Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2021

Fenomena Blue Moon : Proses Terjadinya – Waktu – Fenomena

blue moonSekalipun namanya demikian (Bulan Biru), tetapi hal tersebut tidak ada keterkaitannya dengan warna dari keadaan bulan tersebut. Walaupun secara literal, bisa saja terjadi saat bulan tampakberwarna biru, tergantung dari situasi atmosfer pada ketika itu. Misalnya terjadi letusan vulkanis yang meninggalkan partikel di atmosfer yang mengakibatkannya berwarna kebiruan.


Nama tersebut bahu-membahu merujuk terhadap bulan purnama perhiasan, dimana dalam setahun yang umumnya hanya mengalami 12 kali bulan purnama. Istilah “blue moon” ini diterapkan kepada bulan purnama ketiga pada suatu trend yang sewajarnya memiliki empat bulan purnama. Hal ini terjadi sekali dalam dua atau tiga tahun dalam daerah beriklim sub-tropis.


Satu rata-rata siklus bulan yaitu 29,53 hari. Ada sekitar 365,24 hari dalam setahun. Maka dari itu ada 12,37 siklus bulan (hasil dari pembagian 365,24 dengan 29,53) yang timbul dalam setahun. Sama mirip tahun kabisat dimana 365,24 menciptakan satu tahun kabisat (tahun berhari 366), kelebihan dari 12,37 siklus bulan itu menciptakan satu bulan purnama ekstra dalam dua atau tiga tahun. Bulan purnama ekstra itu muncul pada salah satu dari keempat demam isu. Itu sebabnya dalam isu terkini tersebut ada empat bulan purnama daripada tiga, dan disebut “blue moon”.


Namun berhubung pernah terjadi kesalahan-pahaman yang terjadi alasannya postingan yang ditulis oleh James Hugh Pruett dalam Sky and Telescope (Maret 1946), makna “Blue Moon” mempunyai arti adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan. Artikel tersebut berjudul “Once in a Blue Moon” (suatu dikala di bulan biru). Penulisnya salah mengartikan Almanak Para Petani Maine tahun 1937.


“Tujuh kali dalam 19 tahun semasa hidup kita, ada 13 bulan purnama dalam setahun. Ini mengakibatkan 11 bulan dengan satu bulan purnama, dan ada satu bulan yang mempunyai dua purnama. Maka saya artikan bulan kedua tersebut sebagai Blue Moon.”. Definisi dalam artikel ini kemudian disebar-luaskan lewat program radio “Star Date” pada 31 Januari 1980 dan suatu pertanyaan dalan permainan “Trivial Pursuit” tahun 1986.


Pernah terjadi pada tahun 2010 di zona waktu timur UTC+07, pada bulan Januari dan Maret masing-masing mempunyai dua bulan purnama. Purnama kedua dalam bulan itu lalu disebut dengan “Blue Moon”. Karena jangka waktu siklus bulan yaitu 30-31 hari, maka bisa dipastikan bulan Februari tidak akan pernah mempunyai Blue Moon.



Lalu, makna mana yang benar perihal Blue Moon? Apakah kita akan tetap menggunakan definisi yang orisinil atau yang telah disalah-pahami tersebut? Berhubung bahasa senantiasa berkembang seiring pertumbuhan zaman, makna manapun tidak ada yang salah.


Seorang astronom Texas, Donald W. Olson menulis di tahun 2006 pada majalah Sky & Telescope; “Dua dekade sudah berlalu semenjak istilah yang disalah-artikan tersebut digunakan. Namun, mirip Jin yang sudah kadung dipanggil keluar dari botolnya, dia tidak bisa dipaksakan untuk masuk kembali (nasi sudah menjadi bubur). Tapi itu bukanlah hal buruk yang perlu dipermasalahkan.”


Contoh Fenomena Blue Moon


Memang ada ketika dimana bulan benar-benar jadi berwarna biru. Syarat untuk menyebabkan bulan terlihat biru yakni menyanggupi udara dengan banyak partikel yang sedikit lebih lebar dibandingkan dengan gelombang cahaya merah (0.7 micron)–tidak lebih besar atau lebih kecil dari itu. Memang sebuah insiden langka, namun gunung berapi kadang mengeluarkan awan semacam itu, sebagaimana kebakaran hutan.


Berikut yakni acuan kejadian faktual dimana bulan sangat tampakberwarna biru.



  1. Tahun 1950 dan 1951, sudah terjadi kebakaran hutan di Swedia dan Kanada. Partikel asap dan bubuk yang naik ke atmosfir memanipulasi warna bulan sehingga terlihat berwarna biru.

  2. 1883, saat gunung Krakatau mengalami erupsi besar yang abunya tersebar ke seluruh dunia. Pada kurun itu bula terlihat berwarna biru selama dua tahun.

  3. 1983 di Meksiko, terjadi erupsi gunung El Chichon, ini juga menimbulkan bulan tampakberwarna biru.

  4. Letusan gunung St Helens di tahun 1980

  5. Letusan gunung Pinatubo tahun 1991.

  6. Pada tanggal 23 September 1950, terjadi kebakaran di rawa Amerika utara dimana asapnya sudah mengepul selama bertahun-tahun di Alberta, Kanada. Akibat dari kebakaran itu, tidak hanya bulan saja yang tampakberwarna biru, tetapi matahari pun jadi tampakberwarna keunguan.


Penggunaan Kata “Blue Moon” dalam Kehidupan Sehari-Hari


Mengesampingkan fenomena alam yang melekat dalam Blue Moon, sebetulnya orang sering memakai nama ini selaku perumpamaan yang memiliki makna menunjukkan sesuatu yang tidak ada.


Menggunakan kata “blue moon” mirip menyampaikan sesuatu yang tidak akan terjadi. Misalnya, seseorang mengatakan “aku akan tiba ke rumahmu dikala bulan  berwarna biru”, itu sama saja artinya dengan “saya tidak akan pernah pergi ke rumahmu”. Hal ini disebabkan alasannya siapapun tahu bahwa bulan berwarna pucat, atau kekuningan. Warna merah masih mungkin tampaktetapi, biru itu tidak pernah menjadi warna bulan.


