini pula yang memberi alasan kenapa air bak tampak lebih dangkal saat terlihat dari atas bak. Selain dari air gelas dan air kolam, acuan kejadian pembiasan cahaya ini juga terjadi pada malam hari ketika kita keluar untuk melihat bintang-bintang di langit. Cahaya bintang yang tampak di langit itu bantu-membantu mengalami pembiasan cahaya ketika cahaya yang mereka pancarkan masuk melalui lapisan atmosfer Bumi. Akibatnya lokasi sebetulnya dari objek-objek langit tidak akurat.


Kacamata juga menerapkan pembiasan cahaya untuk membantu penderita gangguan kelainan mata untuk dapat melihat mirip orang normal. Bentuk permukaan lensa kaca turut memengaruhi karakter cahaya yang terbiaskan.


Selain itu hawa panas sekalipun juga mampu melaksanakan pembiasan cahaya. Misalnya ketika kita menyalakan lilin, udara di sekitar lilin akan terlihat bergerak-gerak karena pemuaian. Di hari yang sungguh panas dikala macet di kota besar, kita bisa menyaksikan pemandangan di sekitar kendaraan beroda empat (lazimnya bagian atas) bergerak-gerak. Ini juga ialah acuan pembiasan cahaya oleh hawa panas.


Demikian penjelasan mengenai teladan-contoh fatamorgana dalam kehidupan sehari-hari dan proses terjadinya. Semoga berguna.



Sumber ty.com

Selasa, 15 Desember 2020

6 Negara Tanpa Malam Hari Di Dunia Dan Videonya

Perubahan siang dan malam tidak bisa dipisahkan, dimana pergantian tersebut terjadi karena adanya perputaran bumi atau yang disebut rotasi bumi dan juga revolusi bumiProses terjadinya siang dan malam di Bumi  menerangkan dimana bumi mengelilingi matahari selaku sumber cahaya saat siang. Tidak bisa disangkal baik siang maupun malam merupakan dua hal yang diharapkan untuk kelancaran hidup manusia di bumi.


Berbicara soal siang dan malam, di Indonesia termasuk negara yang beruntung karena mendapatkan 12 jam siang dan 12 jam malam. Waktu tersebut sangatlah sebanding dan membuat lebih mudah masyarakat dalam berkegiatan. Hal ini juga mempunyai efek pada iklim Indonesia yang masuk klasifikasi iklim tropis dan hanya mempunyai 2 demam isu yakni panas dan juga hujan.


Sayangnya hal ini akan berlawanan pada negara yang mengalami iklim empat ekspresi dominan. Dimana mereka mesti merasakan demam isu semi, dan musim gugur, isu terkini masbodoh dengan suhu yang cukup rendah dan saat ekspresi dominan panas suhu cukup tinggi.


Hal ini juga mensugesti kondisi siang dan malam negara tersebut. Bahkan beberapa negara berikut ini tidak mempunyai waktu malam hari alasannya letaknya. Negara mana saja?



  1. Norwegia


Negara tanpa malam hari di dunia yang pertama adalah Norwegia. Fenomena ini telah biasa dialami masyarakat Norwegia namun hal yang hebat bagi banyak penduduk negara lain. Negara ini terletak di erat sektor Kutub Utara. Dimana Norwegia memang menjadi negara yang mengalami pergantian animo cukup ekstrem. Salah satu kota di Norwegia bernama Hammerfest yang berada paling Utara memiliki siang hari selama 24 jam dikala awal Mei hingga simpulan Juli, hal ini menimbulkan udara di kota tersebut sungguh panas dan mesti menggunakan AC.


Selain itu di beberapa kota lain di Norwegia akan mengalami fenomena yang dinamakan midnight sun. Dimana waktu tersebut telah menandakan tengah malam, namun tetap ada matahari yang seolah mirip terbenam namun tidak sepenuhnya. Sehingga negara tersebut dipenuhi sinar senja dan kembali terperinci.



