Tampilkan postingan dengan label MetodePenelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MetodePenelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2020

Makalah Konsep Csr

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Konsep CSR

Dilihat dari latar belakang pendidikan, gambaran SDM belum mengasyikkan. Berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah penduduk sudah terjadi, di antaranya yakni: a) Ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan; b) Ketimpangan mutu pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar masyarakatkaya dan penduduk miskin (Zamroni 2009). Selain aspek paradigma pendidikan nasional yang memisahkan peranan agama dari kehidupan, mahalnya ongkos pendidikan dan terbatasnya sarana prasarana pendidikan juga merupakan penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. 

Angin segar yang tengah berhembus bagi peningkatan mutu kehidupan masyarakat Indonesia, ditandai dengan keseriusan pemerintah menetapkan 20 persen dari APBN untuk dana pendidikan pada tahun 2009. Meskipun demikian, untuk memburu ketertinggalan dunia pendidikan, perlu dilakukan acara terobosan, mendukung kenaikan peran pendidikan dalam pengembangan penduduk dengan melibatkan secara pribadi pihak swasta sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Salahsatu program aktual gerakan kepedulian pihak swasta (perusahaan) kepada penduduk yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). Kepedulian sejumlah perusahaan untuk mengembangkan dunia pendidikan melalui aktivitas CSR sangat memiliki arti bagi dunia pendidikan. CSR semakin menguat khususnya sehabis dinyatakan dengan tegas dalam UU PT No.40 Tahun 2007 yang belum lama ini disahkan dewan perwakilan rakyat. Disebutkan bahwa PT yang melakukan perjuangan di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib mengerjakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1). Elkington (1998) menyatakan bahwa perusahaan yang baik tidak hanya mengejar laba ekonomi (profit) melainkan pula memiliki kepedulian kepada kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Oleh karena itu, implementasi CSR dalam menolong memecahkan dilema pendidikan perlu dijalankan untuk mendukung peran pendidikan dalam pengembangan penduduk .

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Konsep CSR

CSR yaitu tanggung jawab perusahaan di banyak sekali sektor dalam mengembalikan sebagian keuntungan yang diperolehnya untuk memajukan taraf kehidupan penduduk di negara kawasan perusahaan tersebut beroperasi. Konsep CSR intinya mendorong korporasi untuk ikut menimbang-nimbang kepentingan masyarakat dengan cara mengambil tanggung jawab terhadap imbas dari acara perusahaan di seluruh faktor operasinya yang dapat dicicipi oleh para konsumen, karyawan, pemegang saham, penduduk , serta lingkungan. Perusahaan diharapkan secara sukarela mengambil tindakan lebih jauh untuk mengembangkan mutu hidup para karyawan dan keluarganya, serta bagi masyarakat sekitarnya dan masyarakat secara keseluruhan (Gondomono 2007).

Sampai dikala ini, belum ada definisi CSR yang secara universal diterima oleh berbagai forum. Pengertian CSR berdasarkan banyak sekali organisasi (Majalah Bisnis & CSR 2007 serta Wikipedia 2009) disajikan dalam bermacam-macam definisi sebagai berikut:

1. Komitmen berkesinambungan dari kelompok bisnis untuk berperilaku etis dan memberi donasi bagi pembangunan ekonomi, seraya memajukan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan penduduk luas kebanyakan (World Business Council for Sustainable Development);

2. Komitmen dunia bisnis untuk memberi donasi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan lewat kerja sama dengan karyawan, keluarga mereka, komunitas lokal dan penduduk luas untuk meningkatkan kehidupan mereka lewat cara-cara yang bagus bagi bisnis maupun pembangunan (International Finance Corporation);

3. Jaminan bahwa organisasi-organisasi pengelola bisnis mampu memberi dampak konkret bagi masyarakat dan lingkungan, seraya memaksimalkan nilai bagi para pemegang saham (stakeholders) mereka (Institute of Chartered Accountants, England and Wales);

4. Kegiatan perjuangan yang mengintegrasikan ekonomi, lingkungan dan sosial ke dalam nilai, budaya, pengambilan keputusan, taktik, dan operasi perusahaan yang dikerjakan secara transparan dan bertanggung jawab untuk menciptakan penduduk yang sehat dan meningkat (Canadian Government);

5. Sebuah rancangan dengan mana perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) menurut prinsip kesukarelaan (European Commission);

6. Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan menurut prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan dan menyeimbangkan beragam kepentingan stakeholders (CSR Asia).

7. Tanggung jawab sebuah organisasi kepada efek dari keputusan dan kegiatannya pada penduduk dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk sikap transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkesinambungan dan kesejahteraan masyarakat; memikirkan impian pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma sikap internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (ISO 26000-draft 3, 2007). CSR meliputi tujuh unsur utama, ialah: the environment, social development, human rights, organizational governance, labor practices, fair operating practices and consumer issues (Sukada & Jalal 2008). Apabila dipetakan, menurut pendefinisian CSR yang relatif lebih gampang dimengerti dan mampu dioperasionalkan untuk kegiatan audit adalah dengan mengembangkan konsep Tripple Bottom Lines (Elkington 1998) dan menambahkannya dengan satu line pemanis, adalah procedure (Suharto 2007);

8. Komitmen bisnis untuk berperan untuk mendukung pembangunan ekonomi, berhubungan dengan karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan penduduk luas, untuk mengembangkan kualitas hidup mereka dengan aneka macam cara yang menguntungkan bagi bisnis dan pembangunan (Petkoski & Twose 2003).

Dengan demikian, desain CSR secara umum yaitu: Kepedulian perusahaan yang menyisakan sebagian keuntungannya (profit) bagi kepentingan pembangunan insan (people) dan lingkungan (planet) secara berkesinambungan menurut prosedur (procedure) yang sempurna dan profesional. Dalam aplikasinya, konsep 4P dapat dipadukan dengan komponen dalam ISO 26000. Konsep planet berkaitan dengan faktor the environment. Konsep people dapat merujuk pada desain social development dan human rights yang tidak hanya menyangkut kesejahteraan ekonomi penduduk (seperti pemberian modal perjuangan, training kemampuan kerja) tetapi juga kemakmuran sosial (pemberian jaminan sosial, penguatan aksesibilitas masyarakat kepada pelayanan kesehatan dan pendididikan, penguatan kapasitas forum-lembaga sosial dan kearifan lokal). Sedangkan desain procedur mampu mencakup desain organizational governance, labor practices, fair operating practices, dan consumer issues (Marlia 2008).

Dalam prinsip responsibility, penekanan yang nyata diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa bagi stakeholders perusahaan dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Sedangkan stakeholders perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan termasuk di dalamnya yaitu karyawan, pelanggan, penyuplai, masyarakat, lingkungan sekitar dan pemerintah sebagai regulator. CSR selaku suatu gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam keadaan keuangan (financial) saja. Tanggung jawab perusahaan mesti berpijak pada triple bottom lines. Di sini, bottom lines yang lain selain finansial juga adalah sosial dan lingkungan. Karena keadaan keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan berkembang secara berkelanjutan (sustainable). Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin jika perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup (Idris 2005).

Fajar dalam Badri (2009) menyampaikan bahwa sikap para pengusaha dalam mengimplementasikan CSR cukup beragam, dari kalangan yang serupa sekali tidak malaksanakan hingga kelompok yang menjadikan CSR selaku nilai inti (core value) dalam menjalankan usaha. Terkait dengan praktek CSR, usahawan dikelompokkan menjadi empat, adalah: kelompok hitam, merah, biru dan hijau.

Kelompok hitam yakni usahawan yang tidak melakukan praktek CSR sama sekali alasannya cuma mengerjakan bisnis untuk kepentingan sendiri. Kelompok merah yaitu yang mulai melaksanakan CSR, tetapi memandangnya cuma sebagai komponen biaya yang hendak menghemat keuntungannya. Kelompok biru yaitu mereka yang menganggap praktek CSR akan memberi efek faktual (return) kepada usahanya dan menilai CSR sebagai investasi, bukan ongkos. Kelompok keempat, kelompok hijau, ialah kalangan yang sepenuh hati melakukan praktek CSR. Mereka sudah menempatkannya sebagai nilai inti dan menganggap selaku suatu kewajiban, bahkan kebutuhan dan membuatnya sebagai modal sosial (ekuitas). Kelompok hijau diyakini akan mampu berkontribusi besar terhadap pembangunan berkelanjutan.

CSR ialah fenomena taktik perusahaan yang mengakomodasi keperluan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak periode di mana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang ialah lebih penting ketimbang sekedar profitability. Perusahaan yang menjadikan acara tanggung jawab sosial selaku bab dari penyusunan rencana strategis perusahaan memiliki corporate image yang lebih tinggi sehingga dapat berdampak pada loyalitas yang tinggi bagi penduduk yang sudah diuntungkan oleh perusahaan tersebut dan juga bagi konsumen yang sering mengandalkan corporate image dalam mengonsumsi apa yang dibeli.

Berdasarkan sifatnya, pelaksanaan acara CSR mampu dibagi menjadi dua, ialah: 1) Program Pengembangan Masyarakat (Community Development/CD); dan 2) Program Pengembangan Hubungan/Relasi dengan publik (Relations Development/RD). Adapun sasaran dari Program CSR ialah: (1) Pemberdayaan SDM lokal (pelajar, cowok, dan mahasiswa termasuk di dalamnya); (2) Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat sekitar daerah operasi; (3) Pembangunan kemudahan sosial/umum; (4) Pengembangan kesehatan masyarakat dan (5) Sosial budaya. 


KESIMPULAN 

Konsep CSR secara umum yaitu bentuk kepedulian perusahaan yang menyisakan sebagian manfaatnya (profit) bagi kepentingan pembangunan manusia (people) dan lingkungan (planet) secara berkelanjutan berdasarkan mekanisme (procedure) yang tepat dan profesional. Berdasarkan sifatnya, salah satu pelaksanaan acara CSR ialah acara pengembangan sasaran khususnya di antaranya yakni pemberdayaan SDM setempat (pelajar, cowok dan mahasiswa).

Sinergi antara CSR dengan dunia pendidikan ialah gerakan sosial bersama secara nasional yang perlu disosialiasikan dan menjadi solusi alternatif di tengah stagnasi perkembangan pendidikan. Berbagai implementasi CSR lewat kegiatan sumbangan beasiswa, pembangunan infrastruktur lembaga pendidikan, maupun sumbangan kesempatan magang oleh aneka macam perusahaan menjadikan peran pendidikan akan makin besar dalam pengembangan penduduk pada umumnya. Kepekaan perusahaan terhadap dunia pendidikan ialah investasi yang tak akan mubazir serta memberi faedah secara berkesinambungan.


DAFTAR PUSTAKA
  • Elkington J. 1998. Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business, Gabriola Island, BC: New Society Publishers.
  • Irianta Y. 2004. Community Relations. Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • John CB. 1982. Education and Development: A Conflict Meaning in Philip G. Altbach, Robert F. Arnove, Gail P. Kelly, eds. Comparative Education. New York: Mac Millan.
  • Suara Karya Online. 2009. Dinamika Pertamina Program Goes to Campus. IPB
  • Suharto E. 2007. Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Bandung: Refika Aditama.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Minggu, 29 November 2020

Makalah Sistem Penelitian Wacana Evaluasi Data Kualitatif

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Metode Penelitian tentang Analisa Data Kualitatif

Menurut Bodgan dan Taylor[1] metodologi kualitatif adalah mekanisme penelitian yang menciptakan data deskriptif berbentukkata-kata tertulis atau mulut dari orang-orang dan sikap yang mampu diamati. Kirk dan Miller (1986, Reni, 2006: 7) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam pengetahuan sosial yang secara mendasar bergantung pada observasi pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan orang-orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya.

Penelitian kualitatif yakni penelitian yang data-datanya bersifat deskriptif berupa: kata-kata, catatan lapangan (observasi), foto/gambar, dokumen, dan sejenisnya. Penelitian ini bersifat elastis, flexibel sesuai dengan perolehan data di lapangan. Peneliti berperan menjadi kendali di lapangan. Karakteristik atau ciri observasi kualitatif adalah selaku berikut: latar ilmiah, insan sebagai alat (instrumen), metode kualitatif, analisis data secara induktif, teori dari dasar (grounded theory), deskriptif, lebih mementingkan proses dibandingkan dengan hasil, adanya “batas” yang diputuskan oleh “fokus”, ada kriteria khusus untuk keabsahan data, rancangan yang sementara, serta hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.

Penelitian ini berusaha mengerti secara personal dorongan dan iktikad yang mendasari langkah-langkah manusia. Penelitian kualitatif dikerjakan untuk mengetahui fenomena sosial dari pandangan pelakunya. Pengumpulan data dikerjakan dengan pengamatan secara ikut serta, wawancara secara mendalam, dan metode lain yang menghasilkan data yang bersifat deskriptif guna mengungkapkan karena dan proses terjadinya peristiwa yang dialami oleh subjek penelitian[2]

Dalam observasi kualitatif ada atau tidaknya sebuah atribut dalam suatu analisis isi lebih penting daripada frekuensi atau bilangan yang diberikan kepada atribut tersebut. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang disediakan sebelumnya, tetapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan isu lapangan ditarik makna dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa memakai enumerasi, dan statistik, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya sebuah kejadian dan tingkah laris dalam situasi alami. Generalisasi tak perlu dilakukan alasannya deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks ruang, waktu, dan suasana tertentu. Realitas berdimensi jamak, berubah dan saling berinteraksi, sehingga peneliti dituntut waktu yang cukup lama di lapangan.