Namun lama kelamaan terbukti juga bahwa bulan ternyata mampu berganti warna menjadi biru (terutama sehabis terjadi erupsi gunung berapi), lama kelamaan makna yang melekat padanya berkembang menjadi “jarang” atau “langka”.


Selain itu, “Blue Moon” pada zaman dahulu juga punya makna “pengkhianat”. Kata “Blue” sesungguhnya mengambil alih kata yang telah usang tidak digunakan lagi, ialah “belewe” yang artinya “pengkhianat”. Makara sebetulnya nama bulan ke 13 ini yakni “betrayer moon” (bulan pengkhianat). Pemberian nama ini ada sangkut pautnya dengan budaya masyarakat setempat yang melaksanakan puasa (umat kristiani) berganda gara-gara kedatangan Blue Moon tersebut.


Fenomena Supermoon


supermoon31 Januari 2018, sesuatu yang sangat langka dan Istimewa telah terjadi. Pada saat itu, di tengah malam, sekitar pukul setengah dua, insan dapat melihat Blue Moon, Blood moon, dan gerhana bulan pada dikala yang bersama-sama.


Apa yang sedang terjadi?


Pada saat itu terjadi, bulan sudah meraih fase purnama untuk kedua kalinya di bulan yang serupa; Januari. Ini menyebabkan hari itu selaku hari dimana Blue Moon muncul. Pada ketika itu orbit bulan sudah berada di titik terdekatnya dengan Bumi. Menjadikannya “Supermoon”, dimana purnama terlihat lebih benerang 14% dibandingkan dengan yang umumnya. lalu, bulan sepenuhnya menyusup ke dalam bayangan Bumi pada dikala ini, menimbulkan gerhana bulan total. NASA menyebutnya “ffenomena Super Blood Blue Moon.”


Bagi para pengamat di Amerika Utara, inilah pertama kalinya ketiga fenomena tersebut terjadi sejak tahun 1866. Peristiwa ini begitu langka sehingga tidak siapa pun di seluruh penggalan Bumi mampu menyaksikannya.



Sumber ty.com

Jumat, 01 Januari 2021

Gerhana Bulan Total Blood Moon: Pengertian – Proses Terjadi – Acuan Fenomena

“Blood moon” diketahui juga sebagai gerhana bulan total, ialah fenomena yang sangat mempesona dan mampu dilihat secara kasat mata. Keindahan fenomenda total “blood moon” telah memancing khayalan orang sejak jaman dulu. Selain indah, fenomena gerhana bulan total “blood moon” juga dianggap angker serta mistis. Hampir setiap kebudayaan memiliki versinya masing-masing ihwal peristiwa gerhana bulan “blood moon”. Di China misalnya, gerhana bulan berarti ada seekor naga yang hendak mengkonsumsi matahari. Menurut mitos penduduk Jawa, gerhana terjadi alasannya adalah raksasa berjulukan Batara Kala yang berupaya melahap bulan. Dan masih banyak lagi mitos dan dogma kuno yang lain dari berbagai penjuru dunia, yang berusaha menerangkan dan menceritakan salah satu fenomena alam yang paling kasat mata ini.


Namun seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kini kita mampu menerangkan dengan tepat pengertian, proses terjadi, serta contoh fenomena gerhana bulan “blood moon”


Pengertian Gerhana Bulan “Blood Moon”


Mengapa disebut “blood moon?” Hal ini terjadi alasannya warna kemerahan yang muncul menutupi bulan. Sebenarnya disebut “bulan darah” juga bukan nama yang akurat, karena warna yang dihasilkan lebih ke arah jingga kemerahan, bukan merah pekat seperti darah, hehehe. Lalu mengapa bisa berganti warna menjadi jingga kemerahan? Sebagai catatan, gerhana bulan parsial masih menawarkan warna debu-abu perak khas penampakan bulan.


Jawabannya yakni karena sinar matahari. Jika kita perhatikan, sinar matahari saat sunset atau sunrise (matahari terbit dan terbenam) akan berwarna jingga kemerahan, tetapi ketika hari kian siang maka matahari bercahaya putih jelas. Fenomena perubahan warna sinar matahari ini mengikuti sebuah prinsip Rayleigh atau Rayleigh scattering yang mungkin mampu kita diskusikan di lain potensi .


Proses Terjadinya Gerhana Bulan “Blood Moon”


Gerhana bulan “blood moon” atau gerhana bulan total terjadi karena Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada posisi sejajar atau mendekati kesejajaran. Terbalik dengan gerhana matahari, gerhana bulan terjadi alasannya adalah bayangan Bumi yang menutup bulan. Jika diterangkan maka prosesnya mirip ini :



  • Bumi berada di antara Matahari dan Bulan dalam kondisi belum sejajar

  • Sedikit demi sedikit Bulan bergerak menuju kesejajaran dengan Bumi dan Matahari

  • Bayangan Bumi mulai menutupi Bulan, masih terlihat warna bubuk-bubuk perak khas warna Bulan

  • Bulan kian sejajar dengan Bumi dan Matahari. Pada puncaknya, bayangan kemerahan mulai menutupi Bulan

  • Matahari, Bumi, dan Bulan kini sejajar. Bayangan kemerahan sekarang menutupi seluruh permukaan Bulan

  • Sedikit demi sedikit bayangan kemerahan mulai pudar, Bulan mulai menampakan warna aslinya

  • Pada akhir fase gerhana blood moon” Bulan telah menanggalkan bayangan merah dan memberikan warna aslinya, abu-abu perak.


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ec/Geometry_of_a_Lunar_Eclipse.svg/512px-Geometry_of_a_Lunar_Eclipse.svg.png


Gerhana bulan sendiri ada berbagai macam, yakni :



  • Gerhana bulan penumbral: dikala Bulan memasuki daerah penumbra, yakni saat bayangan Bumi mulai menutupi Bulan dari cahaya Matahari.

  • Gerhana bulan total: ketika Bulan memasuki daerah umbra, adalah dikala bayangan Bumi sepenuhnya menutupi bulan.

  • Gerhana bulan parsial: saat Bulan hanya sedikit saja memasuki daerah umbra.

  • Gerhana bulan sentral: Bulan berada sempurna di sentra umbra, gerhana ini sungguh jarang terjadi.