  1. Islandia


Islandia adalah suatu negara yang terletak di barat bahari benua Eropa. Negara ini populer akan pemandangannya yang indah dan juga letaknya yang sangat bersahabat dengan kutub utara. Dimana ketika isu terkini panas berlangsung maka waktu siang berjalan 24 jam yang betul-betul disinari oleh matahari. Begitu pun sebaliknya, saat demam isu hambar Islandia akan benar-benar gelap selama 24 jam.


Negara ini akan mengalami malam terlama di awal bulan juni ialah matahari hanya terbit selama 3 jam saja. Sedangkan untuk siang terpendek terjadi pada bulan Desember yakni selama 3 jam saja. hal ini terjadi terbalik saat ekspresi dominan panas akan berakhir maka siang selama 24 jam juga akan secepatnya berakhir. Matahari di Islandia seolah tidak pernah terbenam saat isu terkini panas.



  1. Kanada


Negara yang terletak di Benua Amerika ini memang mempunyai keunikan tersendiri. Negara ini terletak di bagian Utara Benua. Terkenal dengan daun Mapple dan juga selaku negara paling besar di dunia kedua yang menyebabkan Kanada menjadi negara menarik dan banyak dikunjungi. Namun ternyata fenomena dan keunikannya bukan cuma besar dan produksinya.


Dua kota di Kanada ialah Yukon dan Nunavut menjadi dua kota yang senantiasa mengalami siang hari sangat panjang selama ekspresi dominan panas di Kanada. Masyarakat disini tidak bisa mencicipi matahari terbenam dan malam tiba dikala ekspresi dominan panas. Matahari akan ada sehari penuh mulai dari Juni sampai Agustus.



  1. Alaska


Alaska merupakan salah satu negara yang masuk kedalam kawasan Amerika Serikat dan populer akan sumber daya alamnya yang melimpah ruah. Alaska masuk kedalam negara yang tidak memiliki maritim atau exclave yang mengakibatkan Alaska terpisah daratan dari Amerika Serikat. Selain sumber daya alam yang menjadi daya tariknya fenomena siang seharian pun terjadi di negara ini. Salah satunya adalah kota Borrow yang mengalami siang hari 24 jam selama 90 hari. Masyarakat asli kota tersebut memakai alumunium foil di rumahnya untuk menggelapkan rumah dan menciptakan kesan malam hari sehingga mereka mampu tidur dengan tenang.



  1. Swedia


Negara dengan bendera biru dan kuning ini ialah negara yang terletak di Eropa Utara yang mana sangat akrab dengan kutub utara. Hal ini menjadikan salah satu kotanya Lulea yang mengalami siang hari selama 23 jam dan hanya mengalami kota gelap selama 30 menit saat trend panas. Sehingga penduduk akan berupaya menggelapkan rumah selama lebih dari 30 menit untuk menciptakan rumah terasa malam hari.



  1. Finlandia


Finlandia ialah negara terakhir yang merepotkan sekali menemui malam saat animo panas. Karena negara ini berada di lingkar kutub, maka selama musim panas matahari akan bersinar 24 jam. Fenomena ini sama mirip di Norwegia sebab mengalami midnight sun.


Itulah keenam formasi negara yang harus melalui ekspresi dominan panas tanpa malam hari dan mengkondisikan rumah atau kawasan tinggalnya supaya tidak terusik dengan gelap. Terutama untuk Finlandia dan juga Norwegia, banyak turis yang justru sengaja datang dikala trend panas untuk menikmati fenomena midnight sun yang menggembirakan.


Berikut video yang mengambarkan ihwal negara tanpa malam hari di dunia. Semoga berguna.




Sumber ty.com

Rabu, 09 Desember 2020

Proses Terjadinya Salju Dan Fakta-Faktanya

Salju terbentuk dikala partikel es kecil di awan menyatu dan membentuk kristal es. Saat kristal es itu terbentuk, beliau akan semakin membesar dengan cara menyerap air yang ada di sekitarnya. Ketika sudah menjadi cukup berat, mereka lalu jatuh ke atas tanah. Kumpulan kristal es ini yang kita lihat selaku titik-titik salju. Salju itu sendiri terbentuk dikala suhu udara sangat rendah dan ada kelembaban di atmosfir cukup untuk membentuk kristal es.