Data penelitian kualitatif diperoleh dengan berbagai cara. Analisa data kualitatifpun berbeda dengan analisi observasi kuantitatif. Analisa data kualitatif bisa dipakai dengan berbagai cara. Makalah ini akan menjelaskan ihwal evaluasi data kualitatif.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Metode Penelitian wacana Analisa Data Kualitatif

A. Analisis Data
Analisis data ialah upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pengertian peneliti ihwal perkara yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari aneka macam sumber, adalah dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen langsung, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Catatan dibedakan menjadi dua, yakni yang deskriptif dan yang reflektif.[3] Catatan deskriptif lebih menyuguhkan insiden ketimbang ringkasan. Catatan reflektif lebih mengetengahkan kerangka anggapan, ilham dan perhatian dari peneliti. Lebih memperlihatkan komentar peneliti terhadap fenomena yang dihadapi.

Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan menciptakan abstraksi. Abstraksi merupakan perjuangan membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah berikutnya adalah menyusun dalam satuan-satuan dan kategorisasi dan langkah terakhir ialah menafsirkan dan atau menawarkan makna kepada data.

1. Pemrosesan Satuan (Unitying)
Satuan adalah bagian terkecil yang mengandung makna yang utuh dan dapat bangun sendiri terlepas dari bab yang lain. Satuan dapat berwujud kalimat aktual sederhana, contohnya: ”Responden memperlihatkan bahwa beliau menghabiskan sekitar sepuluh jam sepekan untuk melakukan perjalanan keliling dari satu sekolah ke sekolah lain sebagai pelaksanaan peranannya sebagaiguru lepas di beberapa sekolah”. Selain itu satuan mampu pula berupa paragraf sarat . Satuan ditemukan dalam catatan observasi, wawancara, dokumen, laporan dan sumber lainnya. Agar satuan-satuan tersebut mudah diidentifikasi perlu dimasukkan ke dalam kartu indeks dengan susunan satuan yang mampu diketahui oleh orang lain.

2. Kategorisasi
Kategorisasi disusun berdasarkan persyaratan tertentu. Mengkategorisasikan peristiwa-kejadian mungkin saja mulai dari berdasarkan namanya, fungsinya atau patokan yang lain. Pada tahap kategorisasi peneliti sudah mulai melangkah mencari ciri-ciri setiap klasifikasi. Pada tahap ini peneliti bukan sekedar memperbandingkan atas pertimbangan rasa-rasanya seperti atau sepertinya seperti, melainkan pada ada tidaknya timbul ciri menurut klasifikasi. Dalam hal ini ciri jangan didudukkan selaku tolok ukur, melainkan ciri didudukkan tentatif, artinya pada waktu hendak memasukkan kejadian pada klasifikasi menurut cirinya, sekaligus diuji apakah ciri bagi setiap kategori telah sempurna.

3. Penafsiran /Pemaknaan Data
Langkah ketiga Moleong [4] menggunakan ungkapan penafsiran data,. Noeng Muhadjir[5] menggunakan istilah pemaknaan, sebab penafsiran merupakan bab dari proses menuju pemaknaan. Beliau membedakan antara 1) terjemah atau translation, 2) tafsir atau inerpretasi, 3) ekstrapolasi dan 4) pemaknaan atau meaning. Membuat terjemah berarti upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berlawanan; media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari mulut ke gambar dan sebagainya. Pada penafsiran, peneliti tetap berpegang pada bahan yang ada, dicari latar belakangnya, konsteksnya agar mampu dikemukakan rancangan atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan pada kesanggupan daya pikir manusia untuk menangkap hal di balik yang tersajikan. Memberi makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran dan memiliki kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kesanggupan integratif insan: indriawinya, daya pikirnya dan logika budinya.

Di balik yang tersajikan bagi ekstrapolasi terbatas dalam arti empirik logik, sedangkan pada pemaknaan meraih yang etik maupun yang transendental. Dari sesuatu yang timbul selaku empiri dicoba dicari kesamaan, kemiripan, kesejajaran dalam arti individual, acuan, proses, latar belakang, arah dinamika dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dalam langkah kategorisari dilanjutkan dengan langkah mengakibatkan ciri kategori menjadi eksplisit, peneliti sekaligus mulai berusaha untuk mengintegrasikan kategori-kategori yang dibuatnya. Menafsirkan dan memberi makna relasi antar kategori sehingga kekerabatan antar kategori menjadi makin terperinci. Itu berarti sudah tersusun atribut-atribut teori.

4. Perumusan Teori
Perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah klasifikasi-klasifikasi sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. Modifikasi rumusan kian minimal, sekaligus isi data dapat terus kian diperbanyak. Atribut terori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru, dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. Jika hal itu telah tercapai dan peneliti sudah merasa yakin akan risikonya, pada saat itu peneliti telah mampu menerbitkan hasil penelitiannya.


B. Analisa Data Kualitatif: Teknik
Analisa kualitatif merupakan evaluasi yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variable yang sedang diteliti. Tujuannya ialah supaya peneliti menerima makna relasi variable-variabel sehingga mampu digunakan untuk menjawab dilema yang dirumuskan dalam penelitian. Hubungan antar semantis sungguh penting alasannya dalam evaluasi kualitatif, peneliti tidak menggunakan angka-angka mirip pada analisa kuantitatif.[6] Prinsip pokok teknik evaluasi kualitatif yaitu mengolah dan memeriksa data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, teratur dan memiliki makna. Prosedur evaluasi data kualitatif dibagi dalam lima langkah, adalah: [7]
  • Mengorganisasi data: Cara ini dijalankan dengan membaca berulang kali data yang ada sehingga peneliti dapat memperoleh data yang tepat dengan penelitiannya dan membuang data yang tidak sesuai;
  • Membuat klasifikasi, memilih tema, dan contoh: langkah kedua ialah menentukan kategori yang ialah proses yang cukup rumit sebab peneliti mesti mampu menglompokkan data yang ada kedalam sebuah kategori dengan tema masing-masing sehingga acuan keteraturan data menjadi tampaksecara jelas;
  • Menguji hipotesa yang muncul dengan memakai data yang ada: setelah proses pengerjaan kategori maka peneliti melaksanakan pengujian kemungkinan berkembangnya sebuah hipotesa dan mengujinya dengan memakai data yang tersedia ; 4) mencari eksplanasi alternatif data: proses selanjutnya adalah peneliti memberika keterangan yang masuk nalar data yang ada dan peneliti harus mampu menerangkan data tersebut didasarkan pada kekerabatan logika makna yang terkandung dalam data tersebut; dan
  • Menulis laporan: penulisan laporan merupakan bab evaluasi kualitatif yang tidak terpisahkan. Dalam laporan ini peneliti mesti bisa menuliskan kata, frasa dan kalimat serta pemahaman secara sempurna yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data dan hasil analisanya.
Model lain untuk melakukan analisa data kualitatif ialah dengan menggunakan: 1) Analisa Domain, 2) Analisa Taksonomi, 3) Analisa Komponensial, 4) Analisa Tema Kultural dan 5) Analisa Komparasi Konstan. (Sanapiah: 1990). Dalam mengaplikasikan teknik-teknik analisa di bawah ini, penulis memakai pola bidang ilmu Desain Komunikasi Visual. Analisa Domain: Analisa domain berguna untuk mencari dan memperoleh gambaran lazim atau pengertian yang bersifat secara meyeluruh. Hasil yang dibutuhkan adalah pemahaman di tingkat permukaan tentang domain tertentu atau klasifikasi-kategori konseptual. Contoh: Domain dalam dunia seni meliputi: seni lukis, seni tari, seni ukir, desain komunikasi visual.

Cara Menganalisa: cara memeriksa domain yaitu dengan menggunakan analisa semantis yang bersifat universal. Dibawah ini pola domain yang bersifat universal:

Hubungan SemantisBentukContoh
1. Jenis
2. Ruang

3. Sebab - Akibat
4. Alasan

5. Lokasi untuk melakukan
6 Cara ke Tujuan

7. Urutan / tahap

8. Fungsi
9. Karaktersitik
  • X yakni jenis Y
  • X adalah daerah di Y atau bab dari Y
  • X adalah akibat dari Y
  • X ialah argumentasi melakukan Y
  • X merupakan daerah melaksanakan Y
  • X ialah cara melaksanakan / meraih Y
  • X merupakan urutan atau tahap dalam Y
  • X digunakan untuk Y
  • X ialah karaktersitik dari Y
  • Iklan ialah salah satu jenis promosi
  • Ruang gambar adalah bab dari laboratorium
  • Desain iklan jelek akhir komposisi warna salah
  • Iklan itu cantik, sehingga konsumen membeli produk yang diiklankan
  • Ruang gambar adalah tempat untuk menggambar
  • Membuat logo yang elok untuk meraih gambaran perusahaan yang baik
  • Mewarnai ialah salah satu tahap dalam membuat logo
  • Jenis abjad digunakan untuk mempesona pembaca
  • Komposisi warna merupakan atribut logo

Analisa Tema Kultural: cara melakukan analisa tema kultural yaitu dengan mencari benang merah yang ada yang dikaitkan dengan nilai-nilai, orientasi nilai, nilai dasar / utama, premis, etos, persepsi dunia dan orientasi kognitif. Analisa berpangkal pada pandangan bahwa segala sesuatu yang kita teliti intinya merupakan sebuah yang utuh (keseluruhan), tidak terpecah-pecah; oleh sebab itu peneliti dalam menganalisa data semestinya memakai pendekatan yang utuh (holistic approach).[1]

Teknik Analisa: Teknik analisanya yaitu peneliti melakukan hal-hal seperti di bawah ini:
  • Melarutkan / menyatukan diri seoptimal mungkin selama melakukan observasi untuk menghayati apa yang diteliti.
  • Melakukan evaluasi komonensial lintas domain.
  • Mengidentifikasi domain-domain yang meliputi berita yang mayoritas dibandingkan dengan domain yang lain.
  • Membuat diagram skematis yang menunjukkan katerkaitan segenap domain.
  • Mencari kesamaan diantara dimensi yang kontras untuk menimbulkan tema-tema dari gejala yang sedang diteliti.
  • Mencari tema-tema universal yang lazimnya dimuat pada sejumlah teori yang ada.
  • Membuat iktisar /ringkasan semua data / gosip yang ada untuk tidak hanya melihat fakta saja, tetapi juga menjalinnya antara satu dengan yang yang lain.
  • Membuat sebuah perbandingan untuk melacak kesamaan dan perbedaan agar mampu menimbulkan tema-tema alternatif lainnya.
Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research): cara melaksanakan evaluasi komparasi konstan ialah selaku berikut:
  • Mengumpulkan data untuk menyusun / menemukan suatu teori baru.
  • Berkonsentrasi pada deskripsi yang rinci mengenai sifat atau cirri dari data yang dikumpulkan untuk menghasilkan pernyataan teoritis secara umum.
  • Membuat hipotesa jalinan relasi antara gejala yang ada, kemudian mengujinya dengan bab data yang lain
Didasarkan dari akumulasi data yang sudah dihipotesakan, peneliti membuatkan sebuah teori gres. Jenis kegiatannya adalah sebagai berikut:
  • Menulis catatan: menulis hal-hal yang pokok, dan lalu mendiskripsikan atau merinci lebih detil dengan cara memberi klarifikasi secara lengkap, contohnya konteks kejadiannya, kronologi kejadian dan sebab musababnya, mengungkapkan data faktual dan penilaian peneliti.
  • Memulai dari data ke desain.
  • Memodifikasi rancangan dengan cara menciptakan hal-hal yang spesifik menjadi abstrak.
  • Melakukan evaluasi bergelombang, dari yang sempit menjadi meluas.
  • Pengembangan tema inheren menjadi sebuah teori.[2]

BAB III
PENUTUP
Makalah Metode Penelitian wacana Analisa Data Kualitatif

Penelitian untuk membuktikan atau mendapatkan suatu kebenaran mampu memakai dua pendekatan, adalah kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut mempunyai ukuran dan sifat yang berlawanan. Pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasil analisis observasi kuantitatif bersifat nomothetik dan mampu digeneralisasi sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik, tidak mampu digeneralisasi. Hasil analisis observasi kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun, menyebarkan maupun mendapatkan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis kuantitatif condong pertanda maupun memperkuat teori-teori yang telah ada.

Di sini catatan kaki Makalah Metode Penelitian tentang Analisa Data Kualitatif di sini

DAFTAR PUSTAKA
  • Faisal, Sanapiah. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasinya. Malang: YA3. 1990.
  • Marshal, Catherine dan Gretchen B Rossman. Designing Qualitative Research. California: Sage Publication,. Inc. 1995.
  • Moleong, L. J. Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosydakarya, 2001.
  • Noeng Muhadjir. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Sabtu, 28 November 2020

Makalah Hipothesis

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Hipothesis
Oleh: Tarmidzi

Penelitian hipothesis mampu dirumuskan sebagai penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu persoalan. Tujuannya untuk menemukan tanggapan kepada persoalan yang memiliki arti lewat prosedur-mekanisme yang ilmiah. Untuk mampu melakukan observasi yang baik, penelitian perlu memiliki pengetahuan wacana berbagai macam bagian observasi. Diantara bagian-unsur yang menjadi dasar penelitian ialah hipothesis.

Tanpa hipothesis, maka proses observasi bisa tidak terarah. Dengan kata lain hipothesis ialah pedoman yang akan menawarkan arah bagi peneliti. Disamping itu hipothesis juga menawarkan kerangka untuk menafsirkan hasil-hasil penelitan dan untuk menyatakan kesimpulan-kesimpulannya. Dengan demikian, hipothesis sungguh besar kegunaanya dalam penelitian ilmiah. Hipothesis memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamat dan seharusnya pengamat dengan teori.