Gerhana bulan total blood moon yang terjadi tanggal 28 Juli 2018, dinihari nanti ialah gerhana bulan sentral. Kaprikornus Bulan berada tepat di tengah bayangan Bumi. Peristiwa ini sungguh jarang terjadi dan mungkin gres terulang kira-kira 1 masa lagi.


Contoh Fenomena Gerhana Bulan “Blood Moon”


Gerhana bulan yakni fenomena yang terjadi setiap tahun. Gerhana bulan tahun lalu terjadi pada tanggal 7 Agustus 2017 dan ialah gerhana bulan sebagian (parsial). Gerhana bulan total akan terjadi lagi tahun 2019 tanggal 21 Januari, tetapi tidak memiliki rentang waktu selama “blood moon” tanggal 28 Juli 2018 nanti.


Sedangkan di permulaan tahun 2018, tepatnya pada tanggal 30 Januari 2018 ada sebuah fenomena yang disebut fenomena super blue blood moon, yaitu saat blood moon terjadi pada titik terdekat Bumi dengan Bulan, menjadikan ukuran Bulan terlihat cukup besar dibandingkan biasanya.  “Blood moon” yang terjadi tanggal 28 Juli nanti berada pada titik terjauh dari Bumi.


“Blood Moon” di tahun 2018 tepatnya akan terjadi mulai tanggal 28 Juli 2018. Gerhana total “blood moon” dapat disaksikan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia gerhana bulan total blood moon mulai tampakjam 00.13 WIB dini hari sampai puncaknya jam 03.29 WIB. Fase yang panjang ini menciptakan gerhana bulan “blood moon” di tahun 2018 ialah gerhana bulan total paling lama yang tercatat di abad ini, alasannya adalah bulan berada di titik terjauh dari Bumi. Sedangkan Amerika Utara, dan sebagian besar Kanada sayangnya  tidak dapat melihat gerhana ini alasannya adalah telah keburu rampung sebelum sempat terlihat.


Demikian yang bisa kami share seputar gerhana bulan total blood moon agar berguna bagi kita semua untuk lebih memahami alam dan fenomena yang terjadi didalamnya. Sampai jumpa di artikel menawan lainnya.



Sumber ty.com

Jumat, 25 Desember 2020

Hujan Meteor Lyrid : Proses Terjadi – Waktu Terjadi – Fenomenanya

Hujan Meteor Lyrid, atau disebut juga dengan April Lyrid ialah hujan meteor yang terjadi pada bulan April. Puncaknya yaitu April tanggal 22-23. Manusia sudah mengamati hujan meteor ini sejak tahun 687 SM, yang juga ialah catatan tertua perihal hujan meteor yang pernah ada.


Apabila kita mempesona jejak dari titik arah hujan meteor Lyrid berasal, tampaknya mereka berpendar dari konstelasi Lyra sang Harpa, akrab dengan bintang Vega yang benderang. Namun ini cuma praduga semata, karena meteor-meteor ini terbakar di atmosfer Bumi dalam kecepatan 100 km/jam. Sementara itu bintang Vega terletak trilyunan kali lebih jauh dalam 25 kecepatan cahaya. Walaupun belum pasti, namun nama dari hujan meteor ini memang berasal dari konstelasi Lyra. Perlu diingat bahwa sekalipun arah datangnya dari konstelasi Lyra, bukan berarti Lyrid berasal dari sana.



Pada tanggal 5 April 1861, seorang pengamat amatir berjulukan A.E. Thatcher memperoleh komet yang sedang melintasi metode tata surya. Rupanya partikel bubuk hingga potongan batu yang terlepas dari komet C/1861 G1 Thatcher menjadi asal usul bagi hujan meteor Lyrid. Komet terkikis sehubungan dengan panas matahari dan menjadikan partikel seperti es dan bagian abu lainnya untuk terlepas dari inti komet. Hal ini menghasilkan penggalan-cuilan reruntuhan di angkasa. Reruntuhan tersebut menabrak Bumi dan menghasilkan panorama indah di langit malam berbentukhujan meteor.


Orbit Thatcher berpapasan dengan orbit Bumi setiap 415 tahun sekali. Rentang waktu orbit dari komet ini relatif cepat karena biasanya periode putaran komet adalah antara 200-10.000 tahun sekali. Jadi, komet tersebut diprediksikan gres akan tampakkembali pada tahun 2276.


Hujan Meteor ini akan memperlihatkan sekitar 15-20 meteor dalam satu jam. Walau adakala ada tahun dimana hujan meteor Lyrid mempertontonkan hingga seratus meteor dalam satu jamnya (Outburst/meledak), tetapi hal ini jarang terjadi dan sulit untuk diprediksikan. Ada yang mengatakan bahwa ledakan Lyrid itu terjadi setiap 30 tahun sekali. Namun pakar NASA bernama Bill Cooke tidak sepakat dengan itu. Beliau beropini bahwa belum ada data yang mendukung dengan niscaya kapan ledakan Lyrid itu terjadi, alasannya data yang ada pun tidak menentu. Bisa terjadi sebelum atau sesudah 30 tahun.


Hujan meteor Lyrid tiba dengan segera, walau tidak secepat hujan meteor Leonid (November). Menurut Cooke, Leonids menabrak Bumi secara langsung, sedangkan Lyrid hanya menyerempet sisi kiri dari planet.


Berikut ini yakni koordinat dari Lyra :



  • Asensio Rekta: 19 h

  • Deklinasi: +40

  • Dapat dilihat antara 90° LU dan 40° LS.


Lyrid diketahui akan kecepatan lintasannya, walau tidak secepat dan sebanyak hujan meteor Perseids di bulan Agustus. Ekornya berkilau terang, mampu dilihat selama beberapa detik. Meteor-meteor yang berjatuhan dari Lyrid bergerak dalam kecepatan 49km/detik.


Peristiwa Fenomena Hujan Meteor Lyrid




  1. Pada tahun 1982, seorang pengamat dari Amerika menyaksikan ledakan hujan meteor yang berisikan sekitar 100 Lyrid per jam. Sekitar 100 meteor Lyrid juga terlihat pada tahun 1922 di Yunani , dan 1945 di Jepang.

  2. Masyarakat Tiongkok kuno mencatat bahwa mereka telah melihat hujan meteor Lyrid yang jatuh bagaikan hujan di tahun 687 SM. Pada masa itu Tiongkok sedang berada dalam abad Periode Musim Gugur dan Musim Semi (771-476 SM), dan Konghuchu hidup pada masa itu.