Proses terjadinya salju yakni terbentuk saat suhu atmosfir udara berada di bawah titik beku mirip 0 derajat celsius atau 32 derajat fahrenheit. Ada pula muatan minimal untuk kelembaban di udara.



Bila suhu tanah pada titik beku atau di bawahnya, salju akan meraih tanah. Namun, salju masih bisa meraih tanah dikala suhu tanah berada di atas titik beku jikalau kondisinya tepat. Dalam perkara ini, kristal salju akan mulai meleleh dikala mereka mencapai lapisan udara yang lebih panas. Lelehannya ini membuat pendinginan yang menurunkan suhu udara secepatnya di sekitar kristal salju yang meleleh ini. Pada umumnya, salju tidak akan terbentuk jikalau temperatur tanah tidak kurang dari 5 derajat celsius (atau 41 derajat Fahrenheit).


Salju bisa terjadi sekalipun suhu begitu rendah, selama masih ada sumber kelembaban dan udara masih terasa hambar. Namun hujan salju yang deras akan terjadi dikala ada udara hangat di sekitar tanah, lazimnya sekitar 9 derajat celsius (15 derajat Fahrenheit) atau lebih hangat lagi. Karena udara yang hangat bisa mengandung lebih banyak uap air.


Karena proses terjadinya salju membutuhkan kelembaban, maka area yang sungguh masbodoh tetapi sungguh panas bisa menjadi sungguh jarang mengalami hujan salju. Lembah Kering Antartika, contohnya, membentuk kawasan bebas salju terluas di benua tersebut. Lembah Kering ini cukup cuek namun memiliki angin yang sangat kuat untuk membantu mengurangi kelembaban di udara. Akibatnya tempat ekstrim bersuhu acuh taacuh ini tidak mengalami banyak salju.


Daerah Bersalju di Iklim Tropis


Salju diidentikkan dengan suhu udara cuek, sehingga secara logika mustahil ada salju yang turun di kawasan panas, misalnya  kawasan beriklim tropis. Namun pada tahun 1623, seorang berjulukan Jan Carstenz mendapatkan puncak Jayawijaya yang bersalju ini. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama satu-satunya gletser tropika yang terdapat di Indonesia.



Dengan ketinggian 4.884 m di atas permukaan air bahari, Puncak Jayawijaya menjadi puncak tertinggi di Asia Tenggara dan termasuk dalam tujuh gunung paling tinggi sedunia setelah Mt Everest. Akibat dari ketinggian itu, daerah tersebut bersahabat dengan lapisan awan-awan yang tinggi bersuhu rendah. Awan-awan inilah yang mengandung banyak kristal-kristal es yang kesudahannya turun selaku salju.


Sementara itu zona demam isu di kawasan Papua Tengah tidak mengenal musim kemarau, kondisi zona tersebut juga berair sepanjang tahun. Oleh sebab itu perkembangan awan di sana relatif tinggi dan mengakibatkan hujan es.


Peranan Jenis Awan Bagi Turunnya Salju


Di tempat Pegunungan Dieng terdapat  suhu udara ekstrim karena bersuhu sekitar 0 derajat Celsius. Ketika puncak isu terkini kemarau datang, dataran tinggi ini mengalami fenomena bun upas. Bun Upas ini yaitu istilah bagi petani lokal saat terjadi embun beku di pagi hari.



Menurut BMKG, penyebab fenomena itu ialah alasannya adalah puncak trend kemarau justru menyebabkan suhu udara di puncak Dieng menjadi rendah alasannya adalah  adanya pemikiran udara cuek yang berasal dari Australia.


Namun suhu udara yang ekstrim rendah mirip itu tidak lantas menimbulkan Dieng mengalami salju. Alasannya tidak lain ialah alasannya adalah awan yang menumpuk di kawasan Dieng itu yakni awan cumulonimbus. Awan ini biasa timbul di daerah tropis dan membawa hujan bersamanya. Sedingin-dinginnya hawa di daerah tropis, awan cumulonimbus cuma mampu memberikan sebatas hujan es, bukan hujan salju.


Menurut Harry Tirto, Kabag Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, cumulonimbus justru malah akan menjatuhkan hujan bersuhu hangat kalau menurunkan hujan dalam suhu ekstrim tersebut. Sementara itu awan yang bertanggung jawab untuk menurunkan salju yaitu awan nimbostratus.