Makalah singkat ini ditulis untuk mengenali apa bergotong-royong hipothesis itu, pentingnya hipothesis, jenis-jenis hipothesis dan pengujian hipothesis. Kami percaya makalah ini sangat jauh dari tepat, karena itu kritik dan nasehat sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini di era yang mau tiba.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Hipothesis

A. Pengertian hipothesis
Hipothesis dalam observasi penting artinya, alasannya adalah dengan adanya hipothesis, ini dapat dijadikan selaku landasan penelitian lapangan. Dalam obrolan sehari-hari, hipothesis sering disebut selaku “praduga sementara” atau persepsi yang belum sempurna. Pengertian tidak sempurna disini memberikan pada belum terbuktinya hipothesis tersebut secara empiris atau substansi kebenarannya, yang dikandungnya belum terbukti secara faktual. Dari kenyataan dapat difahami, hipothesis adalah suatu usulan yang mungkin benar dan mungkin salah, alasannya itu perlu diuji secara empiris, semoga diketahui benar atau salahnya.

Manusia memperhatikan dunia sekitarnya dan melihat terjadinya peristiwa-peritiwa mirip matahari terbit dan terbenamnya, manusia lahir, hidup dan meninggalnya, benda jatuh, hujan turun, orang tua mengasuh anakanya, ada orang kaya dan miskin, penyakit menyerang insan, dan sebagainya. Ia dapat menjadikan insiden atau tanda-tanda itu selaku masalah, dan beliau mengajukan pertanyaan “apa karena matahari terbit? Apa alasannya insan sakit? Apa alasannya adalah ada yang kaya dan yang miskin? Dan sebagainya”. Ia menjajal membentuk teori yang mampu menerangkan insiden dan gejala-tanda-tanda itu. Bagaimanakah diketahuinya kebenaran teori itu? Dari teori itu mampu diturunkannya sejumlah hipothesis. Dengan pertanda kebenaran atau ketidak benarannya. Hipothesis itu secara empiris, dapat pula diterima atau ditolaknya.
Roger D. Wimmer, dan mitra-kawannya menyampaikan:
“mass media research are use a variety of approaches to answer question. Some research is informal and seeks solve relatively simple problems: some is based on theory and requires formally worded question. All researches, how ever, must start with some tentative generalization regarding a relationship between two or more variables. Theese generalization may take two forms: research question and statical hyipotheses. The two are indentical except for the aspect of prediction-hypotheses (hipothesis) predict an experimental outcome, research question not.[1]
Kita lihat adanya orang miskin, apa sebabnya? Pada diri kita muncul sebuah prasangka, misalnya bahwa kemiskinan disebabkan oleh “kurangnya motivasi untuk mengumpulkan harta” pernyataan kita itu bersifat tentativ atau sementara alasannya adalah belum dibuktikan kebenarannya. Pernyataan itu disebut hipothesis. Tiap pernyataan ihwal sebuah hal yang bersifat sementara yang belum dibuktikan kebenarannya secara empiris disebut hipothesis. Suatu hipothesis jika terbukti benar, menjadi fakta.[2] Banyaknya hipothesis yang mampu kita rumuskan ihwal segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, misalnya:
  • Memanjakan anak, menghemat kesanggupan untuk bangun sendiri.
  • Kenakalan anak lebih banyak didapat di golongan orang miskin dibandingkan dengan orang kaya.
  • Pendidikan memajukan kemakmuran negara.
  • Urbanisasi meminimalkan ketaatan orang kepada etika istiadat.
  • Kenaikan gaji tidak mempengaruhi kegairahan kerja.
  • Sekolah khusus untuk anak berbakat memupuk golongan elit yang tidak sosial, dan sebagainya.
Hipothesis yaitu pernyataan tentativ yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita perhatikan dalam perjuangan untuk memahaminya. hipothesis mampu diturunkan dari teori, akan namun adakalanya sukar diadakan perbedaan yang tegas antara teori dan hipothesis. Ada yang menganggap bahwa dalam kenyataan teori ialah “unelaborate hypothesis”. Dalam taraf permulaanya teori-teori ini sering ialah hipothesis yang perlu dibuktikan kebenarannya.[3]

Namun ada baiknya untuk membedakan teori dan hipothesis. Teori bermaksud untuk mengontrol fakta dan memberikannya makna. Teori ialah alat yang tersusun rapi untuk menerangkan dan meramalkan kejadian-peristiwa. Para sarjana mengembangkan sebuah teori untuk menjelaskan insiden dan tanda-tanda. Trealease memperlihatkan defenisi hipothesis sebagai “sebuah informasi sementara dari sebuah fakta yang mampu diperhatikan”. Sedangkan Goog dan Scates menyatakan bahwa “hipothesis adalah sebuah taksiran atau acuan yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang mampu menunjukan fakta-fakta yang dapat diamati ataupun kondisi yang diperhatikan dan dipakai beberbagai petunjuk untuk penelitian selanjutnya”.[4] Hipothesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variable.[5]

B. Jenis-Jenis hipothesis
Menurut Prof. S. Nasution hipothesis mampu dibedakan menurut tingkat abstraksinya, dan berdasarkan bentuknya, sebagai berikut:[6]

1. Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris
Banyak diantara pertanyaan yang bersifat umum itu telah dimengerti dan diakui kebenarannya oleh “orang banyak”. Misalnya “orang Minangkabau banyak merantau, sedangkan orang Jawa sangat terikat terhadap kampung halamannya”, atau “kewiraswastaan lebih berkembang pada orang Sumatera dari pada di golongan orang Jawa”, atau “alasannya adalah jiwa kegotong royongan masih berpengaruh di desa, maka koperasi lebih berkembang di desa daripada di kota”, dan sebagainya.

Namun apa yang diketahui oleh orang banyak belum pasti benar. Harus dibandingkan proporsi orang Minangkabau yang merantau dengan suku-suku lainnya, supaya dapat kita cap orang Minangkabau sebagai perantau. Pengetahuan orang banyak ternayta tidak selalu benar “orang banyak”. Dahulu menyatakan bahwa matahari mengitari bumi, yang ternyata tidak benar berdasarkan penelitian.

Ada diantara promotor thesis yang merasa keberatan kepada hipothesis yang meneliti kebenaran hal-hal yang sudah dikenali siapa saja. Penelitian serupa ini cuma mengumpulkan fakta-fakta dan tidak mentest hipothesis. Namun mengumpulkan fakta-fakta dengan memakai rancangan-rancangan yang dirumuskan dengan cermat, juga merupakan tugas penting dari suatau cabang ilmu pengetahuan, terutama yang masih berada pada taraf permulaan kemajuan seperti halnya ilmu-ilmu sosial.

2. Hipothesis yang berkenaan dengan versi ideal
Dunia realita ini sungguh komplek dan untuk mempelajarinya methode atau tipe wangsit-ide ialah alat yang sangat membantu contohnya tipe intropert dan exstropert sungguh membantu mengetahui manusia dalam hubungannya dengan dunia luar. Demikian pula perilaku diktatorial, demokratis, dan lisence-faire sangat berkhasiat untuk menggambarkan mislanya relasi pendidikan dengan anaknya.

3. hipothesis yang mencari kekerabatan antara sejumlah variable
Hipothesis ini lebih abstrak ketimbang dua jenis sebelumnya. Dissini mesti dianalisis variable-variable yang dianggap turut mensugesti tanda-tanda tertentu dan kemudian diselidiki sampai manakah pergantian dalam variable yang satu membawa pergantian pada variable yang lainnya. Menurut bentuknya mampu kita bendakan hipothesis yang selanjutnya:

a. Hipothesis kerja
Biasanya seorang peneliti menentukan hipothesis yang dianggapnya benar, sedangkan kebenaran hipothesis itu masih mesti dibuktikan. Sementara itu beliau harus bekerja dengan hipothesis itu, dan alasannya adalah itu disebut hipothesis kerja atau hipothesis observasi. Ada kemungkinan hipothesis kerja itu mengalami perubahan sepanjang jalannya penelitian itu.

b. Hipothesis nol
Seorang ilmuan menyangsikan kebenaran setiap pertanyaan sebelum terbukti benar secara empiris. Salah satu cara untuk mencurigai yaitu menganggap bahwa hipothesis itu tidak benar sama sekali, jadi berisi kosong. Oleh alasannya adalah itu disebut hipothesis nol. Kaprikornus jikalau hipothesis itu berbunyi, “orang Minangkabau perantau” maka dengan hipothesis nol dikatakan bahwa “orang Minangkabau bukan perantau”. Bila tidak terbutkti bahwa “orang Minangkabau bukan perantau” maka hipothesis “orang Minagkabau perantau” itu benar.

Hipothesis nol digunakan antara lain alasannya adalah seorang ilmuan harus objektif. Walaupun ia menduga kebenaran hipothesis dia tidak berupaya membuktikannya, agar jangan dituduh memiliki bias dalam usaha membenarkannya. Untuk menjauhkan bias dia justru memperhankan kebalikannya.

Ada pula argumentasi, bahwa tampaknya lebih gampang menunjukan bahwa sesuatu tidak benar dari pada membuktikan kebenarannya. Suatu hal hanya mungkin “benar” atau “tidak benar”. Bila tidak mampu dibuktikan bahwa hal itu “tidak benar” maka dengan sendirinya hal itu “benar”. Hipothesis nol itu lazim digunakan oleh para peneliti ilmu-ilmu sosial.

c. Hipothesis statistik
Hipothesis ini menyatakan hasil observasi tentang populasi “insan atau benda” dalam bentuk kuantitativ. Misalkan kita duga bahwa pendapatan buruh laki-laki “golongan A” disebuah perusahaan lebih banyak dari pada buruh wanita “kelompok B”. pemasukan rata-rata buruh pria, dinyatakan sebagai Xp dan pertimbangan rata-rata buruh wanita dinyatakan Xw. Maka perbedaan antara pendapatan rata-rata dinyatakan sebagai simbolis selaku Xp-Xw. Kita mampu mengajukan hipothesis “H” bahwa pemasukan rata-rata antara buruh pria dan wanita berlawanan sebagai “H:Xp≠Xw”. Bila tidak memakai hipothesis nol (Ho) maka dinyatakan selaku berikut: Ho:Xp-Xw.

Bila kita mengajukan hipothesis (H) bahwa pendapat buruh pria lebih banyak daripada pendapatan buruh wanita kita sapat melambangkan sebagai berikut: HXp>Xw, dan hipothesis nolnya selaku Ho:Xp≤Xw. Lambang ≤ berati “sama dengan atau kurang dari”. Hipotesis statistic juga dipakai untuk menyatakan adanya relasi antara variable atau lebih dari dua variable. Misalnya mampu diselidiki tingkat kekerabatan antara jumlah kendaaran dan jumlah kendaraan kemudian lintas. Bila ternyata bahwa jumlah kecelakaan meningkat dengan bertambahnya jumlah kenderaan, maka dikatakan bahwa kekerabatan (r) atau keterkaitannya konkret. Jumlah kenderaan mampu pula dicari keterkaitannya dengan misalnya ketentraman hidup. Bila ternayta kenyamanan hidup berkurang dengan meningkatnya jumlah kenderaan, maka dibilang bahwa korelasinya negatif. Tingkat kekerabatan dinyatakan dengan suatu angka atau koefisien. Koefisien hubungan berkisar antara –1. 00 hingga –1.00. relasi antara dua variabel dilambangkan sebagai H0:rxy =0 artinya hipothesis menyatakan tidak ada korelasi antara variable x dan y. setiap korelasi yang berlawanan dengan nol jadi H: rxy ≠0 menawarkan adanya kekerabatan yang dapat dijumlah besarnya yang dapat bersifat negatif atau positif.

Suatu hipothesis dapat terdiri atas lebih dari dua variabel yang mampu dicari ragam relasi atau kovariasinya. Hipothesis dengan satu atau dua variabel disebut hipothesis yang sederhana, sedangkan yang mempunyai lebih dari dua variabel disebut hipothesis yang komplek. Menurut Muhammad Nazar, hipothesis yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Hipothesis mesti menyatakan kekerabatan.
b. Hipothesis harus sesuai dengan fakta.

C. hipothesis Pengujian
Hipothesis yang baik harus menyanggupi dua kriteria. Pertama, hipothesis mesti menggambarkan relasi antar variable-variabel.[7] Suatu hipothesis yang diuji bermakna kesimpulan dan asumsi mampu ditarik dari hipothesis tersebut, sehingga dapat dijalankan observasi empiris yang hendak mendukung atau tidak mendukung hipothesis tersebut. Agar dapat diuji, hipothesis mesti menghubung variabel-variabel yang mampu diukur. Apabila tidak terdapat alat atau cara untuk mengukur variabel-variabel, tidak mungkin dapat menghimpun data yang diterima untuk menguji validitas hipothesis tersebut.