  3. Pada tahun 1136, penduduk Korea mencatat adanya hujan meteor dengan kata-kata “banyak bintang yang beterbangan dari arah timur bahari.”

  4. Di tahun 1803, warga Richmond di negara bab Amerika Serikat Virginia, bergegas keluar dari rumah mereka pada tengah malam (pukul 1-3 dini hari, waktu setempat) sehabis terjadi alarm kebakaran. Kemudian mereka melaporkan bahwa mereka melihat ada meteor serupa roket melintas di langit. “Seakan-akan bintang-bintang tersebut berjatuhan dari segala sudut nirwana, jumlahnya berbagai mirip hujan kembang api.”

  5. Tahun 1803, Lyrid menjadikan tornado meteor yang besar, sehingga tampaklah lebih dari 700 meteor perjam yang terlihat pada puncaknya.

  6. Foto di atasdiambil di Portesham, Dorset, Inggris pada tanggal 23 April 2017, berlokasi di Monumen Hardy. Saat itu terjadi panorama hebat di langit yang disebabkan oleh hujan meteor Lyrid dimana ada 30-40 meteor tampakdalam satu jam. Anda dapat melihat ada segaris Lyrid, sedikit di atas galaksi Bima Sakti.


Eta Lyrid


Hujan meteor Eta Lyrid muncul antara 3-12 Mei, puncaknya pada tanggal 9. Hujan meteor ini tergolong ke dalam hujan meteor tahunan, sama seperti Quadrantid yang terjadi di abad tahun baru. Sumber dari hujan meteor ini yaitu Komet C/1983 H1 (IRAS-Araki-Alcock). Bintang terdekat dari titik pendar hujan meteor ini yaitu Bintang Aladfar di titik koordinat Asensio Rekta (289.9) dan deklinasi (43.4).


ZHR, atau banyaknya jumlah meteor yang tampakselama satu jam ada di kisaran 3. Namun jumlah ini dapat meningkat bila ada komet atau benda yang bekerjasama dengan itu datang mendekat. Kecepatan dari partikel meteor Eta Lyrid adalah sekitar 44 km/detik. Kekuatan cahaya dari meteor ini cukup besar lengan berkuasa karena jumlahnya cuma sedikit.


Eta Lyrid cukup jarang diamati, tetapi tidak kalah mempesona alasannya adalah kemungkinan beliau mempunyai kaitan dengan suatu komet yang terlihat pada tahun 1983. Penemuan ini pada dasarnya diprediksikan 9 Mei 1983. Saat itu Jack Drummond dari Penelitian Stewart memberi peringatan tentang kemungkinan terjadinya acara meteor dari komet IRAS-Araki-Alcock. Drummond memprediksikan adanya hujan meteor yang dapat timbul pada tanggal 10 Mei. Namun perayaan ini tidak terbukti. Para peneliti di Otawa tidak menangkap adanya acara yang dimaksudkan.


Walau beberapa peneliti meteor sudah menerima peringatan dari kemungkinan hujan meteor itu dari IAU Circular 3801, para pengamat di Jepang sudah menyadari kemungkinan hujan meteor ini beberapa waktu sebelumnya. Mereka bisa lebih berkemas-kemas dan penelitian mereka membuahkan hasil kemudian dilaporkan pada bulan Juni 1984.


Penelitian lalu dilanjutkan, hingga akhirnya tidak ada meteor yang tampaklagi dari pendaran ini sehabis tanggal 12 Mei dan seterusnya. Mereka kemudian mengganti observasi mereka menjadi ZHRs dan menerima hasil berupa tiga penampakan meteor. Yang cukup menarik yaitu pada tahun 2000 para peneliti memperoleh sekitar 2-6 penampakan meteor dari Eta Lyrid


Lyrid Juni


Fenomena Lyrid Juni ini pertama kali dicatat oleh seorang berjulukan Stan Dvorak yang berdomisili di California, Amerika Serikat. Saat itu beliau sedang memanjat gunung di Pegunungan San Bernardino tahun 1966.


Setahun kemudian, Lyrid Juni tidak dapat diobservasi sehubungan dengan terangnya cahaya bulan malam itu. Namun tahun berikutnya di 1968, seorang dari daerah yang sama, California bernama Richard Nolthenius melaporkan bahwa dia telah melihat Lyrid Juni. Selama satu jam pada tanggal 15, dia mengkalkulasikan ada 8 meteor yang tampakdi langit. Kemudian di jam yang sama di tanggal 17, terlihat ada 7 bintang jatuh. Sejak itu (tepatnya mulai tahun 1969), observasi kepada Lyrid Juni ini dikerjakan setahun sekali.


Hujan meteor ini didominasi oleh ekor berwarna warna biru kehijauan dan putih. Hujan meteor yang terlihat pada dikala  itu berasio sekitar 8-10 meteor perjam dari tanggal 10 sampai 21 Juni. Namun baru-baru ini dimengerti bahwa sumber dari hujan meteor ini bukanlah Komet Thatcer, melainkan C/1915 C1 Mellish.



Sumber ty.com

Kamis, 24 Desember 2020

Proses Terjadinya Bintang Jatuh Dan Fenomenanya

falling-starBintang jatuh yakni fenomena alam yang senantiasa menarik perhatian. Saat ada benda langit yang terbakar di atmosfer dan memasuki bumi, maka orang pribadi menyebutnya selaku bintang jatuh. Fenomena alam di langit ini mampu tampakcukup jelas pada siang dan malam hari, sebab terangnya cahaya yang dihasilkan bintang jatuh. Karena cukup banyak dokumentasi foto atau video bintang jatuh.


Mengapa disebut selaku bintang jatuh, walaupun bantu-membantu bintang jatuh sama sekali bukan bintang? Bisa dibayangkan, jikalau bintang yang sebetulnya jatuh memukul Bumi! Mari kita bahas lebih jauh lagi ihwal bintang jatuh dan bagaimana proses terjadinya.


Pengertian Bintang Jatuh


Bintang jatuh bahwasanya ialah benda langit yang memasuki atmosfer bumi. Benda langit atau partikel angkasa apapun yang masuk, mulai dari sebesar butir pasir atau bola golf mampu saja menjadi bintang jatuh. Namun kerap kali material tersebut telah terbakar habis sebelum dapat menjangkau permukaan bumi.