Nimbostratus ialah jenis awan di lapisan rendah yang cukup tebal dan mempunyai bentuk yang menyebar, seperti kabut tebal yang menyelimuti langit dengan warna yang kelabu. Seperti awan cumulonimbus, awan nimbostratus juga ialah awan pembawa hujan. Namun bedanya, hujan yang diturunkan oleh nimbostratus tidak menyebabkan petir.


Ketinggian Dieng berada di 2.565 m di atas permukaan air maritim, relatif sama dengan ketinggian awan nimbostratus yang berada di kisaran 600 m-3.000 m di atas permukaan air laut. Itu sebabnya nyaris tidak mungkin salju mampu turun di dataran tinggi Dieng.



Lalu, bagaimana salju mampu ada di puncak Jayawijaya yang ketinggiannya jauh berada di atas lapisan awan nimbostratus? Rupanya syarat turunnya salju di sebuah tempat tidak cuma tergantung dari awan saja. Melainkan batas ketinggian yang bersangkutan dengan tekanan atmosfer pada tempat tersebut.


Tekanan atmosfer ini juga dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bumi. Semakin erat suatu tempat dengan Bumi, maka makin besar tekanan atmosfernya. Semakin tinggi dari permukaan air bahari, tekanan atmosfer akan menjadi semakin ringan. Hal ini disebabkan karena semakin jauh dari permukaan Bumi, maka molekul udara juga menjadi semakin jarang. Pada ketinggian 3.200 m di atas permukaan air maritim, suhu udara telah mengalami penurunan yang drastis.


Adapun syarat proses terjadinya salju yaitu pada ketinggian di atas 4.500 m di atas permukaan air maritim di kawasan khatulistiwa. Pada ketinggian tersebut salju yang terdapat di kawasan itu tidak akan mencair sepanjang animo.


Sayangnya beberapa gletser di pegunungan Jayawijaya itu sudah menghilang. Antara tahun 1939-1962, puncak Trikora di Pegunungan Maroke, di sekeliling Jayawijaya ini sudah menghilang. Sementara itu semenjak tahun 1970, pemantauan dari satelit telah menunjukkan adanya penyusutan pada gletzer di Puncak Jayawijaya. Gletzer Meren telah mencair sepenuhnya pada tahun 2000, sedangkan gletzer lainnya pun mengalami penyusutan sebanyak 7 meter dan menghilang sama sekali di tahun 2015. Penyusutan balasan pemanasan global ini masih terus terjadi dan diprediksikan pada tahun 2020, sudah tidak ada lagi salju di puncak Jayawijaya.



Sumber ty.com

Sabtu, 05 Desember 2020

Perbedaan Gempa Tektonik Dan Gempa Vulkanik

Gempa merupakan bencana alam yang sungguh ditakuti oleh penduduk Indonesia,hal ini didasari oleh keadaan Indonesia yang memang berada di area “ring of fire” yang menimbulkan pergeseran, gunung meletus, adanya pergerakan lempengan terjadi di negara kita. Alasan inilah juga yang menimbulkan Indonesia terpecah menjadi negara kepualauan yang sangat banyak bahkan sampai ribuan.


Berbicara soal gempa, baru-baru ini terjadi gempa bumi ditambah potensi Tsunami dan peristiwa Tsunami yang mengakibatkan cemas masal di Indonesia. Jika gempa terjadi beberapa bulan yang lalu di Gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kembali terjadi gempa Palu dibarengi tsunami pada simpulan September 2018 lalu. Tentu selain menelan korban jiwa, kehancuran bangunan, rumah dan juga menimbulkan Palu nyaris rata dengan tanah ialah pengaruh terbesar yang terjadi.


Gempa sendiri memiliki jenis dan alasannya masing-masing, tidak semua gempa disebabkan oleh hal yang serupa. Berikut ini ada dua jenis gempa yang cukup sering terjadi di Indonesia dan beberapa negara yang lain yang serupa, yakni Tektonik dan juga Vulkanik. Berikut ini penjelasan perbedaan gempa tektonik dan gempa vulkanik:



  1. Gempat Tektonik dan Akibatnya


Pertama ialah gempa yang sering terjadi dan disebut Gempa Tektonik. Dimana gempa ini terjadi akibat insiden pergerakan lapisan di bagian kulit bumi ataupun adanya patahan yang diakibatkan pergerakan lempengan bumi.