Menguji hipothesis membutuhkan pengujian dalam banyak sekali tata cara penelitan, utamanya dalam tekhnik pengumpulan dan pengelolaan data. Tekhnik mana yang serasi untuk digunakan, tergantung terhadap sifat persoalan yang dipecahkan. Untuk menguji sebuah hipothesis, penelitian:
  • Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsikeunsi yang hendak dapat diamati apabila hipothesis tersebut benar.
  • Memilih methode-methode observasi yang hendak memungkinkan observasi, eksperimentasi, atau mekanisme lainnya yang dibutuhkan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak dan.
  • Menerapkan methode ini serta menghimpun data yang dapat menganalisis untuk menunjukkan data hipothesis teresbut disokong oleh data atau tidak.[8]
Sebuah teladan mungkin mampu membantu menggambarkan dengan lebih baik proses pengujian secara empiris. Andaikata, seorang peneliti terpikatmenguji hipothesis yang mengatakan bahwa ujian atau dorongan menimbulkan kian tingginya motivasi murid. Jika hipothesis ini benar, logislah jikalau kita menduga komentar guru yang bersifat mendorong (kebanggaan) yang ditulis pada kertas balasan murid, akan disertai oleh kenaikan prestasi murid. Secara tersirat hal ini memperlihatkan adanya asumsi bahwa peningkatan motivasi itu tampak pada hasil test yang lebih baik.

langkah awal: implikasi ini mampu dinyatakan sebagai berikut: “komentar guru yang ditulis pada kertas tanggapan murid menyebabkan peningkatan hasil test murid. Hubungan antara kedua variabel, komentar guru dan prestasi murid, inilah yang mesti diuji. Hipothesis seperti ini mampu diuji dengan eksprimen. langkah ke-dua: penelitian mampu secara acak menentukan jumlah kelas untuk digunakan dalam penyelidikan itu. Di dalam setiap kelas, secara acak siswa dibagi menjadi dua kalangan. Bagi mereka yang masuk ke dalam kalangan A, guru menuliskan komentar yang bersifat mendorong perihal hasil test mereka. (komentar ini hanya berupa kata dorongan terhadap siswa mirip “bagus sekali” “pertahankan nilai baik ini” atau “kamu semakin baik”). Komentar-komentar ini hendaknya tidak ada relevansinya dengan isi satu koreksi kesalahan-kesalahan siswa tertentu. Kalau tidak, maka peningkatan prestasi itu mampu dihubungkan pada nilai pendidikan nilai komentar semacam itu dan bukan pada motivasi yang meningkat). Siswa-siswa yang dimasukkan ke dalam kelompok B tidak menerima komentar sama sekali pada kertas tanggapan test mereka.

Guru memperlihatkan sebuah test objektiv yang meliputi beberapa unit materi. Test tersebut diberi skor dan perlakuan eksperimental dilaksanakan seperti yang dijelaskan diatas. Kemudian guru tersebut memperlihatkan test ke-dua yang meliputi unit-unit yang derajat kesulitannya sama dengan unit sebelumnya, serta yang diajarkan sehabis test pertama dan perlakuan eksperimental diberikan. Perubahan skor dari test pertama ke test ke dua bagi setiap siswa serta nilai rata-rata bagi kelompok diperhatikan. Setelah itu lewat analisis data.

bila lalu dimengerti bahwa selaku sebuah kalangan, siswa-siswi yang mendapatkan komentar (golongan A) secara signifikan mencapai nilai komplemen lebih tinggi dari pada golongan yang tidak menerima komentar (elompok B), maka hasil tersebut mendukung hipotesis bahwa komentar guru pada kertas balasan siswa mengakibatkan kenaikan prestasi siswa di dalam tes.

Suatu hipotesis mampu terdiri atas lebih dari dua variabel yang dapat dicari ragam kekerabatan atau kovariasinya. Hipotesis dengan satu atau dengan dua variabel disebut hipotesis yang sederhana, sedangkan yang memiliki lebih dari dari dua variabel disebut hipotesis yang kompleks. Menurut Muhammad Nazar, hipotesis yang bagus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Hipotesis mesti menyatakan relasi.
  • Hopotesis harus sesuai dengan fakta.
  • Hipotesis mesti bewrhubungan dengan ilmu, serta sesuai dan berkembang dengan ilmu pengetahuan.
  • Hipiotesis harus dapat diuji
  • Hipotesis mesti sederhana.
  • Hipotesis harus bisa menunjukan fakta.
Untuk merumuskan hipotesis yang baik, ada beberapa hipotesis yang bagus, yang dikemukakan Sanafiah antara lain :
  • Bisa diterima nalar sehat.
  • Mempunyai daya penjelasan atau eksplanasi yang rasional.
  • menyatakan kekerabatan anatar variabel.
  • harus dapat diuji benar salahnya.
  • konsisten dengan teori yang telah ada.
  • kalimatnya sederhana dan ringkas
  • kalimatnya berbentuk pernyataan.
Dalam setiap hipotesis yang cantik senantiasa mempunyai korelasi yang komplek dengan wilayah wawasan yang terbangun secara rasional dalam sebuah observasi dan yang hendak diuji. Dengan adanya standarisasi hipotesis di atas, dapat dijadikan sebuah teladan merumuskan hipotesis yang baik, benar tidaknya hipotesis akan diketahui setelah penelitii mendapatkan hasil penelitian. Sedangkan perumusan hipothesis dapat diperoleh dari tiga sumber. Penggunaan ketiga sumber ini akan berkaitan dengan jenis atau sifat observasi.

D. Pengujian Hipotesis Untuk Penelitian Kuantitatif
Suatu hipotesis harus diuji berdasarkan data empiris, ialah berdasarkan apa yang mampu diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti mesti mencari situasi atau lapangan empiris yang memberi data yang dibutuhkan. Tidak selalu mudah memperoleh sampel yang dapat dan rela memberi data. Untuk meneliti kemakmuran buruh sebuah perusahaan, mesti diperoleh izin lebih dahulu dari pemilik atau pemimpinnya. Selain itu tidak selalu ada kesedian orang untuk menunjukkan berita yang benar dan jujur. Ada lagi kesusahan-kesulitan lain yang harus terselesaikan untuk memperoleh lapangan empiris guna mentes hipotesis kita.

Secara biasa hipotesis mampu diuji dengan dua cara, yaitu dengan cara mencocokkan dengan fakta atau dengan mempelajari konsistensi logika. Dalam menguji hipotesis dengan memncocokkan dengan fakta maka diperlikan percobaan-percobaan untuk mendapatkan data, yang kemudian dinilai apakah cocok dengan fakta atau tidak. Cara ini dipakai dengan menggunakan desain percobaan. Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka si peneliti memilih sebuah rancangan dimana nalar mampu dipakai, untuk mendapatkan atau menolak hipotesis. Cara ini digunakan dalam menguji hipotesis pada penelitian yang memakai tata cara non-experimental mirip metode deskriptif, metode sejarah dan sebaginya.[9]

Seperti dibilang sebelumnya sebuah hipotesis harus dapat di tes secara empiris. Kalau dikatakan bahwa cacat jiwa disebabkan oleh “setan, jin atau roh jahat” maka tidak dapat kita dapatkan data empiris tentang “setan, jin atau roh jahat” dengan alat-alat yang ada pada kita sekarang. Andaikata kita telah menghimpun data, bagaimanakah kita simpulkan apakah hipotesis yang kita kemukakan itu benar atau salah? Ada bahayanya seorang pemilih cenderung membenarkan hipotesisnya, alasannya adalah ia dipengaruhi oleh bias atau praduga. Dengan menggunakan data kualitatif yang diolah berdasarkan ketentuan-ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin. Tentu saja seorang penyelidik mesti jujur, jangan memanipulasi data, dan haru menjungjung tinggi penelitian selaku usaha untuk mencari kebenaran sampel. Misalnya kita ingin mengetahui tinggi rata-rata badan mahasiswa Sumatera Utara. Sebenarnya kita harus mengukur tinggi semua mahasiswa, jadi seluruh populasi. Akan namun oleh sebab perjuangan itu terlampau banyak menyantap waktu, ongkos dan tenaga, selain dari itu tidak perlu melakukan demikian, kita hanya mengambil sebhagiannya saja sebagai sampel, misalnya 100 orang, yang kita anggap mewakili seluruh populasi. Bila kita ambil 100 orang lainnya, besar keinginan bahwa tinggi rata-ratanya hampir sama dengan sampel yang sama.

Untuk mengetahui sampai manakah sebuah hipotesis mampu diterima atau harus ditolak maka secara statistik mampu dijumlah tingkat segnifikansinya. Biasanya tingkat singnifikansi diputuskan sebanyak 0, 10, 0.05 dan 0.1. jikalau peneliti lebih dahulu memilih tingkat signifikansi atau tingkat dogma 0.05 untuk menolak sebuah hipotesis, maka ada kemungkinan 5 % bahwa ia menciptakan kesalahan dalam keputusan menolaknya. Bila dia memilih tingkat signifikansi 0.10, maka kemungkinan mengambil keputusan yang salah yaitu 10 % dan seterusnya.

Contohnya: misalkan kita ajukan hipothesis bahwa antara variabel X dan Y terdapat korelasi (r) positif, jadi rXY > 0 atau dilambangkan sebagai H: rXY > 0. Maka hipothesis nol dilambangkan sebagai Ho: rXY ≤ 0, artinya hubungan antara X dan Y sama dengan 0 atau kurang dari 0. Bila tingkat signifikansi yang diharapkan 0,01, maka ditulis  = 0,01 (atau 01).

Jadi tingkat signifikansi atau tingkat kepercayaan gunanya untuk memberi pegangan kepada kita mengambil mengambil keputusan dan menafsirkannya secara obyektif. Kita tidak dapat lagi memanipulasi data itu. Bagaimana kita merumuskan hipothesis nol yang kita uji menurut data, bergantung sepenuhnya pada cara kita merumuskan hipothesis kerja kita. Untuk menguji hipothesis cara menentukan sampel sungguh penting semoga sampel itu betul-beul mewakili keseluruhan populasi. Apabila peneliti telah mengumpulkan dan mengolah data, bahan pengujian hipothesis pasti akan sampai terhadap sebuah kesimpulan mendapatkan atau menolak hipothesis tersebut. Di dalam menerima atau menolak hipothesis maka hipothesisi alternatif (Ha) diubah menjadi hipothesis nol.

Untuk kebutuhan ini dicontohkan penerapannya pada sebuah populasi berdistribusi wajar yang digambarkan dengan grafik berikut:[10] Dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal, maka jikalau kita menentukan taraf keyakinan 95 % dengan pengetesan 2 ekor, maka terdapat dua daerah kritik yaitu di ekor kanan dan kiri kurva, masing-masing 2½ %. Penjelasan mengenai maslah ini lebih lanjut akan diberikan pada langkah menawan kesimpulan.

Lihatlah footnotenya di sini

DAFTAR PUSTAKA
  • Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Cet. IX. Yogyakarta : Rineka Cipta, 1993.
  • --------------------------, Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
  • Faisal, Sanafiah, format-format Penelitian Sosial, Cet. III. Jakarta : Grafindo Persada, 1995.
  • Furchan, Arif, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
  • Good dan Scates, Methods of Reaserch Educational, Psychological, Sosiological. London Appleton – Century – Crofts, 1954.
  • Hadi, Sutrisno, Metodologi Reasearch, Yogyakarta : Andi Offset, 1989.
  • Kartono, Kartini, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung : Alumni, 1982.
  • Nasution, S, Metode Reasearch, Cet. II. Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
  • Nazir, Muhammad, Metode Penelitian. Jakarta : Galia Indonesia, 1988.
  • Roger, Wimmer, Mass Media Reasearch : An Introduction. California : Wads Worth Publishing Company, 1999.
  • Singarimbun, Masri, et. All, Metode Penelitian Survei, Jakarta : LP3ES, 1982

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Rabu, 18 November 2020

Makalah Penelitian Eksperimental

A. Pendahuluan
Salah satu bentuk penelitian yang diketahui dalam meneliti fenomena-fenomena non sosial yakni observasi eksperimental. Penelitian ini umumnya dilaksanakan di laboratorium. Sifatnya yang memerlukan indikasi yang terperinci, konkrit dan mampu dihitung menyebabkannya hanya mampu dipraktekkan pada persoalan-problem yang bisa dijumlah secara matematis.

Hal ini seperti yang diterapkan pada observasi yang ingin mengetahui imbas pupuk A kepada tanaman teh di dalam pot misalnya. Untuk menelitinya maka dibuatlah percobaan dengan memisahkan dua golongan flora teh dalam pot, kalangan A yang diberi pupuk A setiap harinya dan kelompok B yang tidak diberi pupuk. Inikasinya yakni jumlah daun yang bisa dijumlah secara periodik.

Jumlah perbedaan daun antara kalangan A dan kalangan B ialah hasil observasi eksperimental tersebut. tetapi meski demikian, untuk persoalan kehidupan manusia, penelitian ini meski tidak bisa dipraktekkan secara hakiki, tetap saja ada perjuangan untuk menggunakannya teknik ini dengan kuasi eksperimental atau nyaris mirip penelitian eksperimental.Makalah ini akan menguraikan ihwal dilema penelitian eksperimental.

B. Defenisi: Penelitian Eksperimental
Eksperiment berasal dari bahasa Inggris yaitu experiment yang memiliki arti test or trial carried out carefully in order to study what happens and gain new knowledge[1] yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti test atau percobaan yang dijalankan dengan hati-hati untuk mempelajari apa yang terjadi dan untuk menerima pengetahuan yang gres. Experimental ialah kata sifat turunan dari experiment yang mempunyai arti sesuatu yang dipakai berdasarkan percobaan.

Sedangkan dalam pengertian ilmiah, observasi eksperimental memiliki arti penelitian yang dilakukan dengan membandingkan dua kelompok sasaran observasi dengan menunjukkan kondisi yang ketat untuk mendapatkan selisih antara dua golongan tersebut.