Bila benda langit tersebut berukuran cukup besar, maka ia dapat mempertahankan bentuknya sampai memasuki lapisan troposfer dan terlihat oleh mata. Bila berskala lebih besar lagi, maka mampu saja jatuh ke permukaan Bumi dan meninggalkan jejak berbentukkawah, walaupun sungguh jarang terjadi. Umumnya bintang jatuh telah hancur sebelum mencapai tanah.


Proses Terjadinya Bintang Jatuh


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, benda langit dengan ukuran cukup besar memiliki peluang untuk menjadi sebuah bintang jatuh. Kadang Bumi melalui awan abu atau juga berpapasan dengan penggalan asteroid, cukup bersahabat sampai tertarik oleh gravitasi Bumi. Atau juga kadang ada bagian asteroid yang kebetulan orbitnya melewati Bumi. Untuk proses lebih lengkapnya mampu diterangkan sebagai berikut :



  • Bumi melalui kumpulan awan abu atau pecahan asteroid/ada asteroid yang orbitnya berpapasan dengan Bumi

  • Benda langit tersebut cukup dekat dengan tarikan gravitasi Bumi, hingga mulai masuk ke atmosfer

  • Benda langit memasuki atmosfer Bumi, kian terpengaruh gravitasi Bumi, dan mulai bergesekan dengan lapisan atmosfer

  • Saat memasuki mesosfer, ukiran kian besar lengan berkuasa seiring dengan kecepatan yang bertambah, suhu benda langit tersebut meningkat tajam

  • Semakin dekat dengan permukaan Bumi, benda langit tersebut mulai terbakar dan sedikit demi sedikit menguap dan pecah

  • Akhirnya benda langit terbakar habis, atau jika berskala cukup besar mampu hingga di permukaan Bumi


Perbedaan Bintang Jatuh dengan Meteor?


Nah, ini beliau… bintang jatuh kita ketahui sama sekali bukan bintang, melainkan benda langit. Bintang jatuh memiliki nama yang lebih ilmiah, ialah meteor. Jadi bintang jatuh bekerjsama yakni suatu meteor. Bintang jatuh mungkin mendapat nama demikian karena berasal dari langit, dan saat malam hari terlihat seperti suatu bintang. Makara, suatu bintang adalah meteor yang sedang terbakar di atmosfer Bumi.


Pernahkah Sebuah Bintang Jatuh Sampai ke Bumi?


Maksudnya yakni pernahkah sebuah bintang jatuh, meraih permukaan Bumi? Ada lumayan banyak peristiwa yang tercatat dimana suatu bintang jatuh, atau meteor berskala cukup besar sehingga meraih permukaan Bumi, meninggalkan bekas atau menjadi sebuah meteorit.


Kejadian meteor atau bintang jatuh yang paling terkenal yakni di hutan Tunguska, di Siberia tahun 1908. Sebuah meteor yang besar jatuh di hutan Tunguska, menimbulkan ledakan yang amat andal sehingga meratakan seluruh pepohonan dalam radius 2.000 kilometer persegi, dan bunyi ledakannya terdengar hingga seluruh Eropa. Meteor tersebut tidak menjadi meteorit, alasannya meledak begitu menghantam tanah. Kejadian ini dikenal selaku Tunguska Event atau Peristiwa Tunguska. Ada teori yang menyebutkan bahwa potongan dari meteor Tunguska membentuk suatu danau yang berjulukan Danau Cheko, walaupun masih dalam penelitian.


Kejadian Tunguska adalah meteor paling besar yang tercatat didalam sejarah. Kejadian mirip ini terhitung amat jarang terjadi. Hujan meteor mampu dibilang sebagai kejadian bintang jatuh yang terjadi secara berkelanjutan. Sudah pernah dibahas mengenai beberapa hujan meteor seperti Geminid, Orionid, atau Perseid yang masih berlangsung sampai kini. Dan juga beberapa jenis hujan meteor lainnya.


Demikian klarifikasi tentang proses terjadinya bintang jatuh. Semoga berguna.



Sumber ty.com

Rabu, 23 Desember 2020

Fenomena Aurora Di Indonesia, Mampu TampakAtau Tidak?

auroraAurora adalah fenomena alam di langit berbentukkilatan cahaya di langit akhir dari reaksi antara medan magnet Bumi dengan radiasi dari luar angkasa. Kilatan cahaya yang indah mampu dilihat dari jauh, seperti pentascahaya di langit. Dokumentasi serta foto aurora sudah ada sejak berabad-abad, karena keindahan serta kemegahan yang ditampilkan suatu aurora.


Aurora dapat tampakdengan terperinci di beberapa negara cuilan Planet Bumi bagian Utara dan Selatan. Namun dapatkah kita melihat fenomena aurora di Indonesia? Sayangnya tidak. Mari kita lihat beberapa penjelasannya di bawah ini, mengapa aurora tidak mampu kita lihat di Indonesia.


Mengapa Aurora Tidak Terlihat di Indonesia dan Khatulistiwa?


Proses terjadinya aurora sebab interaksi medan magnet Bumi dengan kegiatan matahari di luar angkasa. Nah, medan magnet Bumi terkuat terletak di kedua ujung kutubnya (kutub Utara dan Selatan). Semakin kuat medan magnet Bumi, maka auroranya akan tampaksemakin besar dan terperinci. Sebaliknya, makin menjauh dari kutub, maka medan magnet Bumi kian lemah.


Itulah sebabnya mengapa aurora tidak mungkin tampakdi kawasan ekuator atau khatulistiwa, alasannya adalah medan magnetnya tidak cukup banyak untuk mengakibatkan terjadinya aurora. Indonesia berada di khatulistiwa atau equator, terletak jauh dari kutub Utara maupun Selatan, daerah dimana medan magnet Bumi tercatat paling berpengaruh.  Jika kita ingin menyaksikan fenomena aurora, maka kita harus berada di negara yang dekat dengan kutub Utara dan Selatan. Beberapa negara daerah kita bisa melihat aurora borealis paling jelas yaitu Arktik, Norwegia, Swedia, Amerika dan Kanada bab Utara. Sedangkan aurora australis bisa terlihat terang di Southern Sandwich Island, New Zealand, Argentina dan Antartika.