Sehingga lempengan menimbulkan pemindahan dan pergeseran di bagian kulit bumi atau di permukaan tanah rumah kita. Lempengan yang terus bergerak dan aktif terdapat di area Timur sekitar Sulawesi dan di bawah pulau Sumatera. Adanya perubahan tersebut pasti menyebabkan getaran di permukaan bumi yang alhasil menjadi Gempa Tektonik.


Gempa ini terjadi cukup luas dan mengakibatkan pergerakan yang kuat dan cepat. Sehingga kalau terjadi gempa tektonik akan menjadikan tanda bahaya alasannya akan menghancurkan gedung dan juga rumah. Biasanya imbas yang didapatkan rumah retak hingga hancur, longsor, adanya kemerosotan tanah dan juga lingkungan.


Beberapa kejadian gempa tektonik di Indonesia lumayan banyak yakni gempa Flores 1992, Nabire 2004, Alor 2004, dan di Samudra Hindia yang lebih diketahui sebagai Gempa Aceh 2004. Jelas sekali dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana Gempa tektonik Aceh menggemparkan dan merobohkan banyak bangunan, bahkan sampai terjadinya Tsunami dan menenggelamkan seluruh daratan Aceh.


Gempa tektonik ini sulit sekali untuk dideteksi, namun sesudah adanya gempa peluangTsunami masih bisa diumumkan dan dideteksi. Selain karena memakai alat, Tsunami mampu dideteksi secara gampang seperti melihat air laut surut, ikan dan hewan laut mulai naik ke permukaan dan juga mudah ditemukan dan tentu saja suhu di sekitar pantai berangin.



  1. Gempa Vulkanik dan Runtuhan


Gempa berikutnya bernama gempa vulkanik, dimana gempa ini berhubungan dengan gunung berapi. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa gunung berapi cukup banyak di Indonesia mengingat kita berada di area ring of fire yang membuktikan garis aktif gunung berapi. Sebelum terjadi atau keluarnya magma, pasti gunung menawarkan tanda berbentukgetaran dan disebut gempa vulkanik.


Gempa ini menyebabkan getaran di permukaan bumi dan risikonya mengeluarkan magma dari dapur magma, insiden magma keluar ini bisa hingga ke kulit bumi maupun hingga ke permukaan bumi. Getaran gempa vulkanik terbatas di badan gunung api dan di area sekitarnya akan menjadi area yang paling terasa.


Jika mengatakan soal ancaman, maka efek dan bahaya cukup besar. Dimana saat gempa vulkanik terjadi maka akan ada tanda bahwa berbagai kandungan gunung api akan dimuntahkan dan membahayakan makhluk hidup. Contohnya bebatuan, debu, lahar dan juga gas beracun. Tentu yang terakhir ialah magma atau lava panas yang bisa membakar dan menghanguskan apapun.


Lantas bagaimana dengan gunung yang berada di lautan ? contoh paling besar ialah gempa vulkanik yang disebabkan oleh Gunung Krakatau yang meletus. Gunung tersebut pernah meletus dan menimbulkan gempa di daratan ataupun di lautan, selain dari getaran air maritim juga ikut pasang dan memberikan efek seolah ada peristiwa tsunami.


Ketika anda menempati kawasan rawan gempa di Indonesia, maka jalan satu-satunya pasti mengungsi atau berpindah dan mencari area yang lebih aman. Namun sebab area tersebut merupakan kawasan yang telah usang ditempati biasanya cukup sulit meninggalkan area yang berpeluang gempa. Untuk anda yang ingin menangani kejadian ini ada beberapa tahapan yang mampu dikerjakan :



  • Selalu amati isu dari pemerintah atau BMKG utamanya alasannya akan berbagi isu tentang keamanan gempa dan sejenisnya

  • Selalu mengetahui tempat aman atau tempat mengungsi, contohnya jika akrab dengan pantai mencari area yang lebih tinggi. Jika berada di gunung berapi maka cari area di daratan rendah

  • Perhatikan keluarga anda dan juga usahakan untuk menyelamatkan prioritas tertinggi


Demikian penjelasan tentang perbedaan gempa tektonik dan gempa vulkanik. Semoga bermanfaat.