Penelitian eksperimental ialah sebuah metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan: “bila sesuatu dilakukan pada kondisi-keadaan yang diatur dengan teliliti, maka apakah yang mau terjadi?”. Dalam hal ini, peneliti merekayasa stimuli, perlakuan dan lalu mengobeservasi imbas yang timbul.[2]

C. Penelitian Eksperimental dan Kuasi Eksperimental
Penelitian eksperimental menggunakan suatu percobaan yang dirancang secara khusus guna membangkitan data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan observasi. Penelitian yang memakai rancangan percobaan dianggap selaku jenis penelitian yang paling diharapkan oleh seseorang peneliti. Yang dimaksud dengan percobaan ialah bagian observasi yang membandingkan dua golongan sasaran penelitian. Satu kelompok diberi perlakuan khusus tertentu dan satu kelompol lagi dikendalikan pada sebuah kondisi yang pengaruhnya dijadikan sebagai pembanding. Karena itu kelompok kedua ini disebut selaku kelompok pengendali, kalangan kontrol atau golongan pembangding. Selisih tanggap antara golongan perlakuan dengan kelompok kendali menjadi ukuran pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap golongan perlakuan itu.[3]

Sebagai pola adalah penelitian yang ingin menguji dampak sumbangan ampas teh ke dalam pot yang ditanami bibit suplir. Untuk itu ditawarkan kalangan tumbuhan suplir dalam pot. Susunan tanahnya diusahakan sama dan tanamannya juga berumur sama. Setiap pot berisi tanah yang telah ditanami suplir itu dan yang hendak dipakai selaku anjuran pelaksanaan percobaan dinamakan satuan percobaan.

Penentuan pot mana saja yang ditempatkan dikelompok percobaan dan mana yang dikelompok pembanding diputuskan dengan undian. Penentuan pot yang hendak disiram dan diberi ampas teh setiap pagi diputuskan melaluli undian. Air siraman untuk setiap pot pada kedua kelompok itu juga diberikan sama banyaknya. Karena itu, suplir dalam pot yang ada dalam kelompok kontrol serta suplir yang berkembang dalam pot yang ada dalam kalangan perlakuan sama-sama berkembang pada medium yang sama dan lingkungan yang sama pula, yang berlainan hanyalah pinjaman ampas teh tersebut.

Selanjutnya dijumlah berapa pertambahan jumlah daun baru dalam setiap bulan untuk setiap pot, maka perbedaan jumlah yang terdapat antara golongan pembanding dan golongan kontrol merupakan ukuran imbas derma ampas teh tersebut.

Menurut beberapa sumber bahwa, penelitan cuma dapat dilaksanakan kepada pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut hal-hal yang dapat dikerjakan di laboratorium atau di lapangan yang tidak menyangkut kehidupan manusia.[4] Selain itu, tampak pula bahwa penelitian eskperimental sangat tepat untuk menjawab pertanyaan penelitan yang dapat diubah menjadi hipothesis yang diungkapkan secara kuantitatif, alasannya penelitian kuantitatif bermaksud untuk menerangkan, meramalkan atau mengendalikan fenomena lewat pengumpulan data terkonsentrasi dari data numerik.[5]

Penelitian menggunakan pengendalian perlakuan ketat biasanya tidak dapat dilakasanakan dengan manusia dan dilema kemasyarakatan. Karena, selain bekaitan dengan masalah moral penelitian, di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial sangat sulit melakukan penelitian eksperimental, sehingga dikembangkan penelitian yang memakai percobaan hampir eksperimental atau kuasi eksperimental.[6]

Pada observasi eksperimental. penentuan setiap satuan percobaan di dalam satu golongan perlakuan atau kalangan pembanding selalu dikerjakan dengan undian yang istilahnya penentuan secara acak. Penelitian kuasi eksperimental menunjukkan potensi untuk meneliti perlakuan-perlakuan di dalam penduduk yang tidak ditempatkan dengan sengaja, melainkan terjadi secara alami. Akan namun keampuhannya tidak dapat menyamai keampuhan penelitian eksperimental bahwasanya.

Misalnya seorang mahasiswa yang berasal dari kota besar daripada mahasiswa yang berasal dari kota kecil. Maka di saat penerimaan mahasiswa gres, seorang peneliti tersebut akan mencatat ukuran tinggi, bobot, lingkar lengan atas lingkar betis mahasiswa gres. Setelah itu, beliau menggolongkan data yang terkempul kepada dua golongan, yakni kalangan mahasiswa yang berasal dari kota besar dan golongan mahasiswa yang berasal dari kota kecil. Untuk membedakan kedua kelompok ini, peneliti harus mendefenisikan bahwa yang dimaksud dengan kota besar adalah kota yang menjadi ibu kota provinsi, sementara kota kecil yakni kota selain kota besar tersebut. sesudah itu peneliti membandingkan rata-rata lingkar lengan atas, tinggi dan bobot.

Lalu dari penelitian tersebut ia menyimpulkan bahwa mahasiswa yang berasal dari kota besar condong lebih tinggi daripada mahasiswa yang berasal dari kota kecil, akan tetapi lingkar betis mahasiswa yang berasal dari kota besar lebih kecil dari pada mahasiswa yang berasal dari kota kecil. Dari penelitian tersebut, seorang peneliti lalu dapat merancang sebuah observasi yang lebih mendalam wacana prilaku hidup yang berbeda antara mahasiswa yang berasal dari kota besar dan kota kecil.

Penelitian seperti demikian merupakan observasi yang menggunakan kuasi eksperimen, alasannya adalah untuk melakukannya harus beradasarkan eksperimen. Hal ini mampu dijelaskan bahwa, jika dalam penelitian eksperimental maka sang peneliti mesti menentukan dan mengacak semua bayi di Indonesia untuk dibagi menjadi dua golongan, yang berasal dari kota kecil dan besar. Kemudian mereka disuruh bersekolah hingga menjadi mahasiswa, tentu saja observasi seperti itu tidak dapat dilaksanakan. Yang bisa dilaksanakan yakni mengumpulkan data dari bahan yang telah tersedia, sambil mengharapkan bahwa bahan yang ada itu mampu mewakili kondisi yang bantu-membantu dengan cukup baik. Kadang-kadang keinginan itu memenuhi realita, tetapi kadang kurun untuk masalah tertentu peneliti mampu terjebak alasannya selain perlakuan yang terlihat olehnya pada materi percobaan, tanpa ia sadari ada faktor-aspek lain yang mempengaruhi satuan yang diamatinya tersebut.[7]

Semua observasi eksperimental bersifat menguraikan duduk perkara disusun oleh upaya pemahamannya sehingga dikatakan ialah observasi analitik. Lain halnya dengan penelitan yang sama sekali tidak memakai percobaan hingga disebut observasi non-eksperimental. Percobaan kuasi eksperimentalpun sebetulnya lebih bersahabat dengan penelitian non-eksperimental karena untuk penelitiannya tidak diharapkan suatu percobaan terkendali. Penelitian seperti ini dapat bersifat analitik, tetapi mampu pula bersifat deskriptif.

Penelitian deskriptif mampu dianggap sebagai suatu kajian yang ingin memperoleh fakta yang lalu disusul oleh penafsiran. Kajian-kajian deskriptif dapat mencakup penelitan rintisan atau perumusan untuk mengetahui sifat suatu kejadian, sebelum diadakannya suatu observasi yang lebih mendalam. Kajian deskriptif ini pula mampu pula berguna untuk mendapatkan citra wacana ciri-ciri golongan, golongan masyarakat atau organisasi. Sebagai salah satu ciri penelitian ilmiah empirikal, hasil dari observasi eskperimental juga harus mampu diuji coba ulang pada tempat dan waktu lainnya. Objektifitas sebuah hasil observasi sangat tergantung dengan hal ini.[8]

D. Kelompok Eksperimen (Perlakuan) dan Kelompok Kontrol
Suatu eksperimen mengandung upaya perbandingan tentang akhir dari suatu tritmen tertentu dengan sebuah tritmen lainnya yang berlainan atau dengan yang tanpa ada tritmen. Di dalam referensi tentang eksperimen konvensional yang sederhana, biasanya dibuatkan suatu golongan eksperimen dan golongan kendali. Kelompok eksperimen dan kendali tadi, sedapat mungkin sama atau mendekati sama cirinya. Pada golongan eksperimen diberikan tritmen atau perlauan tertentu, sedangkan pada kalangan kontrol tidak diberikan. Kemudian, kondisi dua golongan ini diobservasi untuk menyaksikan dan memilih perbedaan atau pergeseran yang terjadi pada kelompok eksperimen.

Namun, bagaimanapun juga, eksperimen tidak selalu ditandai dengan pembandingan sebuah kelompok yang diberi tritmen dan kalangan yang tidak diberi tritmen. Ada banyak tipe, kadar dan tingkatan aspek eksperimental yang mampu ditetapkan pada sejumlah kalangan-kalangan. Misalnya dalam mengeksperimentasikan efektifitas sebuah obat penurun panas, maka bisa dibuat tiga kelompok, kelompok yang diberi takaran lebih, kelompok yang diberi takaran normal dan kelompok yang diberi dosis minim. Kaprikornus dalam penelitian seperti ini, semua kelompok mendapatkan tritmen, dan tidak ada kalangan kontrol.[9]

dalam relevansinya dengan observasi mirip tersebut di atas, maka yang menjadi komponen penting dalam eksperimen yakni adanya kontrol kepada aspek-faktor eksperimen, dan mengobservasi pengaruh dari faktor-aspek eksperimental tersebut.

D. Penutup
Salah satu bentuk penelitian yang diketahui dalam meneliti fenomena-fenomena non sosial ialah observasi eksperimental. Penelitian eksperimental memiliki arti penelitian yang dikerjakan dengan membandingkan dua kalangan target penelitian dengan menunjukkan kondisi yang ketat untuk mendapatkan selisih antara dua kalangan tersebut. Penelitian ini umumnya dilaksanakan di laboratorium. Sifatnya yang membutuhkan indikasi yang terperinci, konkrit dan bisa dijumlah menyebabkannya cuma bisa dipraktekkan pada masalah-masalah yang bisa dijumlah secara matematis. Maka untuk kepentingan penelitian keilmuan yang bekaitan dengan masalah sosial, dibangunlah teknik penelitian kuasi ekperimental. Teknik observasi kuasi eksperimental ialah teknik penelitian yang mendasarkan penelitiannya atas ekperimen dan data yang sudah ada dari bahan-bahan yang bisa mewakili keadaan aslinya. Pada hakikatnya teknik observasi eksperimental jauh lebih ketat dari pada kuasi ekperimental.

Daftar Pustaka
  • Babbie, Earl, The Practice of Social Research. Belmont: Wadworth Publishing, 1979.
  • Faisal, Sanapiah, Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
  • Hornby, A. S., Oxford Advanced Dictionary . Oxford: Oxford University Press, 1974.
  • Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
  • Moelong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
  • Suwondo,Tirto, Studi Sastra. Yogyakrta: Hanindita, 2005.
Footnote
-----------------------
[1] A. S Hornby, Oxford Advanced Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 1974), h. 299.
[2] SanaPiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 77.
[3] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 110.
[4] Ibid, h. 112.
[5] Lexy J. Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), h. 30.
[6] Earl Babbie, The Practice of Social Research (Belmont: Wadworth Publishing, 1979), h. 37.
[7] Margono, Metodologi Penelitian. H. 115.
[8] Tirto Suwondo, Studi Sastra (Yogyakrta: Hanindita, 2005), h. 27.
[9] SanaPiah Faisal, Metodologi Penelitian, h. 81.
[10] SanaPiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 77.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Sabtu, 24 Oktober 2020

Makalah Advance Organizer Berdasarkan Ausubel

Raudah Zaini 
  • [1] Haniatus Solihah, Konsep Belajar Bermakna David Ausubel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,(Surabaya: Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 2008),  h.17
  • [2] Bruce Joyce, Marsha Weil, Emily Calhoun. Models of Teaching (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2009),  h. 280-281
  • [3] Richard I Arends, Learning To Teach, Belajar untuk  mengajar. Buku Satu, Edisi ketujuh, cet.1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h,  275.
  • [4] Joys, Models h.265
  • [5] Ibid, h.292
  • [6] Arends, Learning, h.265
  • [7] Abdul Hamid, Teori Belajar dan Pembelajaran.( Medan, 2009), h. 73
  • [8] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ( Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 44
  • [9] Joyce, Models , h. 294
  • [10] Arends, Learning, h.278
  • [11] Joyce, Models,h. 284-5
  • [12] Abdul Hamid, Teori Belajar, h. 73
  • [13] Joyce, Models, h. 281
  • [14] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h.35
  • [15] Arends, Learning, h.268-9

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Kamis, 03 September 2020

Makalah Tata Cara Bermain Tugas

Makalah Metode Bermain Peran
Oleh:  Vera Fatmawati
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran guru dan peserta ajar sering dihadapkan pada aneka macam dilema, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut korelasi social. Pemecahan dilema pembelajaran mampu dilaksanakan lewat banyak sekali cara, lewat diskusi kelas, Tanya jawab antara guru dan peserta latih, penemuan dan inkuiri.

Guru yang inovatif selalu mencari pendekatan gres dalam memecahkan dilema, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan menentukan variasi lain yang sesuai. Bermain tugas ialah salah satu alternative yang dapat ditempuh. Hasil observasi dan percobaan yang dikerjakan oleh para hebat menawarkan bahwa bermain tugas merupakan salah satu model yang mampu dipakai secara efektif dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bermain tugas diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut korelasi antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta asuh.