Badai Matahari


Proses terjadinya angin kencang matahari yang amat berpengaruh hingga aurora bisa terlihat dari berbagai serpihan dunia manapun. Namun angin ribut matahari sekuat itu juga dapat menghancurkan aneka macam perlengkapan elektro dan akan sungguh mempengaruhi kehidupan insan. Mengingat sebagian besar perlengkapan yang kita gunakan kini mempunyai sirkuit elektro, maka topan matahari super kuat akan merusak semua komputer, menghancurkan pembangkit listrik dan aneka macam persoalan yang lain.


Ada sebuah fenomena solar flare/solar storm atau topan matahari paling besar yang pernah tercatat, adalah pada tanggal 1 sampai 2 September 1859. Peristiwa tersebut disebut dengan Solar Storm Of 1859. Peristiwa tersebut menimbulkan terjadinya aurora yang sangat besar sampai bisa terlihat di Karibia, Jepang, China, serta beberapa negara lain mirip Cuba dan Hawaii.


Namun peristiwa tersebut juga merusak tata cara komunikasi telegraf, yang kala itu ialah salah satu media komunikasi utama. Percikan listrik terlihat dari menara kabel telegraf. Operator telegraf masih mampu saling berkomunikasi satu sama lain, meskipun telah mencabut sumber daya listrik, alasannya adalah kekuatan dari topan matahari yang teramat besar tersebut. Tidak cuma itu, para operator telegraf tersebut juga kadang tersengat listrik dari peralatan telegraf! Bisa dibayangkan pengaruh yang terjadi jikalau Solar Storm Of 1859 terjadi saat ini.


Pada tahun 2012 sempat tercatat topan matahari dengan intensitas yang sama seperti tahun 1859, namun untungnya tidak hingga mengenai orbit Bumi. Sebelumnya pada tahun 1989, sebuah topan matahari yang cukup kuat menghancurkan tata cara transmisi listrik di Quebec, Kanada.


Kesimpulan


Negara yang berada di kawasan khatulistiwa serta yang jauh dari kedua kutub tidak akan bisa melihat indahnya aurora. Medan magnet yang ada di kawasan khatulistiwa tidak cukup kuat untuk sampai menyebabkan aurora. Jika sebuah saat nanti kita menyaksikan ke langit malam hari dan ada aurora di sana, maka tandanya ada angin puting-beliung matahari besar sedang terjadi. Tapi semoga tidak hingga menghancurkan peralatan elektronik kita.


Demikian yang mampu kami bagikan seputar fenomena aurora di Indonesia, biar dapat memperbesar pengetahuan serta pengertian kita akan alam semesta yang begitu luas dan misterius ini. Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya.



Sumber ty.com

Selasa, 22 Desember 2020

Proses Terjadinya Hujan Meteor Taurid Dan Waktunya

taurid showerHujan meteor yang diberi nama “Taurid” ini bekerjasama dengan komet berjulukan Encke, dia singgah ke langit Bumi setahun sekali. Sesungguhnya ada dua jenis Taurid; yaitu utara dan selatan. Keduanya berasal dari sumber yang berlawanan. Yang selatan berasal dari Komet Encke, sementara yang utara berasal dari asteroid 2004 TG10. Mereka dinamai menurut titik sumber pendaran yang berasal dari konstelasi Taurus. Karena kehadiran mereka di final Oktober dan awal November, mereka juga acap kali disebut bola api Halloween.


Komet Encke sendiri ialah komet yang durasi orbitnya cukup singkat, ia tampaksatu kali dalam 3,3 tahun. Pertama kali tampakoleh Pierre Mechain pada tahun 1786 dan orang pertama yang memperoleh durasi orbitnya itu yaitu Johann Franz Encke di sekeliling tahun 1800.


Menariknya, Encke dan Taurid diyakini merupakan sisa-sisa peninggalan dari komet yang jauh lebih besar lagi. Komet tersebut telah terkikis semenjak 20.000-30.000 tahun yang kemudian. Partikel-partikel kecilnya terlepas di ruang angkasa dan bersinanggungan dengan Bumi ataupun planet yang lain (Whipple (1940), dan Klacka (1999)). Secara keseluruhan, bahan ini ialah materi terbesar di dalam tata surya.


Proses terjadinya hujan meteor Taurid berlangsung cukup usang jika ketimbang hujan meteor yang lain. Rentang waktunya bisa berlangsung selama beberapa minggu. Hal ini disebabkan oleh alasannya adalah hujan meteor ini cenderung menyebar di ruang angkasa. Bila dilihat lebih akrab, hujan meteor Taurid bahwasanya berisikan materi yang lebih berat mirip watu kerikil, dibandingkan dengan debu seperti hujan meteor lainnya. Tidak menutup kemungkinan ada ukuran Taurid yang lebih besar ketimbang watu watu. Bila ukurannya lebih besar ketimbang batu, maka meteor yang terlihat dari Bumi akan tampakmenyala seterang bulan, bahkan sampai meninggalkan asap.


Kepingan meteor Taurid memang cukup besar daripada serpihan meteor yang lain. Kadang ada potongan yang cukup besar untuk jatuh hingga ke atas tanah, lolos dari kikisan atmosfir. Meteorit ini belum pernah ditemukan hingga sekarang, tetapi berdasarkan Astronom Cooke, inovasi tersebut akan menjadi sesuatu yang sungguh bernilai. Walau tidak diketahui pasti berapa persisnya ukuran meteorit Taurid, tetapi Cooke menakar bahwa beratnya mungkin beberapa ons.


Waktu Terjadinya Hujan Meteor Taurid


Taurid pada umumnya timbul lima kali dalam waktu satu jam, bergerak perlahan melintasi langit dengan kecepatan sekitar 28km/detik, atau 100.800 km/j. Taurid selatan atau STA, terlihat sejak tanggal 10 September hingga 20 November. Sedangkan Taurid utara atau NTA akan terlihat pada tanggal 20 Oktober hingga 10 Desember.


Selain itu ada lagi yang disebut dengan Beta Taurid dan Zeta Perseid. Keduanya berpapasan dengan Bumi pada bulan Juni-Juli. Namun mereka melintas pada siang hari, maka dari itu tidak dapat diperhatikan secara pribadi mirip halnya Taurid utara dan selatan.