Sumber ty.com

Proses Terjadinya Gempa Bumi Berdasarkan Jenisnya

Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi di bumi yang mengakibatkan manusia dan makhluk hidup lainnya mengalami imbas bahkan menimbulkan kerugian. Sebenarnya fenomena alam tersebut telah masuk akal terjadi, mengingat bumi terus menerus aktif dan memproduksi semua materi didalam perut bumi secara otomatis, sebagai manusia yang menempati bumi tentu mesti menerima konsekuensi atau resiko yang terjadi.


Karena itulah banyak digalakan kampanye untuk menjaga bumi agar tetap higienis dan sehat, untuk mengurangi kemungkinan terjadi hal yang mengerikan seperti petaka. Salah satunya yang sedang marak terjadi, utamanya di negara yang memang dilewati bundar aktif atau lempengan bumi adalah Gempa Bumi.


Gempa bumi merupakan getaran ataupun guncangan yang terjadi di permukaan bumi dan dirasakan dengan skala yang berbeda-beda. Gempa bumi menandakan adanya pergerakan pada lempengan bumi yang menyebabkan imbas domino pada benda di sekitarnya.


Kata gempa bumi sendiri merujuk ke kawasan asal terjadi pergerakan atau kejadian tersebut, meskipun kenyataannya bumi ialah planet yang padat. Namun alasannya selalu bergerak dengan kecepatan yang tidak mampu dinikmati manusia, gempa bumi melakukan aktifitas yang menimbulkan tekanan yang alhasil sering terjadi pergerakan karena tidak bisa ditahan.


Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang sangat besar di lempengan bumi. Semakin usang lazimnya akan makin stress dan juga besar. Akhirnya meraih suatu kondisi dimana tekanan tersebut tidak mampu ditampung atau ditahan lagi.


Proses terjadinya gempa bumi bahu-membahu berlawanan-beda, dimana gempa bumi terjadi dikala batuan yang ada di kerak bumi mengalami tekanan dan mengakibatkan lempengan bergesekan. Lempengan yang dimaksud mampu jadi antar samudera maupun antar benua. Ketika terjadi tumbukan maka gempa bumi akan terjadi. Namun proses ini merupakan gempa yang paling lazim, ada beberapa gempa yang digolongkan menurut sebabnya :



  1. Gempa Tektonik


Gempa tektonik ialah gempa yang terjadi akhir terbenturnya lempengan bumi atau bergesernya lempengan bumi, hal ini menimbulkan imbas pada permukaan bumi yang kesannya menyebabkan gempa. Seperti yang diterangkan pada paragraf awal, gempa tersebut paling umum terjadi dan bisa dimulai dengan skala yang beragam mulai dari skala rendah sampai yang sangat besar.


Proses terjadinya gempa tektonik berawal dari interaksi antar lempeng yang menjadikan lempengan lain masuk atau menyusup kebawah biasa disebut dengan Subduksi. Gempa bumi ataupun getaran akan menjelma semakin besar apabila terdapat sesuatu yang mengganjal tetapi kemudian ikut menyusup secara datang datang dan mendadak. Hal ini yang kerap kali mengakibatkan tanah retak dan menelan banyak sekali gedung dan sebagainya.



  1. Gempa Vulkanik


Gempa kedua datang dari fenomena gunung meletus atau bencana akibat keluarnya magma dari perut bumi. Gunung memiliki abad aktif, dimana gunung mampu meletus dan mengeluarkan magma akhir tekanan yang ada dan juga energi bebatuan yang memang telah waktunya dikeluarkan atau diletuskan. Anda pasti tahu bahwa erupsi gunung lazimnya diawali dengan getaran atau tabrakan antar magma dan perut bumi yang hasilnya menimbulkan gempa. Jika gunung tersebut ada di bahari maka menimbulkan gempa diikuti gelombang maritim atau tragedi tsunami.