Manusia ialah makhluk social dan perorangan, yang dalam hidupnya selalu berhadapan dengan insan lain atau situasi di sekelilingnya. Mereka berinteraksi, berinterdepedensi dan imbas mensugesti. Sebagai individu manusia memiliki pola yang unik dalam berafiliasi dengan manusia lain. Ia mempunyai rasa bahagia, tidak bahagia, percaya, curiga, dan ragu kepada orang lain. Namun perasaan tersebut diarahkan juga pada dirinya. Perasaan dan perilaku terhadap orang lain dan dirinya itu mensugesti contoh respon individu terhadap individu lain atau situasi di luar dirinya. Karena bahagia dan ingin tau beliau condong mendekat. Karena tidak senang dan curiga ia condong menjauh manifestasi tersebut disebut peran.


BAB II
PEMBAHASAN
Metode Bermain Peran

A. PENGERTIAN BERMAIN PERAN

pengertian Peran mampu didefinisikan selaku sebuah rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, selaku sebuah teladan kekerabatan unik yang ditunjukkan oleh individu kepada individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, dibutuhkan pemahaman kepada peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, namun pada factor penentunya, adalah perasaan, pandangan dan sikap. Bermain tugas berupaya membantu individu untuk memahami kiprahnya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dannilaiyangmendasarinya.

Bermain peran dalam pembelajaran ialah usaha untuk memecahkan problem lewat peragaan, serta langkah-langkah identifikasi persoalan, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah penerima ajar bertindak selaku pemeran dan yang yang lain selaku pengamat. Seorang pemeran mesti mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui tugas, akseptor latih berinteraksi dengan orang lain yag juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.

Selama pembelajaran berjalan, setiap pemeranan dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, murka, bahagia, dan peran yang lain. Pemeranan tenggelam dalam tugas yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berupaya mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan. Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk menyebarkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan versi-model mengajar yang lain. 

Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:

a Secara implicit bermain tugas mendukung sustau situasi berguru berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada suasana ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta asuh dimungkinkan untuk menciptakan analogy tentang situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para akseptor asuh dapat memperlihatkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.

b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta asuh untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain tugas yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan pementingan antara bermain tugas dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain tugas dalam konteks pembelajaran menatap bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan ketimbang bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran tugas keduanya memegang peranan yang sungguh penting dalam pembelajaran.

c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan wangsit-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk lalu ditingkatkan lewat proses kalangan. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, namun mampu saja timbul dari reaksi pengamat terhadap persoalan yang sedang diperankan. Denagn demikian, para penerima latih dapat belajar dari pengalaman orang lain perihal cara memecahkan persoalan yang pada gilirannya mampu dimanfaauntuk menyebarkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta latih mampu belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya mampu dimanfaatkan untuk menyebarkan dirinya secara optimal. Oleh karena itu, model mengajar ini berusaha menghemat peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong akseptor didik untuk turut aktif dalam pemecahan duduk perkara sambil mendengarkansecara seksama bagaimana orang lain mengatakan tentang persoalan yang sedang dihadapi.

d. Model bermain peran berpendapat bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system doktrin, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta asuh mampu menguji perilaku dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa pertolongan orang lain, para akseptor bimbing susah untuk menilai perilaku dan nilai yang dimilikinya.

Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain tugas selaku model pembelajaran, ialah (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan ketimbang suasana kehidupan positif.


B. JENIS- JENIS BERMAIN PERAN

Bermain tugas mikro, bawah umur belajar menjadi sutradara, memainkan boneka, dan mainan berukuran kecil mirip rumah-rumahan, bangku sofa mini, daerah tidur mini (seperti bermain boneka barbie). Biasanya mereka akan menciptakan percakapan sendiri. Dalam bermain peran makro, anak berperan menjadi seseorang yang mereka kehendaki. Bisa mama, papa, tante,polisi, sopir, pilot, dsb.

Saat bermain tugas ini mampu menjadi ajang belajar bagi mereka, baik belajar membaca, berhitung, mempelajari proses/alur dalam mengerjakan sesuatu, mengenal tata tertib/sistem di sebuah daerah, yang semua ada dalam kehidupan kita. Tentu saja kita hanya cukup menunjukkan berita sebelum mereka mulai bermain, dan atau lebih bik kalo kita terlibat dalam permainan tersebut supaya kita mampu menggali imaginasi dan mengenalkan info yang ingin kita kenalkan.

Contohnya
Kita ingin mengenalkan perihal Ikan (jenis, bagaimana ikan mampu terhidang di meja makan, kandungan gizi,profesi halal). Layout kawasan bermain tugas ini bisa dikelola sedemikian rupa menjadi beberapa tempat yang berfungsi sebagai rumah, pasar, pantai, jangan lupa senantiasa sediakan space untuk masjid. Sediakan perlengkapan yang mendukung, tentu saja boleh buatan sendiri misal pancing-pancingan, jala-jalaan, kotak dijadikan sebagai timbangan. Harus ada duit mainan (tanamkan desain bahwa agar ikannya halal untuk disantap harus dibeli memakai duit) Kenalkan proses distribusi mulai dari ikan ditangkap nelayan, dijual ke pasar ikan, dibeli oleh pembeli dan diolah oleh ibu (secara tidak pribadi mengenalkan profesi halal). Saat makan, informasikan kandungan gizi apa saja yang ada dalam ikan. Untuk menuansakan agama, selalu diupayakan ada adzan di sela-sela mereka bermain, tidak lain membiasakan anak untuk berhenti bermain, melaksanakan sholat berjamaah, setelah itu boleh meneruskan bermain. Pasang tulisan gosip jenis ikan (misal di kotak tempat ikan di pasar), nama daerah (masjid, pasar ikan, rumah keluarga Amir). Kalo bagian berhitung, mampu saat menghitung ikan yang ditangkap atau yang dibeli.pastinya semua gosip dikenalkan melalui percakapan antar pemain.


C. Penerapan Bermain Peran Di Taman Kanak-Kanak Melalui Metode Parsitipatif

Dalam pembelajaran partisipatif terdapat tiga pihak sebagai pemegang tugas seperti diungkapkan oleh Prof. H.D. Sudjana S., S.Pd., M. Ed., Ph.D. yakni pendidik, akseptor latih, dan kurikulum yang menjadi kepedulian keduanya, yaitu kepedulian pendidik dan akseptor latih (siswa, warga mencar ilmu, peserta latihan). Pendidik dengan penamaan lain baginya seperti pamong belajar, pembimbing, dan instruktur atau widyaiswara, yaitu selaku pemegang utama dalam stiap seni manajemen aktivitas pembelajaran.

Strategi acara pembelajaran dapat ditinjau berdasarkan pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Secara sempit, strategi pembelajaran dapat diartikan selaku cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan secara luas, seni manajemen pembelajaran mampu diberi arti sebagai penetapan semua faktor yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk di dalamnya yakni penyusunan rencana, pelaksanaan dan evaluasi proses, hasil dan efek kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan aktivitas yang diitimbulkannya, strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian yakni taktik pembelajaran yang berpusat pada akseptor didik dan strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik.

Strategi pembelajaran yang berpusat pad penerima didik yaitu aktivitas pembelajaran yang menawarkan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta bimbing untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Strategi ini menekankan bahwa akseptor ajar ialah pemegang tugas dalam proses keseluruhan kegiatan pembelajaran, sedangkan pendidik berfungsi untuk memfasilitasi penerima asuh dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Strategi pembelajaran yang berpusat pada penerima didik mempunyai beberapa cirri. Ciri tersebut ialah bahwa pembelajaran menitikberatkan pada keaktifan akseptor asuh, aktivitas berguru dilaksanakan secara kritis dan analitik, motivasi mencar ilmu relative tinggi, pendidik cuma berperan sebagai pembantu (fasilitator) akseptor didik dalam melaksanakan aktivitas berguru, membutuhkan waktu yang memadai (relative usang), dan memerlukan tunjangan sarana mencar ilmu yang lengkap. Ciri yang lain ialah bahwa strategi pembelajaran ini akan cocok untuk pembelajaran lanjutan ihwal desain yang sudah dipelajari sebelumnya, berguru dari pengalaman akseptor asuh dalam kehidupannya, dan untuk pemecahan problem yang dihadapi bersama dalam kehidupan.

Strategi pembalajaran ini mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Keunggulannya yakni pertama, peserta asuh akan mampu mencicipi bahwa pembelajaran menjadi miliknya sendiri alasannya adalah penerima ajar diberi kesempatan yang luas untuk berpartisipasi. Kedua, penerima latih memiliki motivasi yang besar lengan berkuasa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Ketiga, tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk saling berguru-membelajarkan di antara akseptor didik. Keempat, mampu memperbesar wawasan anggapan dan pengetahuan bagi pendidik alasannya sesuatu yang dialami dan disampaikan penerima bimbing mungkin belum dikenali sebelumnya oleh pendidik.

Adapun kelemahannya antara lain:
  • membutuhkan waktu yang relative lebih usang dari waktu pembelajaran yang sudah ditetapkan sebelumnya,
  • aktivitas dan pembelajaran cenderung akan didominasi oleh penerima didik yang biasa atau bahagia mengatakan sehingga peserta bimbing yang lain lebih banyak mengikuti jalan anggapan penerima bimbing yang bahagia berbicara,
  • pembicaraan dapat menyimpang dari arah pembelajaran yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan terhadap pentingnya acara pendidik dalam mengajar atau membelajarkan penerima ajar. Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses serta hasil pembelajaran dikerjakan dan dikendalikan oleh pendidik sedangkan akseptor ajar berperan sebagai pengikut kegiatan yang ditampilkan oleh pendidik.


D. TAHAP- TAHAP BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK- KANAK

Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain tugas yang mampu dijadikan aliran dalam pembelajaran:

  • menghangatkan suasana dan memotivasi peserta ajar, Dalam halini guru hendaknya memperlihatkan anak banyak sekali motivasi atau dorongan yang mengarah pada apa yang akan anak- anak perankan.
  • memilih partisipan/peran, Dalam bab ini anak dipersilahkan memilih peran apa yang akan dia perankan. Gurupun juga mesti memberi tutorial terhadap anak bagaimana beliau memerankan tokoh yang beliau pilih
  •  menyusun tahap-tahap tugas, 
  • mempersiapkan pengamat,
  • pemeranan,
  • diskusi dan evaluasi,
  • pemeranan ulang,
  • diskusi dan evaluasi tahap dua,
  • membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan.

Kesembilan tahap tersebut diterangkan selaku berikut

Menghangatkan situasi kalangan tergolong mengirimkan peserta bimbing kepada problem pembelajaran yang perlu dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dilema, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi info-berita, serta menerangkan tugas yang hendak dimainkan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta bimbing, supaya mampu mencicipi duduk perkara itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki kehendak untuk mengetahui bagaimana duduk perkara yang hangat dan actual, pribadi menyangkut kehidupan akseptor latih, menarik dan merangsang rasa ingin tahu penerima asuh, serta memungkinkan banyak sekali alternative pemecahan. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi akseptor didik agar terpesona pada persoalan sebab itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling memilih keberhasilan. Bermain peran akan sukses jika akseptor ajar meletakkan minat dan mengamati persoalan yang diajukan guru.

Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini akseptor asuh dan guru mendeskripsikan banyak sekali etika atau abjad, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para penerima asuh diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemain drama. Jika para penerima bimbing tidak menyambut usulan tersebut, guru dapat menunjuk salah seorang akseptor asuh yang layak dan bisa memerankan posisi tertentu.


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, kami mampu mengambil beberapa kesimpulan selaku berikut :
  • Bahwa bermain tugas itu dapat dipakai sebagai sebuah cara atau sistem untuk mengenalkan anak bersosialisasi dalam pembelajaran di kelas
  • Bahwa tata cara bermain tugas ini dapat menciptakan anak merasa senang dalam melakukan sebuah pembelajaran


DAFTAR PUSTAKA
  • Sudjana S., D. 2001. Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.
  • Tilaar, H.A.R. 1994. Manajemen Pendidikan Nasional, Kajian Pendidikan Masa Depan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Makalah Tata Cara Observasi Eksperimen

Makalah Metode Penelitian Eksperimen
Oleh : Nurprapti Wahyu Widyastuti


A. Pengertian Eksperimen

Metode eksperimen ditujukan untuk meneliti korelasi alasannya balasan dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel pada satu (atau lebih) golongan eksperimental, dan membandingkan kesannya dengan kalangan kontrol yang tidak mengalami manipulasi. Manipulasi bermakna mengubah secara sistematis sifat-sifat (nilai-nilai) variabel bebas. Setelah dimanipulasikan, variabel bebas itu umumnya disebut garapan (treatment).

Untuk meneliti imbas adegan kekerasan dalam televisi pada sifat bergairah anak, kita mampu memberikan dua macam program televisi. Kepada satu kalangan dipertunjukkan program yang sarat adegan kekerasan, seperti membunuh, menghantam, menghancurkan dan sebagainya. Kepada kelompok lain kita suguhkan program ringan, seperti rekreasi, atau komedi. Kelompok pertama disebut kalangan eksperimental, yang kedua kalangan kontrol. Adegan kekerasan kita sebut garapan, alasannya golongan eksperimen kita garap dengan variabel yang kita manipulasikan. Katakanlah, agresi anak diukur dengan mengamati tingkah laris mereka sesudah menonton program televisi tersebut dalam masa tertentu. Terbukti, contohnya, bahwa anak yang terbuka (exposed) pada adegan kekerasan lebih berangasan dari kelompok anak lainnya.

Penelitian eksperimen dalam kenyataannya tidak sesederhana itu. Peneliti harus memperlihatkan, apakah tidak ada variabel luar yang berpartisipasi menjadikan efek. Misalnya, secara kebetulan pada golongan eksperimen terdapat lebih banyak anak yang mengalami putus asa dalam keluarganya. Frustasi mungkin yang menjadi alasannya, dan bukan adegan kekerasan.