Arus Taurid memiliki kegiatan siklus yang memuncak kira-kira sekitar 2.500-3000 tahun sekali. Ketika sentra dari arus meteor tersebut melintas semakin erat dengan Bumi, menyebabkan hujan meteor yang semakin deras. Berdasarkan perhitungan para astronom, puncak selanjutnya akan terjadi sekitar tahun 3000 masehi.


Menurut Astronom Cooke, sulit untuk memilih hari terbaik untuk melihat hujan meteor Taurid. Hal ini disebabkan oleh durasi yang panjang, berjalan selama beberapa minggu. Dan dalam rentang waktu yang usang itu, jumlah meteor yang terlihat di langit relatif sama banyaknya. Walau demikian, ia beropini bahwa waktu terbaik untuk melihatnya yaitu pada pagi-pagi sekali, sebelum subuh.


Para pengamat astronomi juga kerap kali memperoleh ada bintang jatuh yang tidak terperinci asal usulnya, tidak berhubungan dengan Taurid. Mereka berpendar dari daerah lain selain dari konstelasi Taurus, menuju ke arah yang tidak mampu diprediksikan.


Untungnya, Taurid mampu dilihat dari sudut manapun dari atas Bumi, kecuali wilayah kutub selatan. Mereka berpendar dari konstelasi Taurus sang kerbau. Untuk menemukan konstelasi Taurus itu, carilah konstelasi Orion, lalu menyisir ke timur maritim untuk mendapatkan bintang merah, bintang Aldebaran, yang juga adalah mata dari Taurus.


Penampakan Taurid sangat indah ketika disaksikan dari atas Bumi. Segaris bola api besar berwarna hijau neon melintasi langit subuh hari. Tertarik untuk menonton hujan meteor Taurid? Pada tanggal 5 November 2018 nanti, diprediksikan Taurid akan meraih puncak peredarannya.


Asteroid di Dalam Arus Taurid


Sesuatu menjadi perhatian para astronom baru-gres ini. Mereka menyadari bahwa selain kerikil besar yang terbang di luar angkasa, ada juga asteroid 2015 T24 dan 2005 UR, yang mengembangkan orbit dengan arus Taurid. Asteroid 2015 TX24 ditemukan pada tanggal 8 Oktober 2015. 20 hari kemudian terjadi kenaikan dalam arus hujan meteor Taurid di tahun 2015.


Asteroid ini ukuran diameternya beraneka ragam sekitar 200-300 meter. Hal ini memang sedikit meresahkan, karena Taurid melintasi Bumi satu tahun sekali. Bisa saja terjadi ada objek yang cukup besar terbawa di dalam arus Taurid dan menabrak Bumi. Bila ini terjadi, kerusakan yang berpengaruh pada Bumi mampu berakibat fatal. Namun sampai ketika ini, belum ada asteroid yang dinyatakan berbahaya atau mengancam akan bertubrukan dengan Bumi.


Pengaruh Jupiter Terhadap Taurid


Komet Encke melintasi tata surya dengan matahari sebagai sentra orbitnya. Reruntuhan dari Encke tersebut juga turut melintasi tata surya dan sebuah saat berdekatan dengan Jupiter. Elemen gravitasi Jupiter yang besar itu menyenggol remah-remah komet Encke tersebut sehingga mereka terpantulkan menuju ke Bumi. Menurut Cooke dari space.com pada tahun 2017, para ilmuwan memprediksi pantulan Jupiter itu akan sampai di Bumi pada tahun 2019.


Fenomena yang Berhubungan dengan Taurid



  • Seorang Astronom bernama Duncan Steel dan Bill Napier mengira bahwa Beta Taurid ialah penyebab dari kejadian Tunguska yang terjadi pada tanggal 30 Juni 1908. Sungai Tunguska terletak di Russia, bersahabat dengan Siberia, pada pagi itu terjadi ledakan misterius yang kekuatannya diprediksi 1000 kali lebih kuat ketimbang bom atom Hiroshima-Nagasaki. Diduga bahwa ada meteor yang meledak di atmosfir (5-10km dari atas permukaan tanah).

  • Telah diprediksikan pada tahun 1993 bahwa akan terjadi kegiatan Taurid di tahun 2005. Pada hari Halloween di tahun tersebut, banyak orang yang melihat bola api meteor yang terlihat di langit. Peristiwa itu kemudian disebut “bola api Halloween”.

  • Pada abad Taurid selatan tahun 2013, tampakada bola api di California selatan, Arizona, Nevada, dan Utah.


Demikian klarifikasi mengenai proses terjadinya hujan meteor Taurid dan beberapa fenomenanya. Semoga berfaedah.



Sumber ty.com

Minggu, 20 Desember 2020

Proses Terjadinya Kilat Beserta Jenis Dan Gambarnya

Kilat yakni nyala yang terlihat saat terjadi pelepasan elektrostatik secara tiba-tiba yang terjadi di awan, biasanya timbul pada saat terjadinya angin puting-beliung. Pelepasan listrik ini terjadi akhir arus negatif bergerak menuju arus konkret. Pergerakan ini mampu terjadi dari awan ke awan, atau dari awan ke tanah. Satu sambaran petir mampu menampung sampai 300 juta volt dalam 100.000 ampere.


Walaupun nampaknya sama-sama bersifat cahaya, tetapi kecepatan kilat jauh lebih lambat ketimbang kecepatan cahaya. Kecepatan kilat cuma 150.000 km/detik, sementara kecepatan cahaya yakni 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h). Lalu bagaimana proses terjadinya kilat?


Saat suhu tanah cukup panas, beliau akan memanaskan udara di atasnya. Udara panas ini kemudian naik, menjadi uap air dan membentuk awan. Ketika udara panas terus bertambah, awan akan menjadi makin besar. Di bagian atas awan, temperaturnya berada di bawah titik beku, menjadikan air yang menguap ini membeku menjadi es. Pada saat inilah awan berubah menjadi awan bermuatan listrik. Banyak partikel es yang saling bertumbukan satu sama lain saat mereka saling bergerak. Tabrakan-tabrakan ini menghidupkan tegangan listrik.