  1. Gempa Ekstraterestrial


Gempa berikutnya yang cukup jarang terjadi, tetapi tetap ditakuti oleh banyak orang. Gempa ini disebut gempa ekstraterestrial yang disebabkan oleh adanya meteor atau benda langit yang masuk dan membentur atmosfer bumi. Hal ini dikerjakan oleh atmosfer biar bisa melindungi dari bumi dan tidak menolak benda untuk masuk. Sehingga menjadikan getaran dan risikonya terasa atau terjadi gempa.



  1. Faktor Lainnya


Faktor lainnya ditemukan dari gerakan inti bumi atau gelombang yang lazimnya terjadi. Dimana inti bumi memang aktif dan memproduksi lahar untuk bisa melaksanakan sumber daya yang ada, namun gelombang ini bisa menjadi sumber utama mengapa terjadinya getaran atau gelombang yang terasa sampai permukaan bumi. Namun getaran ini bersifat ringan dan umumnya tidak terlampau terasa, sebab manusia melaksanakan aktifitas sehari-hari.


Berbicara soal gempa bumi sebenarnya fenomena ini dapat terjadi jutaan kali akhir adanya pergerakan lempengan bumi yang aktif. Namun kembali lagi getarannya tidak terasa, dan hanya beberapa gempa yang mempunyai skala besar saja yang terasa oleh insan. Biasanya diukur dalam skala richter. Dengan ukuran mulai dari 1 (getaran ringan) sampai dengan 9 (getaran menghancurkan). Gempa terburuk dan terparah terjadi pada selesai tahun 2004,  di lautan Hindia, Banda Aceh, Indonesia.


Mengenai gempa memang merupakan hal yang menakutkan, namun perlu anda ketahui bahwa kita tetap tidak bisa lari dari fenomena alam yang hendak terus terjadi ini. namun anda tetap bisa berjaga dan mencari cara untuk menangkal kemungkinan yang terjadi, sekurang-kurangnyamenyelamatkan diri dan keluarga tercinta.



Sumber ty.com

Jumat, 27 November 2020

4 Proses Terjadinya Pelangi Api Dan Fenomena Yang Pernah Terjadi

pelangi apiAlam mempunyai banyak sekali komponen dan juga kejadian yang hebat. Kejadian atau insiden alam dikenal juga dengan sebutan fenomena alam. Berbagai fenomena alam yang menakjubkan ini timbul alasannya efek dari banyak sekali macam reaksi yang terjadi di alam. Sebagai acuan yaitu akhir atau hasil dari pemanasan sumber- sumber air yang ada di bumi oleh panas matahari, maka akan menghasilkan proses terjadinya hujan. Atau akibat rintik- rintik air hujan yang terkena oleh sinar matahari dan memantulkan sinar maka menjadi proses terjadinya pelangi.


Sebagian besar fenomena alam ini pasti dapat dijelaskan secara ilmiah sehingga mampu diterima oleh logika sehat manusia. dari aneka macam macam fenomena alam, ada beberapa fenomena yang sifatnya rutin, ada pula yang munculnya sungguh jarang atau dikatakan selaku fenomena langka. Dan salah satu fenomena alam yang terbilang langka akan kita bahas dalam postingan kali ini. yaitu pelangi api.


Mungkin telah tidak aneh lagi bagi kita mendengar kata pelangi. Seperti yang kita pahami bareng bahwa pelangi merupakan fenomena alam yang timbul sesudah hujan reda. Pelangi terbentuk oleh adanya partikel- partikel uap air yang ukurannya sama kemudian terkena sinar matahari dan memantulkan cahaya dalam berbagai warna. Namun ada beberapa perbedaan dengan pelangi api. Beberapa fakta- fakta mengenai pelangi api antara lain selaku berikut:



  • Pelangi api tidak muncul sesudah turun hujan

  • Pelangi api tidak selalu melengkung

  • Memiliki bentuk mirip api yang berwarna- warni

  • Merupakan fenomena alam yang sungguh langka


Nah itulah beberapa hal yang mewakili pemahaman dari pelangi api dan juga perbedaan dengan pelangi pada umumnya.