Karena itu, sedapat mungkin peneliti mengusahakan agar perbedaan hasil pengamatan itu tidak disebabkan oleh hal-hal lain kecuali variabel bebas yang diteliti. Upaya ini disebut control.


B. Tujuan Penelitian Eksperimen

Tujuan dari penelitian eksperimental ialah untuk menilik ada-tidaknya kekerabatan sebab akibat serta berapa besar hubungan alasannya adalah akibat tersebut dengan cara menawarkan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kalangan eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian eksperimental dapat mengubah teori-teori yang sudah usang. Percobaan-percobaan dikerjakan untuk menguji hipotesa serta untuk menemukan hubungan-korelasi kausal yang gres. Tetapi, walaupun hipotesa telah diuji dengan tata cara percobaan, tetapi penerimaan itu atau penolakan hipotesa bukanlah merupakan penemuan sebuah kebenaran yang mutlak. Eksperimentasi atau percobaan bukanlah merupakan titik simpulan atau tujuan yang dikehendaki dalam penelitian. Eksperimen cuma merupakan suatu cara untuk meraih tujuan. Karena itu, maka kerap kali ada kritik-kritik kepada metode eksperimen karena interpretasi yang salah dari hasil percobaan, atau alasannya salahnya perkiraan yang dipakai ataupun sebab desain eksperimen yang kurang sempurna.

  • Pengertian Kontrol

Secara singkat, eksperimen ditandai tiga hal: (1) manipulasi – mengubah secara sistematis keadaan tertentu, (2) observasi – mengamati dan mengganti hasil manipulasi, dan (3) kendali – mengontrol kondisi-keadaan observasi ketika berlangsungnya manipulasi. Kontrol merupakan kunci penelitian eksperimental karena, tanpa kendali, manipulasi dan observasi akan menciptakan data yang confounding (mewaspadai).

Kondisi observasi yang ideal terjadi jikalau semua hasil observasi pada variabel tak bebas disebabkan oleh variabel bebas. Dengan mengendalikan kondisi observasi, kita mengusahakan supaya kombinasi skor pada variabel tak bebas betul-betul merupakan akibat variabel bebas.

Variasi skor pada variabel bebas lazimnya disebut ragam (variace). Ada tiga macam ragam: ragam pertama – ragam yang ditimbulkan oleh variabel bebas (ragam yang dikehendaki oleh peneliti); ragam kedua – ragam yang muncul sebab variabel luar yang secara sistematis mensugesti hasil eksperimen (ragam luar tidak diinginkan); dan ragam galat (error variance) – ragam yang timbul karena aspek-aspek tertentu, mirip alat ukur atau mekanisme penelitian yang mengakibatkan pengamatan yang tidak konsisten. Tugas pelaku eksperimen yaitu mengendalikan kondisi sehingga ia menemukan data yang terperinci menunjukkan kekerabatan antara variabel bebas dan variabel tak bebas. Ini dijalankan dengan (1) mempertinggi ragam pertama, (2) meminimalisir ragam galat atau ragam acak, dan (3) menertibkan ragam kedua (Kerlinger, 1977: 306). Inilah hakikatnya yang disebut prosedur kendali.

  • Prosedur Kontrol

Dalam eksperimen, kita berharap variabel eksperimental yang menyebabkan ragam dalam skor. Karena itu, wajar jikalau perbedaan diantara kondisi eksperimental dan keadaan kendali diusahakan sejauh mungkin. Misalnya kita ingin meneliti apakah tikus yang lapar lebih singkat berguru dengan diberi upah makanan daripada tikus yang kenyang. Untuk itu kalangan 1 harus diusahakan dalam kondisi hampir kenyang, dan kalangan 2 dalam kondisi yang betul-betul lapar. Ini dibutuhkan menciptakan skor yang benar-benarberlainan. Bila tingkat kelaparan itu cuma berbeda sedikit saja, kemungkinan perbedaan ragam diantara kedua golongan itu akan sedikit pula. Inilah prosedur kontrol pertama.

Prosedur kontrol yang kedua ialah meminimalkan galat. Ragam galat yang timbul alasannya adalah kekeliruan dalam pengukuran tentu tertuntaskan dengan selalu mempertinggi reliabilitas pengukuran. Dalam observasi sosial, ini berarti mempertegas batasan konstruk yang diteliti. Untuk mengukur partisipasi dalam kalangan, indikator partisipasi harus tegas tujukan dan mesti secara konsisten dipergunakan. Cara lain untuk meminimalkan ragam galat adalah menambah jumlah sampel. Bila besarnya sampel memadai, efek faktor kebetulan mampu dihilangkan.

Prosedur kendali yang ketiga ialah mengatur ragam kedua. Seperti sudah disebutkan dimuka, ragam kedua yaitu ragam yang ditimbulkan oleh variabel luar (atau variabel sekunder) diluar variabel bebas. Seorang peneliti ingin mengenali dampak berbagai jenis media pada pengetahuan dan perilaku para siswa. Makara, dia membagi para siswa menjadi empat golongan sesuai dengan media komunikasi yang dipergunakan: kelompok video, golongan slides, golongan pita rekaman, dan kalangan ceramah.

Setiap kelompok menerima penjelasan – melalui media masing-masing – wacana ilmu komunikasi. Sesudah itu responden diukur dalam pengetahuan-nya perihal ilmu komunikasi dan sikapnya (senang atau tidak senangnya) kepada ilmu komunikasi.

Sebelum observasi dilanjutkan, peneliti harus merenung dahulu (bisa sebentar, bisa usang). Ia, contohnya, ingat berapa hal: kecerdasan siswa, pengetahuan sebelumnya perihal komunikasi, latar belakang sosial ekonomi. Andaikan kalangan video ternyata mempunyai skor tertinggi dalam pengetahuan. Dapatkah kita diyakinkan bahwa skor tersebut disebabkan oleh penggunaan video? Siapa tahu, golongan video ternyata berisikan siswa-siswa yang pintar. Siapa tahu, mereka sudah pernah mendengar atau membaca ilmu komunikasi sebelumnya. Siapa Tahu, mereka berasal dari latar belakang sosioekonomi yang tidak asing dengan dunia komunikasi. Sekarang, bagaimana caranya biar “siapa tahu” ini mampu dibungkam – secara ilmiah, pastinya. (Pembungkaman dengan kekuasaan yaitu lawan ilmuwan atau ilmuwan adalah lawan kekuasaan!)

Ada lima cara untuk – sekali lagi, secara ilmiah – mendiamkan pertanyaan-pertanyaan usil di atas: (1) eliminasi, (2) konstansi, (3) randomisasi, (4) variabel bebas kedua, dan (5) kendali statistik. Eliminasi yakni menyingkirkan variabel luar sama sekali, dengan mengusahakan biar subjek-subjek bersifat sehomogen mungkin dalam variabel tersebut. Pada pola penelitian di atas, peneliti hanya mengambil para siswa yang tingkat IQ-nya berkisar antara 100-110. Siswa-siswa yang mempunyai IQ di atas atau di bawah itu dikeluarkan dari sampel. Sayangnya, cara ini sering lebih yummy diucapkan ketimbang dikerjakan. Lagipula, kita tidak dapat menggeneralisasikan penelitian terhadap para siswa lainnya. Nanti kita hanya dapat berkata: Video yakni media yang paling kuat pada siswa-siswa yang pandai. Pada siswa-siswa yang kurang pandai bagaimana? Jawabannya pendek: Tidak tahu!

Akhirnya peneliti menentukan mengikutsertakan siswa-siswa dengan latar belakang IQ yang bermacam-macam. (Mungkin peneliti menggumamkan sila kelima: keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.) Tetapi, bagaimana caranya menertibkan variabel kecerdasan? Konstansi. Disini kita mengusahakan supaya rata-rata kecerdasan keempat kelompok itu tidak berlainan. Yang kita kerjakan adalah menjodohkan (matching) atau mengeblok (blocking). Agar tidak menjemukan dan untuk memudahkan, kita gunakan teladan yang lain. Peneliti ingin mengenali teknik persuasi mana yang paling efektif untuk mengubah sikap. Siswa dibagi ke dalam dua golongan: kelolmpok I dipersuasi dengan imbauan takut (fear appeals), kalangan II dipersuasi tanpa imbauan takut. Ada dua puluh orang subjek dengan skor IQ yang berkisar antara 128 dan 86. Skor IQ mereka diperingatkan dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Dengan memakai uang receh Rp 100,00 Anda memasukkan setiap siswa ke dalam kelompoknya. Bila yang tampak gambar burung, siswa pertama masuk ke dalam kalangan I dan siswa kedua tentu masuk ke dalam golongan II. Bila yang terlihat abjad, siswa pertama masuk ke dalam kelompok II dan siswa kedua pasti masuk ke dalam kalangan I. Begitulah seterusnya sehingga siswa-siswa terbagi merata ke dalam kedua kalangan.

Kelompok I Kelompok II

127
121
113
__ _ _ _ _
86

Perlu dimengerti bahwa cara menjodohkan ini tidak menetralisir efek IQ, namun hanya menyebarkan secara merata di antara kedua kalangan sehingga perbedaan para variabel terikat di antara kedua kalangan tidak disebabkan oleh variabel IQ. Pada eliminasi, efek variabel IQ itu sama sekali dihilangkan.

Bila variabel kedua tidak dapat dieliminasi dan tidak dapat didistribusikan secara merata dengan cara menjodohkan atau mengeblok, kita melakukan randomisasi. Randomisasi berarti memilih subjek secara random, mengelompokkannya secara random dan mengenakan garapan (treatment) secara random pula. Bila randomisasi dijalankan secara sempurna, maka kalangan-kalangan yang diteliti secara statistik sama dalam banyak sekali karakteristiknya. Variabel latar belakang sosial ekonomi – karena sukar dieliminasi atau dijodohkan – dapat kita samakan dengan randomisasi. Menurut mahir-andal statistik, responden yang dipilih secara random akan memberikan sebaran distribusi yang wajar . Bila Anda adalah peneliti mahasiswa yang mesti meneliti mahasiswi, tanpa randomisasi Anda akan cenderung meneliti mahasiswi-mahasiswi yang anggun saja. Subjek-subjek Anda menyebar secara “menceng” (skewed). Soalnya, Anda tidak lagi meneliti, namun ngeceng (Maaf!). Kalau Anda memilih subjek secara random, Anda akan mendapatkan dalam sampel Anda sedikit yang elok, sedikit yang buruk, dan kebanyakan rata-rata.

Seringkali variabel kedua itu tidak mampu kita atasi – dengan eliminasi, menjodohkan atau randomisasi. Dalam keadaan begitu, kita mesti menyebabkan variabel kedua itu variabel bebas kedua. Apalagi bila secara teoretis variabel kedua itu memang menjadi variabel penyebab yang penting. Misalnya, kita ingin meneliti imbas film kekerasan pada tingkat aksi belum dewasa. Setelah kita mengontrol beragam variabel kedua, kita ternyata masih memiliki variabel kedua yang belum terkontrol -–adalah jenis kelamin. Secara teoretis, laki-laki diduga lebih bergairah dibandingkan dengan perempuan. Karena itu, kita jadikan jenis kelamin sebagai variabel bebas kedua. Semula kita mempunyai dua kalangan saja: golongan yang menonton film kekerasan dan yang tidak menonton film kekerasan. Sekarang, kita mempunyai empat kalangan: kelompok I (pria, menonton film kekerasan), kelompok II (laki-laki, tidak menonton film kekerasan), golongan III (wanita, menonton film kekerasan), kelompok IV (wanita, tidak menonton film kekerasan).

Adakalanya setelah berjalan observasi, didapatkan ada variabel kedua yang tidak terkontrol atau semenjak semula variabel itu tidak mampu dikontrol dengan cara-cara di atas. Untuk mengatasinya kita melakukan kendali statistik, yakni pengendalian dengan memakai “kiat” statistik. Salah satu cara yang mudah untuk itu ialah analisis kovarians. Pada teladan kita yang pertama – imbas media pengetahuan dan perilaku – peneliti menemukan bahwa semua kelompok, kecuali kelompok video, menawarkan rata-rata skor yang serupa dalam pre-test (prauji) wawasan komunikasi. Karena kolompok video menawarkan rata-rata skor yang lebih rendah, perbedaan antara kalompok video dengan kalangan-golongan yang lain kita perhitungkan dalam menghitung perbedaan skor pengetahuan pada pottest (pascauji).

Tidak mungkin di sini diuraikan analisis kovarians. Anda dapat membacanya dalam buku-buku statistik. Tetapi – sekedar menunjukkan citra – aku ambil teladan yang sederhana. Kita ingin membandingkan imbas dua tata cara komunikasi instruksional dalam mengajarkan matematika – metode konvensional dan sistem CBSA (cara belajar siswa aktif). Pascauji matematika siswa ternyata memberikan rata-rata yang berbeda. Kelas konvensional menciptakan rata-rata skor matematika 60 dan kelas CBSA memiliki rata-rata skor matematika 80. Akan tetapi, dalam prauji kita ketahui bahwa rata-rata IQ kelas konvensional adalah 90, dan rata-rata IQ kelas CBSA sama dengan 100. Oleh sebab itu, kita harus menyesuaikan rata-rata skor matematika kelas CBSA dengan rata-rata skor matematika kelas konvensional. Penyesuian ini dilaksanakan dengan menggunakan perbandingan antara rata-rata IQ kedua kelas tersebut. Sebelum pembiasaan, yang kita bandingkan adalah perbedaan antara 80 dan 60. Karena perbandingan rata-rata IQ adalah 90 : 100, maka skor matematika kelas CBSA kita sesuaikan. Rata-rata skor matematika kelas CBSA tidak lagi 80, tetapi 90/100 x 80 = 72. Kaprikornus, yang kita perbandingkan dan kita uji perbedaannya secara statistik adalah angka rata-rata 72 dan 60 (bukan lagi 80 dan 60).