Pada karenanya awan tersebut akan dipenuhi dengan tegangan listrik. Tegangan faktual yang lebih ringan itu terbentuk di bagian atas awan, sementara tegangan negatif yang lebih berat turun ke bab bawah awan. Ketika arus nyata dan negatif tumbuh cukup besar, percikan besar (petir) muncul di antara dua tegangan di dalam awan ini.


Saat terjadi angin puting-beliung, benturan antara partikel hujan, es, dan salju yang terjadi di dalam awan mengembangkan ketidak-seimbangan di antara awan dan tanah. Seringkali arus negatif menurunkan jangkauan dari awan-awan berbadai itu. Sementara, benda-benda di atas tanah seperti menara, pepohonan, dan tanah kemudian menjadi arus kasatmata dan membuat petir alhasil menghantar ke sana.


Suhu petir lebih berada di 27.000 derajat celsius, itu mempunyai arti lebih panas ketimbang suhu permukaan matahari yang cuma sekitar 5.500 derajat celsius. Kilatan yang menyambar mampu memanaskan udara di sekitarnya lima kali lipat lebih panas ketimbang panas matahari. Panas ini menyebabkan udara di sekitarnya itu mengalami pemuaian dan vibrasi secara tiba-tiba dalam jumlah banyak, dan karenanya menjadikan bunyi gemuruh.


Ke mana petir akan menyambar? Listrik mencari konduktor terdekat untuk melepaskan hantarannya. Seringkali yakni awan yang lain atau sisi lain dari awan asalnya. Namun paling berbahaya adalah petir yang menyambar dari awan menuju permukaan tanah, karena sambaran ini dapat melukai kita.



Ketika badai bergerak di atas tanah, ada muatan negatif yang kuat di awan itu menarik muatan positif di atas tanah. Muatan positif ini bergerak ke benda-benda yang lebih tinggi seperti pohon, tiang listrik, atau atap gedung dan bangunan tinggi yang lain. Tempat tinggi memang paling sering menjadi sambaran petir, alasannya ialah objek paling terjangkau dari awan. Namun tidak selalu petir menyambar kawasan paling tinggi tersebut.


Petir bermuatan nyata kerap kali dianggap lebih berbahaya karena daerahnya lebih berpengaruh, dan durasi kilatannya relatif lebih usang, dan kekuatan sambarannya bisa lebih berpengaruh dibandingkan dengan yang bermuatan negatif. Ditambah lagi petir bermuatan konkret bisa terjadi di penghujung awan, dan menyambar lebih dari puluhan kilometer jauhnya. Sambaran mirip ini yang umumnya tidak disadari oleh manusia.


Planet bumi menerima banyak keuntungan dari fenomena petir ini. Petir menolong bumi mempertahankan keseimbangan elektrik. Permukaan bumi dan atmosfernya dengan mudah mengkonduksi muatan listrik, dimana Bumi menerima konduksi negatif dan lapisan atmosfer menerima konduksi aktual. Selalu ada arus elektron yang seimbang mengalir ke atas dari seluruh permukaan bumi.


Badai bermuatan petir menolong untuk mengalirkan muatan negatif itu kembali ke bumi (biasanya petir bermuatan negatif). Tanpa petir, keseimbangan antara bumi dan atmosfer akan menghilang dalam waktu singkat. Petir juga membantu menciptakan senyawa kimia yang menyusun lapisan ozon.


Kilat yaitu hantaran cahaya yang terlihat saat perpindahan arus listrik terjadi, yang kebanyakan bersumber dari awan. Karena konduktor dan media hantaran yang bermacam-macam ini, dan juga proses terbentuknya petir tidak senantiasa sebab satu faktor saja, maka bentuk penampakan kilat juga beragam.


Inilah berbagai macam tipe-tipe kilat:



  1. Staccato. Jenis staccato yakni tipe kilat yang durasinya pendek dengan garis-garis yang hampir selalu tampak seperti satu tarikan saja dan sangat terang. Pada satu tarikan tersebut terdapat beberapa cabang-cabang. 

  2. Awan ke Bumi – Negatif. Petir jenis ini merupakan petir yang paling lazim.

  3. Awan ke Bumi – Positif. Petir ini mampu diketahui dari bentuk kilatannya yang tunggal dan umumnya tidak memiliki banyak cabang. Jenis petir bermuatan konkret ini lebih berbahaya dibandingkan dengan petir bermuatan negatif. Karena kekuatannya jauh lebih besar ketimbang petir bermuatan negatif, yakni sekitar 1 miliar volt (petir bermuatan negatif hanya 300 juta volt), sepuluh kali lipat ampere lebih banyak dibandingkan dengan petir bermuatan ion negatif. Meskipun temperaturnya sama panas, tetapi bertahan lebih lama daripada yang negatif. 


  4. Bumi ke Awan. Petir ini dapat dikenali dari kilatannya yang berasal dari tanah menuju awan. Kebalikan dari petir awan ke bumi, cabangnya menyebar di bab atas. Biasanya sambaran ini terjadi setelah petir menyambar bumi dan tertangkap oleh benda penghantar listrik mirip menara, yang lalu mengembalikan sambaran itu ke langit.

  5. Awan ke awan, dalam awan yang sama. Kilatannya menyambar mirip merambat di dalam daerah awan yang serupa, lazimnya membentuk seperti jaring keuntungan-keuntungan di antara awan tersebut. 

  6. Anvil crawler. Petir ini mampu dimengerti dengan rambatannya yang lambat dan jangkauannya yang luas, menjelajahi langit.


  7. Sambaran dari awan ke udara. Seperti namanya, kilatannya berawal dari awan dan menyambar ke udara kosong. 

  8. Petir ini (sebelah kiri) memiliki kilatan yang berupa seperti butiran-butiran manik. Jenis petir ini tergolong cukup jarang terjadi.  

  9. Ada juga petir yang nampaknya berganda. Namun fenomena ini terjadi alasannya efek kamera saja. Jadi, ketika pengambil gambar memotret gambar ini, kameranya bergerak sehingga tampaknya petir ini terduplikasi. 


Demikian penjelasan tentang proses terjadinya kilat dan jenisnya. Semoga berfaedah dan berhati-hatilah selalu jika mendengar suara petir maupun menyaksikan kilat.



Sumber ty.com