Hampir semua fenomena alam di dunia ini memiliki beberapa proses terjadinya fenomena tersebut. Dalam hal ini, jika pelangi biasa mempunyai proses terjadinya, maka pelangi api pun juga melewati aneka macam proses tertentu. adapun beberapa proses terjadinya pelangi api adalah sebagai berikut:



  1. Adanya awan berwarna-warni yang terbentuk dari tetesan- tetesan air yang memiliki ukuran sama


Terbentuknya pelangi api diawali dari adanya sebuah proses terjadinya awan atau awan yang sudah jadi yang terbentuk dari tetesan- tetesan air yang mempunyai ukuran sama. Jenis- jenis awan yang biasa membentuk pelangi api yakni jenis-jenis awan cirrus. Awan cirrus sendiri ialah awan yang tipis seperti bulu. Awan ini ialah awan yang termasuk ke dalam klasifikasi tinggi.



  1. Posisi matahari berada di langit dengan sudut elevasi 58 derajat atau lebih


Pelangi api terbentuk sebab adanya cahaya matahari. Oleh sebab itulah maka pelangi akan terbentuk pada waktu pagi, siang atau sore. Nah untuk pelangi api ini terbentuk dikala posisi matahari di atas langit, jadi sekitar siang hari. pelangi api umumnya terbentuk saat posisi matahari berada pada sudut 58 derajat atau lebih.



  1. Kemudian awan memantulkan, membiaskan dan membelokkan cahaya dengan cara yang sama


Bertemunya cahaya matahari dengan awan- awan yang tercipta dari butiran- butiran air ini akan menciptakan reaksi adalah awan akan memantulkan, membiaskan dan membelokkan cahaya dengan cara- cara yang serupa. Difraksi gelombang cahaya tersebar membentuk contoh seperti cincin. Lingkaran penuh yang terdapat pada pelangi api ialah kumpulan dari aneka macam cahaya , tampak sejajar dengan garis cakrawala pada awan- awan cirrus dengan sentra lingkarannya selalu di bawah matahari.



  1. Akhirnya muncul cahaya- cahaya dengan warna dan juga gelombang yang berlawanan-beda


Dari banyak sekali proses tersebut maka muncullah cahaya dengan warna-warna dan dan juga panjang gelombang yang berlawanan- beda. Dari warna dan panjang  gelombang yang berlainan- beda ini maka terbentuklah pelangi api. Pada pelangi api, spektrum warnanya relatif akan berubah- ubah tergantung pada posisi awan dan matahari. Perubahan warna- warna ini akan terjadi pada awan yang terbentuk.


Meskipun contoh penyebaran warna-warna pada pelangi api ini berlainan-beda, namun warna-warna yang terbentuk senantiasa menciptakan teladan yang berulang- ulang sehingga selalu beraturan. Misalnya berawal dari warna biru kemudian ke hijau, merah ke warna ungu lalu kembali lagi ke biru, hijau, merah dan ungu dan begitulah senantiasa berulang- ulang.


Nah itulah beberapa proses terjadinya pelangi api. Jika melihat penjelasan di atas, terdapat perbedaan yang cukup mencolok dari proses terjadinya pelangi api dan juga pelangi biasa, proses terjadinya pelangi api ini yang terperinci tidak harus sesudah turun hujan, tetapi mengandalkan keberadaan awan-awan cirrus yang terbentuk dari butiran- butiran uap air dengan ukuran yang serupa. Adapun pelangi api ini pernah muncul di beberapa kawasan di dunia, diantaranya yakni:



  • Pelangi api di langit Florida, Amerika Serikat pada 31 Juli 2012

  • Pelangi api di langit daerah timur Murambi, bersahabat Lembah Odzi dan Mtanda Rage , Zimbabwe pada 19 Februari 2014

  • Pelangi api di langit Puget Sound, Washington pada 21 Juli 2014

  • Pelangi api di langit Hazard, Kentucky pada 8 Mei 2018


Nah itulah beberapa fenomena penampakan pelangi api yang ada di dunia. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, supaya bermanfaat untuk kita semua.



Sumber ty.com