Secara singkat ada lima cara untuk mengontrol variabel kedua: eliminasi, konstansi, randomisasi, variabel bebas kedua, dan kontrol statistik. Kelima cara itu menentukan rancangan penelitian eksperimental.


C. Langkah-langkah Eksperimen

Kempthorne (1962) memperlihatkan langkah-langkah dalam menyiapkan eksperimen selaku berikut:
  1. Rumusan persoalan.

  2. Formulasikan hipotesa.

  3. Pengaturan teknik serta rancangan eksperimen.

Penyelidikan atas kemungkinan-kemungkinan hasil yang diperoleh dari percobaan dan menghubungkan kembali terhadap alasan-alasan mengapa percobaan harus dikerjakan. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan bahwa eksperimen-eksperimen yang akan dikerjakan sungguh-sungguh akan menunjukkan keterangan-informasi yang diharapkan.

Memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap teknik dan prosedur statistik yang akan dipakai untuk meyakinkan bahwa kondisi yang diharapkan untuk memakai teknik di atas cukup valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

  1. Laksanakan percobaan.

  2. Aplikasikan teknik statistik tehadap eksperimen tersebut.

Tarik kesimpulan dari estimasi-estimasi yang diperoleh serta dari tiap kuantitas yang diperoleh serta dari tiap kuantitas yang dievaluasikan dengan ukuran-ukuran reliabilitas yang umum dipakai. Pertimbangan secara hati-hati validitas dari kesimpulan serta pada populasi mana kesimpulan tersebut ingin diinferensikan.

Berikan evaluasi kepada seluruh penelitian dan bandingkan dengan eksperimen-eksperimen lain yang telah dijalankan dengan masalah yang serupa atau hampir serupa.


D. Desain Eksperimen

Desain eksperimen yaitu step-step atau langkah yang utuh dan berurutan yang dibuat lebih dahulu sehingga keterangan yang ingin diperoleh dari eksperimen akan memiliki hubungan yang positif dengan problem observasi. Dengan adanya rancangan eksperimen ,maka iman akan diperoleh data yang tepat serta dapat dianalisa secara objektif makin bertambah, dan inferensi yang vailid kepada populasi yang diharapkan akan terjamin diperoleh. Karena desain eksperimen diperlukan untuk sedapat mungkin memaksimumkan dan menemukan informasi-informasi yang berafiliasi dengan persoalan penelitian, maka rancangan eksperimen harus sederhana, efesien, serta efektif, sesuai dengan waktu, duit, tenaga kerja serta material yang dipakai dalam eksperimen tersebut. Ciri-ciri eksperimen yang baik yakni selaku berikut:

Desain yang baik mampu memaksimisasikan variance dari variabel-variabel yang berhubungan dengan hipotesa yang ingin di uji, serta dapat meminisasikan variance dari variabel penggangu serta variabel yang berada di luar penelitian. Hal tersebut dapat dilakukan dengan adanya randomisasi terhadap perlakuan serta replikasi.

Desain yang baik mesti mampu menjawab dua pertanyaan pokok, yakni validitas internal, atau apakah manipulasi eksperimen memang sungguh-sungguh menimbulkan perbedaan, dan kedua, validitas eksternal, atau hingga berapa jauh penemuan-penemuan eksperimen cukup representatif untuk dibuat generalisasi pada keadaan yang sejenis.

Desain yang bagus, secara simultan dapat menawarkan informasi tentang imbas variabel perlakuan, variasi yang berkaitan dengan variabel yang dipakai untuk menciptakan penjabaran serta mampu diketahui interaksi antara kombinasi variabel bebas dan/atau variabel-variabel yang dipakai untuk menciptakan klasifikasi tertentu.

Dengan adanya desain yang baik, maka variabel-variabel yang relevan mampu dikelola. Tetapi dengan adanya manipulasi serta pengontrolan tersebut, keadaan menjadi imitasi. Jika tata cara eksperimen ini dijalankan kepada barang hidup, lebih-lebih insan, maka pembatasan-pembatasan imitasi ini merupakan kelemahan dari sistem eksperimen.


E. Melaksanakan Eksperimen

Setelah perencanaan berakhir, dan desain yang tepat telah terpilih, maka tibalah saatnya untuk melaksanakan eksperimen. Hal yang pertama-tama perlu diamati dalam pelaksanaan eksperimen, adalah pengenalan terhadap material yang digunakan dalam eksperimen. Jika material yang dipakai cukup banyak, ,maka diharapkan adanya check list dari material yang digunakan. Jika digunakan bahan-bahan kimia, maka mesti terang dicatat sumber, furifikasi, grading dari materi-bahan tersebut. Misalnya, bila dalam perlakuan dipakai insektisida, maka perlu diterangkan apakah insektisida tersebut dalam formulasi tertentu mirip 50 WP, 20 e.c. dan sebagainya.

Pengamatan terhadap performance eksperimen harus dilakukan secara periodik sesuia dengan jadwal yang sudah dikontrol. Adanya kelainan-kelainan harus dicatat serta dilaksanakan pengukuran-pengukuran. Observasi mesti dilaksanakan dengan teliti, di samping menggunakan indera mata, maka gunakan tangan dan otak. Dalam observasi, maka diperlukan satu buku catatan, ,yang dinamakan record book. Data yang dibutuhkan segera dimasukkan dalam record book tersebut pada waktu observasi dilakukan. Jangan lakukan penundaan catatan dengan mempercayai kenangan. Hindarkan mencatat sementara di lembaran-lembaran lepas yang kemudian akan dimasukkan dalam record book. Tiap entry, mesti diberi tanggal yang jelas.

Buku catatan berisi kolom-kolom dengan tolok ukur yang diperlukan dalam observasi. Selain kolom-kolom untuk mengisi data kuantitatif dari pengukuran, maka harus ada kolom kawasan catatan kualitatif perihal performance eksperimen. Dalam menggambarkan sifat-sifat kualitatif, maka gunakan kata-kata dan kalimat yang terperinci dan gampang diketahui. Jika perlu dibentuk denah, diagram dan lain-lain, maka lukisan, denah serta diagram harus terang. Observasi menghendaki ketabahan. Pengamatan yang buru-buru tidak ada gunanya sama sekali.

Data mesti dimasukkan dalam record book dalam bentuknya yang paling primer, dan jangan data yang sudah diadakan kalkulasi atau transformasi.

Suksesnya eksperimen tidak saja tergantung pada sumber fisik, tetapi juga dari sumber insan itu sendiri. Masalah perilaku, kecepatan melakukan pekerjaan , semangat, dogma terhadap diri-sendiri sungguh mensugesti kesuksesan eksperimen. Dua sifat penting dari tiap peneliti yaitu sifat yakin kepada diri sendiri dan sifat antusias. Kesungguhan bekerja sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri sendiri, di samping perlunya dorongan serta bimbingan dari atasan ataupun dari pembimbing penelitian. Antusian ialah produk dari keadaan lingkungan.

Kekurangan dengan bekerja secara team work antara lain banyak terbuangnya man-hour, sulit mendapatkan co-worker yang simpatik, dan dapat mengurangi iman mampu berdiri diatas kaki sendiri serta mempunyai kecenderungan terhadap ketergantungan kepada kawan.


Syarat-syarat Percobaan yang Baik

Beberapa syarat yang mesti dipenuhi oleh suatu eksperimen yang memenuhi syarat. Syarat-syarat pokok antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Eksperimen harus bebas dari bias.

  2. Eksperimen mesti punya ukuran kepada error.

  3. Eksperimen harus punya ketetapan.

  4. Tujuan mesti didefinisikan sejelas-jelasnya.

  5. Eksperimen mesti punya jangkauan yang cukup.

8.a Eksperimen harus bebas dari bias

Eksperimen mesti sedemikian rupa dijadwalkan sehingga tidak bias. Ketidakbiasan

Suatu eksperimen mampu dijamin dengan adanya desain yang baik. Secara garis besar, adanya randomisasi meminimalkan sifat bias dari eksperimen.

8.b Harus ada ukuran terhadap error

Dengan adanya desain yang baik, maka error mampu diukur. Dalam ungkapan desain eksperimen error tidak sama artinya dengan kesalahan. Yang dimaksud dengan error adalah semua variasi ekstra, yang juga menghipnotis hasil di samping imbas perlakuan-perlakuan. Dengan adanya ukuran error, maka eksperimen menjadi objektif sifatnya. Ukuran error ini bergantung pada rancangan eksperimen yang diseleksi.

8.c Eksperimen harus punya ketepatan.

Eksperimen mesti dikerjakan dengan desain yang dapat memperbesar ketepatan. Ketepatan mampu terjamin bila error teknis mampu dihilangkan dan adanya replikasi pada eksperimen. Ketepatan atau presisi dapat ditingkatkan kalau error teknis, mirip kurang akuratnya alat penimbang, kurang baiknya dalam menggunakan meteran, dan sebagainya, maka jumlah replikasi dapat memperbesar ketetapan eksperimen.

8.d Tujuan eksperimen harus jelas.

Sering kita lihat bahwa eksperimen-eksperimen yang dijalankan oleh peneliti-peneliti muda kurang terang tujuan eksperimennya. Tujuan eksperimen dengan menyampaikan “…bermaksud untuk membandingkan perlakuan A dengan perlakuan B,” dan seterusnya, ialah kurang terperinci. Tujuan eksperimen harus dibuat sejelas-jelasnya, ditambah dengan argumentasi-alasan yang besar lengan berkuasa mengapa memilih perlakuan demikian. Pada keadaan mana balasannya akan diaplikasikan serta pada daerah ilmu mana sasaran observasi tersebut ingin diterapkan. Tujuan eksperimen didefinisikan dan mampu dituangkan dalam hipotesa-hipotesa nol yang akan dikembangkan.

8.e Eksperimen mesti punya jangkauan yang cukup

Tiap eksperimen mesti memiliki jangkauan atau skope yang cukup sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk lebih memperjelas pengertian jangkauan atau skope, marilah kita lihat ekesperimen berikut ini. Seorang peneliti ingin melihat pengaruh menawarkan susu pada anak lembu. Peneliti akan melakukan eksperimen. Timbul pertanyaan. Sampai umur berapa kita sebutkan lembu sebagai anak lembu.Sampai umur 3 bulan. Sampai umur 5 bulan. Sampai umur di mana anak lembu berhenti menyusui? Pemilihan umur anak lembu yang mau dicoba dalam observasi tersebut adalah jangkauan dari eksperimen. Yang telah terang, jangkauan atau skope dari eksperimen di atas adalah kecil, karena si peneliti hanya memperhatikan satu stage saja dari seluruh pertumbuhan lembu sampai lembu tersebut mati. Skope penelitian mesti sesuia dengan tujuan observasi. Apakah eksperimen cuma dilaksanakan untuk bibit satu tumbuhan uuntuk menyaksikan daya kecambahnya, ataukah hingga flora tersebut berbuah? Dan sebagainya. Skope dari eksperimen sangat penting artinya untuk keperluan menyelenggarakan perulangan eksperimen sehingga satu faktor telah kita atur konstan. Tetapi pada sampaumur ini dengan adanya teknik eksperimen faktiorial, pengulangan eksperimen telah dapat dikerjakan secara simultan. Misalnya kalau ingin diuji imbas dua jenis pupuk dengan level yang berlawanan, maka peneliti tidak perlu membuat dua eksperimen, ialah eksperimen pertama untuk membandingkan level pupuk pertama, dan percobaan kedua untuk membandingkan level pupuk yan lain. Tetapi dapat dibuat satu eksperimen dengan kombinasi jenis pupuk dan level pemupukan denga eksperimen faktorial.


F. Jenis-jenis Metode Eksperimen

Eksperimen banyak ragamnya. Ada yang dinamakan eksperimen absolut, dimana eksperimen digunakan untuk menyelenggarakan estimasi kepada sebuah set pengamatan dengan hasil yang memiliki reliabilitas yang tinggi. Misalnya eksperimen untuk memilih muatan dari dari satu elektron. Dengan mengulang-ngulang eksperimen maka walaupun hasil observasi tidak sama, tetapi dengan rancangan dan teknik yang sepadan. Peneliti dapat mampu menyelenggarakan estimasiterhadap muatan elektron tersebut. Di lain pihak ada eksperimen yang dikerjakan dengan menyelenggarakan perbandingan. Ini dinamakan eksperimen perbandingan (comparative experiment). Dalam hal ini, dijalankan sebuah eksperimen dengan membandingkan perlakuan-perlakuan dan membendingkan dampak perlakuan-perlakuan tersebut terhadap satu populasi yang dipilih.


DAFTAR PUSTAKA
  • Anders Hansen, Simon Cottle, Ralph Negrine, and Chris Newbold. Mass Communication Research Methods. Macmillan Press LTD. England. 1998.
  • Malo, Manase, Prof., Dr. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka, 1998.
  • Nazir, Mohammad. Ph.D. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia Jakarta. 1988.
  • Neuman, W. Laurence. Social Research Methods, Qualitatif & Quantitatif Approache. Allyn & Bacon. USA. 1997.
  • Rakhmat, Jalaluddin, Drs., M.Sc. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya – Bandung 2002.
  • Rangkuti, Freddy. Riset Pemasaran. Gramedia Pstaka Utama. Jakarta. 1997.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com